RSS

Ramadhan Bersimbah Berdarah (Mengenang Subuh Jahanam)

29 Agu

Ramadhan Bersimbah Berdarah

(Mengenang Subuh Jahanam)

Oleh: Yayan Sopyani Al- Hadi

00000

Ramadhan tahun ke-1431 Hijrah. Umat Islam di berbagai belahan dunia melakukan ibadah puasa. Namun di bulan suci ini, ada peristiwa yang sedikit terlupakan dari lembaran sejarah kelam umat Islam. Banyak yang ingat dan mengenang peristiwa tersebut. Namun lebih banyak yang lupa dan mengabaikan. Ada yang tahu tragedi tersebut, tapi lebih banyak yang tidak tahu dan pura-pura tidak tahu. Waktu itu, 1391 tahun yang lalu dari hitungan kalender hijriyah, masjid bersimbah darah.

*****

Dini hari, 19 Ramadhan tahun ke-40 dari Hijrah.

Hari masih diselimuti gelap dan cahaya separuh bulan usai purnama ibarat redup ditelan kelam. Samar, langit Kufah memerah laksana hendak mengabarkan duka yang tidak terkira. Dari kejauhan kedipan bintang menjadi tanda luka yang dibisikkan masa silam.

Malam tadi memang mencekam. Lolongan serigala seolah saling menyahut dengan dengus nafsu-nafsu wujud manusia yang berhati binatang. Peristiwa satu tahun lalu di Nahrawan masih menyisakan dendam membara dalam hati mereka yang dungu. Kesumat itu dibelai angin gurun dan berarak dengan jiwa-jiwa bengis yang mengalami kekalahan di Sumur Badar, 38 tahun lalu.

Hati yang dungu dan jiwa yang bengis memang tidak menyatu. Bagi si Bengis, si Dungu juga musuh yang layak untuk dibantai. Bagi si Dungu, si Bengis juga binatang yang wajib dihabisi. Dalam nafsu dan ambisi masing-masing, mereka memiliki kesamaan: hendak menggelar kudeta.

Dini hari, di tengah rencana kudeta para manusia bebal, diam-diam, angin Kufah terus berdesir hingga menyelinap ke rumah yang dihuni kekasih Allah SWT. Dalam rumah itu, seorang tua yang berumur 63 tahun, tidak ringkih dan renta, tetap tegar dengan dihiasi urat pemberani dan disinari aura mata penuh ilmu dan kebijaksanaan. Sorot matanya sayu karena usai menjumpai kekasihnya, Sang Penguasa Alam Semesta. Memang, badan kekar yang disegani para ksatria di segala penjuru padang pasir itu, akan lunglai dan rapuh di hadapan Allah SWT. Itulah sosok Imam Ali bin Abi Thalib.

Baginya, dini hari pada setiap malam, merupakan saat untuk mengungkapan rasa cinta dan kerinduan yang menggelora kepada-Nya. Dengan bibirnya yang indah, beliau mengungkapkan hubungan dirinya dengan Allah SWT, ”Ilahi, aku tidak menyembah-Mu lantaran takut siksa-Mu dan tidak pula berharap akan pahala dari-Mu, tetapi aku menyembah-Mu semata-mata lantaran aku mendapatkan-Mu sebagaimana Dzat yang semestinya disembah.”

Beliau terus mengungkapkan rasa cinta kepada-Nya dengan doa-doa penuh keakraban sambil menunggu waktu Shalat Subuh. Setiap kali datang waktu menjelang Shalat, memang wajahnya selalu nampak pucat dan tubuhnya gemetar. Hal ini menjadi tanda tanya sebagian orang. Hingga dalam satu kesempatan beliau berkata: “Telah datang waktu amanat yang dulu ditawarkan Allah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun mereka menolaknya dan kemudian diterima oleh manusia sekalipun manusia ini lemah. Karena itu, aku tidak tahu apakah aku akan bisa memikul amanat itu dengan baik ataukah tidak.”

*****

Kota Mekkah, 13 Rajab, sebelum peristiwa Hijrah. Atau, 63 tahun sebelum Imam Ali menanti waktu Shalat Subuh, 19 Ramadhan itu.

Kelam yang habis tadi malam, menyisakan sunyi hingga pagi hari. Matahari merona di ufuk timur, membawa tanda-tanda kesadaran untuk bangsa yang diliputi oleh kebodohan. Mereka bukan hanya bodoh dalam keyakinan, tapi juga bodoh dalam pengetahuan. Mayoritas penduduk tidak bisa membaca dan satu-satunya ilmu yang mereka banggakan adalah qiyafah, ilmu mencari dan menelusuri jejak.

Pagi ini, mentari yang memancar menjadi petanda cahaya agung yang bersinar terang 30 tahun lalu akan dilanjutkan. Waktu itu, Tuhan menyelamatkan Mekkah dari serbuan pasukan gajah. Tepat, saat semesta menyambut kehadiran sang pembawa kabar gembira dan sang pemberi peringatan. Berita gembira menyeruak dari bumi hingga penduduk langit, bayi yang diberi nama Muhammad dilahirkan.

Siang ini, 30 tahun setelah kelahiran Muhammad, jejak cahaya itu muncul kembali. Bibi Muhammad yang bernama Fathimah binti Asad sedang khusu’ memutari Ka’bah. Dalam keadaan hamil tua, Fathimah menapaki jejak Ibrahim as dalam thawaf. Hati Fathimah terus berdoa. Lamat-lamat, doa itu menyembul dalam bibir yang bergetar: “Ketahuilah wahai Tuhanku, sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan kepada semua yang datang dari sisi-Mu, yaitu para rasul dan kitab-kitab yang dibawa oleh mereka. Sesungguhnya aku membenarkan seruan kakekku Ibrahim al-Kholil As. Dialah yang membangun kembali Ka’bah yang mulia ini. Aku memohon kepada-Mu, mudahkanlah kelahiran janinku.

Tak lama berselang, pintu Ka’bah terbuka. Fathimah masuk dan bayi yang dinantikan itu lahir di dalam Ka’bah. Sepanjang sejarah Ka’bah, inilah bayi satu-satunya yang lahir di rumah Tuhan.

Dengan gembira, Fathimah menamai bayi yang mungil dan memancarkan cahaya hikmah itu dengan nama Haydar, yang artinya singa. Fatimah berharap, sang singa akan menjadi pemberani dan pembela ajaran Ibrahim as. Sementara suami Fathimah, Abu Thalib, memberi nama kepada anaknya dengan sebutan Zaid. Ketika si bayi dihadapkan kepada sepupunya yang sudah berusia 30 tahun, yaitu Muhammad, dia memberi nama Ali. Nama yang memiliki arti derajat tinggi di sisi Allah.

Muhammad tak sekedar memberi nama. Beliau juga mengasuh Ali dengan sepenuh hati. Bersama istrinya Khadijah, Ali kecil dibesarkan dalam pengayoman Muhammad.

Suatu ketika, salah seorang famili Muhammad, Ibn Abbas pernah bertanya kepada ayahnya: “Ayah, sepupuku Muhammad memiliki banyak anak, yang semuanya meninggal ketika masih kecil, siapa diantara mereka yang paling dicintai?’ Ayahnya menjawab, “Ali bin Abi Thalib.” Aku berkata, “Ayah, yang aku tanyakan tentang anak-anaknya?” Dia menjawab, “Nabi Muhammad SAW mencintai Ali lebih dari mencintai seluruh putranya. Ketika Ali masih kecil, aku tak pernah melihat dia terpisah dari Muhammad barang setengah jam sekalipun, kecuali kalau Nabi SAW bepergian untuk beberapa urusan. Aku tidak pernah melihat seorang ayah mencintai anaknya sebesar Nabi SAW mencintai Ali dan aku tidak pernah melihat seorang anak sedemikian patuh, sedemikian lengket dan mencintai ayahnya seperti Ali mencintai Nabi SAW.”

*****

Ramadhan, sepuluh tahun setelah Ali dilahirkan. Atau, 53 tahun sebelum Imam Ali menanti waktu Shalat Subuh, 19 Ramadhan itu.

Di tengah kebodohan dan keterbalakangan kaum pagan penyembah berhala, Muhammad sering menyendiri dan minta petunjuk dari Allah SWT di Gua Hira, enam kilometer sebelah timur kota Mekkah. Dalam keheningan gua, Muhammad meresapi hakikat alam semesta, merenung secara mendalam dan memohon kepada Allah SWT agar memusnahkan kekafiran, kedzaliman, penindasan, kejahatan, dan kebodohan masyarakat yang disaksikannya tiap hari.

Malam itu, akhirnya Muhammad didatangi malaikat Jibril. Sebagai utusan Allah SWT, Jibril mengabarkan wahyu pertama kepada Muhammad SAW.

Berselang sehari setelah wahyu pertama turun, dua orang langsung mengimani wahyu tersebut. Mereka adalah Khadijah Binti Khuwailid, istri Muhammad SAW, dan sepupunya yang masih berusia 10 tahun, Ali bin Abi Thalib. Dari sinilah lahir kesepakatan umum diantara para sejarawan dan teolog Muslim bahwa Ali tidak pernah menjadi non-Muslim dan tidak pernah sekali pun menyembah berhala. Karenanya, pertanyaan kapan Ali memeluk Islam, tidak akan pernah muncul. Ali sudah berada dalam pangkuan Islam sejak mula wahyu pertama itu dikabarkan.

****

Dua tahun hingga empat tahun kemudian, setelah Rasulullah SAW menerima wahyu. Atau, 51-49 tahun sebelum Imam Ali menanti waktu Shalat Subuh, 19 Ramadhan itu.

Setelah dua tahun Rasulullah SAW mengabarkan wahyu kepada kaum kerabatnya secara sembunyi-sembunyi, kini tiba saatnya beliau diperintahkan Allah SWT untuk menyebarkan sendi-sendi Tauhid ajaran Islam secara terbuka. Di Tahun kedua dari kenabian inilah, barulah beberapa orang memeluk Islam. Diantara mereka adalah Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Ubaidah bin Harits dan Amr bin Naufal.

Namun di sisi lain, sejak dakwah disebarkan secara terbuka itu, Muhammad SAW menjadi bahan cacian, makian, cemoohan, dan penghinaan orang-orang Kafir Quraisy. Diantara para pencaci dan pemaki itu adalah Amr bin Ash. Amr bin Ash sering meletakkan batu-batu di jalan yang dilewati Rasulullah SAW. Ketika Nabi SAW hendak thawaf di Ka’bah, Amr bin Ash menaburkan bebatuan agar Nabi SAW tergelincir.

Amr juga memprovokasi anak-anak Mekkah untuk terlibat dalam memaki Nabi. Tak heran, anak-anak mekah menyanyikan syair kecaman kepada Rasulullah SAW dan mengeraskan suara mereka kepada Nabi SAW ketika melaluinya. Nabi SAW pun berdoa: Ya Allah, sesungguhnya Amr bin Ash telah mencemoohkan aku. Aku bukanlah penyair. Ya Allah, laknatlah dia untuk setiap huruf dengan seribu laknat.”

Ali, yang waktu itu berusia 14 tahun, tidak tinggal diam. Ali bertindak sebagai pengawal dan memenuhi tugas sebagai pembela Nabi SAW. Ali jatuhkan para pemuda pencemooh Rasulullah SAW itu, merobek hidung satu musuh, merontokkan gigi musuh lainnya serta membanting yang lainnya. Bahkan, Ali juga sering bertarung melawan orang-orang yang lebih tua darinya. Dia sendiri sering terluka, tapi dia tidak pernah meninggalkan tugas yang dia pilih sendiri. Selang beberapa hari, Ali dijuluki Qadhim (pembanting). Sejak saat itu, tidak seorang pun berani melempar sesuatu kepada Nabi SAW ketika Ali mendampinginya. Ali pun tidak pernah membiarkan Nabi SAW pergi sendirian.

Kepada semua orang, Rasulullah SAW sering berkata: “Aku dan Ali dari satu pohon. Ali dari aku dan aku dari Ali. Wahai Ali, engkau adalah saudaraku dan sahabatku. Ali menyertai kebenaran dan kebenaran menyertainya. Ali menyertai Al-Quran dan Al-Quran menyertai Ali. Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang hendak memasuki kota ilmu, maka lewatlah melalui pintunya.”

Jika Ali membela Nabi SAW dari rongrongan pencaci, pemaki, dan pengganggu Rasulullah SAW, ayah Ali, Abu Thalib, melindungi Nabi SAW dari rongrongan para pembesar Kafir Quraisy seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan Abu Sufyan.

*****

Abu Thalib, ayah Ali, merupakan pria terhormat. Dia dibesarkan di lingkungan Bani Hasyim yang juga terormat. Ayah Abu Thalib, Abdul Muthalib, adalah orang pertama yang mengasuh Rasulullah SAW setelah ditinggal ibunya, Aminah, dalam usia eman tahun. Setelah Abdul Muthalib tiada, Rasulullah SAW diasuh oleh Abu Thalib dengan penuh kasih sayang dan sepenuh hati.

Setelah Rasulullah SAW menerima wahyu, Abu Thalib merupakan pelindung utama dari keluarga bani Hasyim. Abu Thalib melindungi dan menjaga Rasulullah SAW dari serangan masyarakatnya, yang dikomandoi pemuka Quraiys: Abu Jahal, Abu Lahab, dan Abu Sufyan.

Tentu, semua pembesar Quraisy itu sangat menginginkan agar Abu Thalib binasa. Sebab, selama Abu Thalib masih ada, usaha untuk mengancam dan melakukan aksi kekerasan kepada Muhammad SAW, menjadi hal yang mustahil.

Tahun 619 Masehi, ketika Abu Thalib wafat, Muhammad SAW menamai tahun tersebut sebagai tahun kesedihan, am al-huzni. Sementara Abu Jahal, Abu Lahab, dan Abu Sufyan berpesta pora dalam tumpukan kendi-kendi arak yang tidak terkira. Tawa liar mereka menggonggong bak srigala yang melolong hingga ke penjuru sahara.

*****

13 tahun setelah Kenabian. Atau, 40 tahun sebelum Imam Ali menunggu waktu Shalat Subuh, 19 Ramadhan itu.

Gembong-gembong Quraisy yang dipimpin Abu Jahal, Abu Lahab, dan Abu Sufyan terus menggangu pengikut Rasulullah SAW. Mereka merongrong, memboikot, hingga membunuh para pengikut Rasulullah SAW.

Setelah hijrah ke belahan bumi lain, turunlah perintah Allah SWT kepada Nabi SAW untuk hijrah ke Yatsrib. Di tengah rencana hijrah itu, para pemuka Quraisy menyusun siasat jahat. Mereka mengumpulkan para pemuda Quraiys untuk tujuan yang satu: Membunuh Rasulullah SAW.

Aroma siasat jahat kafir Quraiys tercium hingga ke rumah Rasulullah SAW. Namun, hati Muhammad SAW merasa lega. Pasalnya, seluruh kaum muslim sudah berangkat hijrah ke Yatsrib. Muhammad SAW memang selalu memikirkan ummatnya dibandingkan memikirkan dirinya sendiri.

Kini, yang tersisa menemani Muhammad SAW tinggal seorang diri: dialah Ali bin Abi Thalib. Usia Ali waktu itu 23 tahun. Muhammad SAW menatap wajah sepupunya yang tegar itu. Muhammad SAW tentu saja khawatir. Ali akan menggantikan dirinya untuk tidur di tempat pembaringannya. Artinya, Ali siap untuk menjadi korban para penjagal.

Sementara itu, rumah Muhammad SAW sudah dikepung para pemuda penjagal. Rasulullah SAW masih menatap wajah Imam Ali untuk meneguhkan dirinya dan menyaksikan ketabahan Ali. Ali tidak berkata. Imam Ali hanya tersenyum. Senyuman Imam Ali lakasana senyuman tulus dari Nabi Ismail As tatkala ayahnya, Ibarahim As, mengabarkan berita penyembelihannya. Seperti Ismail, Imam Ali siap dikorbankan untuk membela agama yang dibawa Rasulullah SAW.

Ali As adalah pelita hidayah, kriteria iman dan mizan kebenaran,” kata Rasulullah SAW dalam suatu kesempatan.

Dengan Mukjizat dari Tuhan, para penjagal yang sudah memagari rumah SAW itu terserang kantuk. Di saat itulah, Rasulullah menyelinap keluar. Melalui Gua Tsur, Rasulullah menuju Madinah, sendirian. Setelah perjalanan jauh, ternyata ada orang muslim yang tertinggal di Mekkah. Dialah Abu Bakar. Abu Bakar tidak hijrah bersama Rasulullah sebagaimana digambarkan dalam halaman-halaman buku sejarah. Abu Bakar berusaha menyusul perjalanan Nabi SAW.

Kembali ke rumah Nabi SAW. Rasa kantuk para penjagal mulai memudar. Mata-mata buas mereka kembali menyala. Setelah sadar, mereka menyeruak dan merangsek ke kamar Nabi SAW. Betapa kaget, yang ditemukan bukan Muhammad SAW. Kekagetan mereka semakin bertambah, karena yang terbaring di tempat tidur Rasulullah SAW adalah singa pada pasir. Dialah Imam Ali, si pembanting dan si pemberani, membuat mereka segan meski untuk sekedar menyentuh.

*****

Setelah hamper dua tahun di Madinah, Nabi Muhammad menikahkan Imam Ali dengan puterinya, Fatimah. Meski banyak pemuda yang menyukai Fatimah, Nabi SAW hanya merasa cocok dengan pria cerdas yang pertama beriman kepadanya itu. Nabi SAW tidak akan memberikan wanita suci itu kepada sembarang orang. Untuk Fatimah, Nabi SAW sering berkata: “Fatimah adalah belahan jiwaku. Barang siapa menyakiti Fatimah, maka dia telah menyakitiku,”. Nabi SAW Yakin, Imam Ali yang layak untuk Fatimah. Hal ini tentu membuat sementara orang iri hati.

Dalam pesta pernikahan yang ditaburi wangi bunga dari langit itu, Nabi SAW melantunkan doa:”Semoga Allah memberkahi kalian berdua, memberkahi apa yang ada pada kalian berdua, membuat kalian berbahagia dan mengeluarkan dari kalian keterurunan yang banyak dan baik.”

Kecintaan Rasulullah SAW semakin tumbuh, seiring dengan kelahiran putera-puteri mereka, terutama dengan kelahiran Al Hasan dan Al Husein. Bagi Rasulullah SAW, kedua cucunya tersebut adalah dua permata hati. Lebih dari itu, mereka berdua adalah dua penghulu pemuda surga.

Suatu ketika, Rasulullah keluar rumah dengan menggunakan jubah dari bulu domba. Lalu datang bergantian kepadanya Al Hasan, Al Husein, Fatimah dan Ali. Rasulullah menyelimuti mereka berempat.

Inilah ahl al baitku,” kata Rasulullah SAW.

Apakah aku termasuk ahl bait, tanya Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW.

Engkau tetap berada kebaikan, jawab Rasulullah SAW

Bagi Rasulullah SAW, ahl al-bait itu merupakan kecintaannya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering menunjukkan bukti cinta kepada anak, menantu dan kedua cucunya itu, kepada semua orang. Rasulullah SAW pun meminta kepada ummatnya, untuk selalu mencintai ahl bait-nya. Aku tidak pernah meminta apapun dari kalian, kata Rasulullah SAW suatu ketika. Yang kuminta, lanjutnya, hanyalah kecintaan kalian kepada ahl al-bait-ku.

Suatu waktu, Rasulullah pernah mecari menantu kesayangannya, Ali. Rasulullah tertegun menyaksikan Ali tidur di atas tanah. Sejak saat itu, salah satu panggilan Imam Ali adalah Abu Turab.

*****

Ramadhan tahun ke-2 Hijrah. Atau, 38 tahun sebelum Imam Ali menunggu waktu Shalat Subuh, 19 Ramadhan itu.

Udara padang pasir begitu menyengat. Terik matahari mengeringkan setiap kerongkongan. Debu-debu berhamburan diterpa angin. Sekitar 80 mil dari Madinah, tepatnya di Lembah Badar, dua pasukan yang tidak berimbang sedang berhadapan, saling menunggu genderang perang ditabuh.

Di sebelah barat, sumur Badar dipagari bukit Aqanqal. Dari sana, nampak sekitar 300 pasukan berjajar. Sengatan matahari tak membuat mereka surut. Di paling depan barisan, berdiri tiga komandan perang yang tegap dan gagah. Mereka adalah Muhammad SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Ali bin Abi Thalib. Selain komandan pasukan, bendera kebesaran Islam juga dipegang erat Ali bin Abi Thalib.

Di seberang sana, arah selatan Badar yang bernama Juhfah, tidak kurang dari 900 pasukan mendengus angkuh. Nampak pemimpin pasukan mereka, Abu Jahal, Abu Lahab, dan Abu Sufyan ayah Mu’awiyyah. Mereka berkoar-koar. Bagi mereka, inilah saat yang tepat untuk menghabisi Muhammad SAW dan pengikutnya.

Semua suku Arab akan mendengar bagaimana kita akan maju ke depan dengan segala kemegahan kita. Dan mereka akan mengagumi kita untuk selamanya,” Abu Jahal sesumbar.

Sebagaimana biasa pertempuran di padang pasir, peperangan dimulai dengan duel. Dari arah barat, Muhammad SAW memerintahkan kstaria padang pasir yang masih berumur 25 tahun, Ali bin Abi Thalib untuk maju ke medan laga.Dengan pedang Dzul Fiqar, Ali sang ksatria membabat habis lawannya. Ali dikenang sebagai pangeran dan pahlawan Badar.

Perang dimulai. Kedua pasukan saling melempar panah. Hampir dua jam berlangsung, akhirnya peperangan jadi saksi, pasukan Muhammad SAW meraih kemenangan. Pimpinan pasukan dari arah musuh, Abu Jahal, tewas ditangan Singa semua ksatria, Hamzah, paman Ali dan juga paman Muhammad SAW.

Diam-diam, dari komplotan musuh, ada seseorang yang mensyukuri kematian Abu Jahal. Hatinya yang licik dan busuk membisikan sesuatu. Dengan kematian Abu Jahal, posisinya akan kukuh sebagai satu-satunya pemuka suku Quraisy di Mekkah. Dialah Abu Sufyan, ayah Mu’awiyyah, manusia yang pandai memanfaatkan situasi dan keadaan.

******

Syawal tahun ke- 3 Hijrah. Atau, 37 tahun sebelum Imam Ali menanti waktu Shalat Subuh, 19 Ramadhan itu.

Udara di Bukit Uhud menghembuskan bau anyir darah. Dengan ketinggian 1000 kaki dan jarak empat mil dari Mesjid Nabawi di Madinah, Uhud menebarkan aroma dendam. Dendam yang tersimpan hampir setahun lebih. Di bawah kepemimpinan Abu Sufyan ayah Mu’awiyyah, kaum Kafir Quraisy yang berjumlah 3000 orang siap menyambut kematian Muhammad SAW dan para pengikutnya.

Diantara pasukan Abu Sufyan, ada wanita angkuh dan congkak. Matanya yang tajam penuh kebusukan, menaruh dendam pada Hamzah. Dia bertekad akan meminum darah Hamzah dan memakan jantungnya. Dialah Ikrimah anak Abu Jahal.

Bersama Ikrimah, Abu Sufyan menyusun strategi dan membagi pasukan. Sayap kanan dipimpin oleh Khalid bin Walid, sedangkan Ikrimah memilih sayap kiri. Untuk mengkordinasi pasukan Khalid bin Walid dan Ikrimah, Abu Sufyan memilih si lisan tajam, Amr bin Ash, yang sewaktu di Mekkah sering mencaci Nabi SAW. Sedangkan panji kebesaran Quraisy dipegang oleh Thalhah bin Abi Thalhah.

Di ujung sana, di kaki Bukit Uhud, nampak pasukan muslim yang berjumlah sekitar 700 orang. Sebelah kiri kaki bukit Uhud adalah kaki Bukit Ainan. Dengan jumlah yang sedikit, musuh bisa mengepung dari kaki Bukit Ainan. Untuk itu, Muhammad SAW memerintahkan 50 pasukan pemanah untuk naik ke bukit.

Gunakan panahmu terhadap kavaleri musuh. Jauhkan kavaleri musuh dari belakang kita. Selama kalian tetap di tempat, kita aman. Jangan sekali-kali meninggalkan posisi ini. Jika kalian melihat kami menang, jangan bergabung. Jika melihat kami kalah, jangan datang untuk menolong kami,” tegas Muhammad SAW

Diantara pasukan Muhammad SAW, nampak 14 perempuan tangguh. Mereka memberi minum pasukan. Termasuk didalamnya ada perempuan mulia yang bersuamikan orang mulia. Dalam darahnya mengalir darah Muhammad SAW. Dialah Fathimah Azzahra, istri tercinta Imam Ali bin Abi Thalib. Dengan setia, Fatimah menemani suaminya minum. Dengan setia juga, suami Fatimah ini menemani Muhammad SAW.

Adu duel sebagai tanda akan dimulai peperangan tinggal beberapa saat. Dari pasukan muslim, kembali ke arena sang Singa Padang Pasir, Ali bin Abi Thalib. Dari pihak kafir, Nampak Thalhah bin Abi Thalhah mengibas-ngibaskan panji kebesarannya. Tahu yang akan dihadapinya Ali, mental Thalhah menciut keriput. Namun nafsunya melebihi kemampuanya.

Imam Ali dan Thalhah bertarung. Serangan dari Thalhah berhasil ditangkis Imam Ali. Sementara serangan bertubi-tubi dari pemegang pedang dzul fiqar terus membatasi gerak Thalhah. Thalhah akhirnya terhuyung-huyung dan tersungkur. Dari arah prajurit, teriakan bersahutan agar Imam Ali segera membunuh Thalhah. Namun itulah Imam Ali. Kepada musuhnya yang sudah tidak berdaya, beliau masih menegakan akhlak yang mulia.

Musuh atau bukan musuh, sekarang dia tidak berdaya. Dan aku, tidak bisa menyerang seseorang yang tidak berdaya. Jika dia bisa bertahan biarkan saja dia hidup selagi masih berumur,” kata Imam Ali.

Genderang perang ditabuh. Namun sejarah mencatat, karena keteledoran para pemanah yang turun gunung, pasukan muslim kalah telak. Sebagian pasukan melarikan diri karena kekalahan. Namun, Ali tetap teguh berdiri di depan bersama Muhammad SAW. Ali siap mempertaruhkan nyawanya demi Allah dan agama Muhammad SAW yang dicintainya.

******

Tahun ke-tujuh dari Peristiwa Hijrah. Atau, 33 tahun sebelum Imam Ali menanti waktu Shalat Subuh, 19 Ramadhan itu.

Sudah menjadi tabi’at orang Yahudi untuk melanggar setiap perjanjian. Kali ini, isi perjanjian Hudaibiyah dirobek dan dinjak-injak. Untuk menghadapi kaum Muslim, mereka berlindung di balik benteng Khaibar.

Khaibar begitu kokoh. Tak ada satupun pasukan muslim yang bisa menembus Khaibar. Serangan mereka tidak meninggalkan sisa, kecuali kegagalan. Satu demi satu pasukan muslim kembali dengan tanpa hasil.

Malam diselimuti hawa dingin yang menyengat. Benteng Khaibar masih berdiri kokoh. Kaum Yahudi bersorak-sorai sambil menenggak berbagai minuman. Keangkuhan mereka nyata. Harga diri dan marwah kaum muslim sedang dipertaruhkan.

Dalam keheningan dan semangat yang mulai rapuh, suara Muhammad SAW terdengar. Beliau memecah kebekuan. “Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri. Dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenanganan kepadanya. Allah dan Rasul mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasulnya,” kata Muhammad SAW.

Pasukan bubar untuk kembali ke peraduan. Namun tidak ada satupun yang bisa tidur. Mereka bertanya, siapa yang akan ditunjuk Muhammad SAW. Semua mereka berharap jadi orang yang dimaksud dalam kata-kata Muhammad SAW yang diucapkan dengan jelas dan tegas; dia dicintai Allah dan Rasulnya. Cinta Ilahiyah ini dirindukan dan didambakan setiap muslim manapun yang bertakwa. Tak terkecuali, diantara orang yang risau itu adalah Umar bin Khatab. Dia sangat berharap dirinya yang diserahkan kepercayaan besar itu. Jika bukan dirinya yang dimaksud, Umar menghela nafas, dia akan merasa iri kepada sipapaun yang diberi kepercayaan tersebut.

Fajar tiba. Sinar matahari memancarkan cahaya kemenangan. Debu-debu pasir menyongsong pasukan Rasulullah SAW. Tiba saatnya, Muhammad mengumumkan prajurit perang yang dimaksud. Lagi-lagi, dialah Ali bin Abi Thalib. Di sisi Rasulullah SAW ksatria pemegang pedang dzul fiqar itu, laksana Harun dengan Musa.

Sebagaimana disampaikan Muhammad, Ali langsung menembus Benteng Khaibar. Sambutan dan pekikan jihad atas kemenangan tersebut melintasi ruang dan waktu. Hingga kini, suara itu terdengar nyaring “Khaibar- Khaibar ya Yahud, Inna Jaisa Muhammad Saufa Ya’ud.

*****

Dari ketiga perang diatas, dapat digambarkan betapa Imam Ali memegang peran militer paling signifikan, setelah Rasulullah SAW. Dan, dari semua pertempuran di zaman Rasulullah untuk membela ajaran Islam, Ali pasti terlibat di dalamnya sebagai tokoh kunci. Dari semua pertempuran, hanya satu peperangan yang tidak disertai Imam Ali, yaitu Perang Tabuk. Sebab, dalam perang ini, Rasulullah SAW memerintahkan Imam Ali untuk menjaga Kota Madinah, menggantikan posisi dirinya.

*****

Ramadhan, tahun ke-delapan dari Hijrah. Atau, 32 tahun sebelum Imam Ali menanti waktu Shalat Subuh, 19 Ramadhan itu.

Kekuatan sipil dan militer muslim di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW semakin kokoh. Sementara kekuatan kafir Quraiys semakin luluh lantak. Setelah kafir Quraiys melanggar kesepakatan damai, ummat berencana membebaskan Kota Mekkah dari jeratan kekafiran dan kebodohan kafir Quraiys di bawah kendali Abu Sufyan dan anaknya, Mu’awiyyah.

Ketika pasukan Islam datang ke Mekkah dengan jumlah ribuan dan bergelombang-gelombang, nyali warga Mekkah kembali ciut. Diantara rumah-ke rumah terdengar bisikan satu sama lain. Ada yang hendak memluk Islam karena tulus dan ingin mendapat cahaya hidayahnya. Ada yang hendak masuk Islam karena takut, ada yang mau tetap dalam kekafiran. Ada juga yang berencana masuk Islam dengan tujuan mendapat kenikmatan duniawi dan mendapat keuntungan dari kemegahan Islam. Secara lahiriah, mereka semua memeluk Islam.

Sementara dalam hati beberapa pemuka Quraiys bergemuruh dan bimbang. Mereka akhirnya mengambil jalan: memeluk Islam sebagai topeng dan siap-siap membalaskan dendam dalam berbagai kekalahan perang, terutama Badar, jika kesempatan sudah tiba. Keunggulan Bani Hasyim yang diwakili ahl albait Nabi SAW harus dihancurkan dan kekalahan Badar harus dibalaskan, bisik hati mereka.

Dalam tahun inilah, musuh Islam paling termahsyur sepanjang sejarah kehidupan Rasulullah SAW, memeluk Islam. Dialah Abu Sufyan dan juga anaknya, Mu’awiyah. Jika Abu Bakar dan Usman memeluk Islam dua tahun setelah Rasulullah SAW mendapat wahyu, Abu Sufyan dan Mu’awiyah baru memeluk Islam dua tahun sebelum Rasulullah SAW wafat.

*****

Tahun ke sepuluh hingga tahun ke-12 dari peristiwa Hijrah. Atau, 30- 28 tahun sebelum Imam Ali menanti waktu Shalat Subuh, 19 Ramadhan itu

Setelah Rasulullah SAW wafat, para pemuka Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’diyah. Mendengar pertemuan ini, Abu Bakar dan Umar segera bergegas kesana. Dalam kisah ini, terlalu banyak drama dan juga intrik yang perlu dikisahkan. Tapi yang pasti, mereka mengingkari Peritiwa Ghadir Khum. Hasilnya, Abu Bakar jadi Khalifah, menggantikan kepimpinan Nabi SAW.

Disebutkan oleh orang kemudian, ada tiga alasan kelayakan kepempinan Abu Bakar. Pertama, katanya, karena menemani hijrah Nabi SAW hingga turun ayat al-Ghar. Kedua, karena pernah memimpin shalat menggantikan Nabi SAW. Ketiga, karena dari sisi usia, beliau yang paling tua. Dan sejarah mencatat, memang, selama Rasulullah SAW hidup, tidak ada peran militer dan sosial Abu Bakar yang signifikan, dibanding beberapa sahabat Nabi SAW lainnya.

Karena itu, banyak sahabat Rasulullah SAW yang mengingkari kepimpinan Abu Bakar. Diantara mereka adalah Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Said, Miqdad bin Ammar, Abu Dzar al-Ghifari, Amar, Bara bin Azib, Ubay bin Ka’ab, dan tentu saja Imam Ali bin Abi Thalib.

Namun, para tonggak-tonggak kekuasaan Abu Bakar seperti Umar bin Khatab, Abu Ubaidah bin Jarrah, Mughirah bin Syu’bah terus berkeliling untuk membangun koalisi dan mencari dukungan. Mereka mendatangi rumah Ubay bin Ka’ab, namun dia tidak membukakan pintu bagi mereka.

Mughirah bin Syu’bah mendatangi Abbas dalam gerakan sumpah setia, tapi Abbas menolaknya. Bahkan, mereka pun hendak membakar rumah Ali bin Abi Thalib karena tidak mau berbai’at. Di depan rumah Ali, Umar memegang puntung api sambil berteriak –teriak dan mengancam. Hingga Ali menjawab “Ketamakanmu pada kepemimpinan Abu Bakar hari ini adalah untuk memperoleh kekuasaan di kemudian hari?”

Di era Khalifah Abu Bakar, tanah fadak milik keluarga Nabi SAW dirampas dengan alasan milik kaum muslimin. Dan enam bulan setelah berkuasa, Fatimah binti Rasulillah SAW meninggal dunia dengan luka hati yang menganga. Imam Ali menguburkan jasad Fathimah pada malam hari dan tidak mengizinkan Abu Bakar mengetahuinya.

Setelah kematian Fathimah, Imam Ali mengambil janji setia kepada Khalifah Abu Bakar untuk melindungi kesatuan ummat Islam dari ancaman para penyembah berhala dan kaum kafir.

*****

Tahun ke-12 hingga tahun ke-22 dari peristiwa Hijrah. Atau, 28 hingga 18 tahun sebelum Imam Ali menanti waktu Shalat Subuh, 19 Ramadhan itu.

Sebelum Abu Bakar meninggal dunia, beliau telah menunjuk Umar bin Khatab sebagai penggantinya.

Selain keras, dalam kepemimpinnya, Umar mulai memarjinalkan para sahabat dan orang-orang yang memeluk Islam sejak awal. Kekuasaan Umar dipenuhi orang-orang baru yang sebagian besar masuk Islam pada pembebasan kota Mekkah, dua tahun sebelum Nabi SAW wafat. Kepada para sahabat senior, Umar berkata: “Karena kalian telah berperang bersama Rasulullah SAW, maka cukupluh itu bagi kalian.”

Diantara pilar-pilar kekuasaan era Umar itu adalah Abu Hurairah (penguasa Bahrain), Mughirah bin Sy’ubah (penguasa Basrah), Yazid Bin Abi Sufyan (penguasa Palestina), Mu’awiyyah bin Abi Sufyan (penguasa Syam), dan Amr bin Ash (penguasa Mesir).

Selain tidak menempatkan pada posisi penting, Umar juga melarang sahabat senior keluar kota Madinah. Umar kahawatir, para sahabat senior itu akan menjadi figur penting di daerah yang dikunjunginya dan membahayakan posisi khalifah.

Aku tidak akan mengizinkan para sahabat Nabi SAW pergi ke kota-kota lain dan menyesatkan penduduknya,” kata Umar.

Di masa Umar, penaggalan mulai diperlukan untuk kepentingan administrasi. Umar mengumpulkan para sahabat senior untuk menentukan awal kalender. Distulah Imam Ali mengusulkan agar kalender umat Islam dimulai sejak hijrahnya Nabi SAW ke Madinah. Umar menerima saran Imam Ali.

Meski dalam berbagai hal, Umar berijtihad sendiri, yang seringkai ijtihadnya itu bertentangan dengan Sunnah yang telah dijalankan Rasulullah SAW, namun Umar juga sering minta fatwa Imam Ali.

Umar, dan juga sahabat lain, mengakui keluasan ilmu yang dimiliki oleh Imam Ali. Seseorang pernah datang menghadap Ibn ‘Abbas dan berkata: “Mahasuci Allah! Alangkah banyaknya keutaman dan keistimewaan ‘Ali! Aku mengira ia memiliki tiga ribu keutamaan. Ibn ‘Abbas berkata: “Mengapa engkau tidak berkata bahwa ia memiliki hampir mendekati tiga puluh ribu keutamaan.”

Ibn ‘Abbas juga berkata: “Pada setiap ayat “Wahai orang-orang yang beriman, ‘Ali adalah pemimpin dan yang utama. Allah Swt banyak mengecam banyak sahabat Rasulullah Saw, akan tetapi tidak menyebut nama ‘Ali kecuali dengan kebaikan.”

*****

Tahun ke-22 hingga tahun ke-34 dari peristiwa Hijrah. Atau, 18 hingga 6 tahun sebelum Imam Ali menanti waktu Shalat Subuh, 19 Ramadhan itu.

Era Umar bin Khatab berganti. Kini era kemimpinan Usman bin Affan. Sebagai salah satu anggota Bani Umayah, Usman sangat disukai orang-orang Quraiys. Tak heran, di kalangan Quraisy ada ungkapan untuk menunjukkan rasa suka dengan kata-kata: “Aku menyukaimu sebagaimana Quraisy menyukai Usman.” Usman dipilih melalui dewan yang dinamakan Dewan Syura.

Ketika terpilih secara de facto, Usman duduk di mimbar Rasulullah SAW. Hal ini berbeda dengan dua khalifah sebelumnya. Ketika Abu Bakar jadi khalifah, dia biasa duduk satu tingkat di bawah tempat duduk Nabi SAW. Ketika Umar jadi khalifah, dia duduk satu tingkat di bawah tempat duduk Abu Bakar. Sedangkan Usman, duduk dimana Nabi SAW biasa duduk.

Berbeda juga dengan Abu Bakar dan Umar yang menjalani kehidupan secara sederhana, Usman membangun pemerintahan aristokratis Quraiys. Ketika Usman terpilih, Abu Sufyan pernah berkata: Bangkitkan kembali tradisi-tradisi era sebelum Islam.”

Tentu Abu Sufyan bangga dengan terpilihnya Usman. Dia berpikir, ketika Abu Bakar berkuasa, kekhalifahan berada di tangan Bani Taim. Ketika Umar berkuasa, kekhalifahan berada dalam genggaman Bani Adi. Kini, Abu Sufyan lega sebab kekhalifahan jatuh kepada keluarga Bani Umayah.

Kini ia telah kembali ke tempat perlindungannya. Biarkan tetap menjadi warisan diantara keturunanmu. Tidak ada surga dan tidak ada neraka,” kata Abu Sufyan kepada Usman dan Bani Umayah.

Tidak diragukan lagi, Usman memilih sanak famili dan keluarga besar Bani Umayah untuk menjadi penguasa-penguasa baru. Bahkan beberapa orang yang pernah dilaknat dan diusir Nabi SAW dikembalikan Usman dan diberi kedudukan terhormat.

Usman menjadikan Hakam bin Abil Ash sebagai pengumpul sedekah dari Bani Khuza’ah. Kekuasaan Kufah diserahkan Usman kepada pamannya, Walid bin Uqbah bin Abi Mu’aith, yang ketika berkuasa melaksanakan Shalat Subuh empat rakaat karena habis minum arak. Usman juga menempatkan sepupunya yang baru berusia 25 tahun, Abdullah bin Amir, sebagai Gubernur Basrah. Tidak ketinggalan, Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sharah yang pernah diasingkan Nabi SAW, dijadikan Gubernur Mesir oleh Usman.

Sikap Usman ini tentu mendapat kritik, diantaranya dari Imam Ali. Kata Imam Ali, “Tidakkah kau ingin menghentikan apa yang sedang dilakukan Bani Umayah kepada harga diri dan kekayaan ummat Islam? Aku bersumpah, jika salah satu pejabatmu menindas penduduk hingga tenggelamnya matahari, kau akan turut juga menanggung dosanya.”

Aisyah pun tak kalah keras pada Usman. Aisyah menggelari Usman dengan sebutan Na’tsal. Artinya lelaki tua renta yang janggut lebatnya tidak teratur. Aisyah, karena rumahnya di sebelah mesjid, sering memaki Usman jika dia hendak Shalat.

Hai pengkhinat! Kau memanjakkan budak-budakmu dengan melanggar kepercayaan. Jika shalat lima waktu itu pernah ada, orang-orang akan dating kepadamu da dengan begitu, kau akan disembelih seakan kau itu seekor domba,” kata Aisyah.

Selain Aisyah, orang yang memberontak kepada kekhalifahan Usman adalah Thalhah, Zubair, Abu Dzar, Malik Asytar, Syuraih bin Auf, Adi bin Hatim, Jundab bin Zuhair, dan lain-lain.

Namun demikian, kepada Usman, Imam Ali tetap bersikap dengan akhlak mulia. Suatu ketika, rumah Usman dikepung oleh Thalhah dan Usman diboikot dari makanan dan minuman. Usman mengirim seseorang untuk mencari Imam Ali dan memberitahu kepadanya bahwa Thalhah sedang membunuhnya dengan rasa dahaga. “Padahal aku lebih terhormat jika dibunuh dengan pedang,” kata Usman. Imam Ali kemudian menemui Thalhah dan berbicara padanya agar mengizinkan dikirim air kepada Usman.

*****

Tahun ke-34 hingga tahun ke-40 dari peristiwa Hijrah. Atau, 6 tahun sebelum Imam Ali menanti waktu Shalat Subuh, 19 Ramadhan itu.

Setelah Usman meninggal dalam sebuah pemberontakan, hampir enam tahun Imam Ali bin Abi Thalib menjadi pemimpin ummat Islam. Namun, betapapun adilnya, tetap saja masih menyisakan dendam bagi sebagian orang.

Aisyah memerangi Imam Ali bin Thalib hingga meletuslah Perang Jamal. Waktu itu Aisyah menaiki unta. Dalam perang tersebut, Aisyah kalah telak. Dengan penuh hormat, Imam Ali mengembalikan Aisyah dengan dikawal beberapa prajurit yang menutup kepalanya. Dan betapa tersanjungnya Aisyah, ternyata para prajurit itu adalah perempuan semua. Kepada lawannya, Imam Ali tetap berakhlak mulia.

Setelah itu, Aisyah menyesal telah melawan Imam Ali. “Sungguh, aku ingin menebus peristiwa ini dengan apa saja yang ada di bumi,” kata Aisyah suatu ketika.

Selain dilawan Aisyah, Imam Ali juga diperangi Mu’awiyah. Meletuslah perang Shiffin. Mu’awiyah kalah telak. Namun di tengah kekalahan itu, dengan jiwa pengecutnya, Mu’awiyyah menusuk al-Qur’an dengan pedangnya. Dia berkata :”Mari selesaikan perselisihan diantara kita ini dengan al-Qur’an.” Imam Ali berkata kepada orang-orang yang terpengaruh dengan akal bulusnya: “Perkataan Mu’awiyyah itu benar, tapi tujuan dari perkataannya itu Bathil.” Qaul al-Haqq Yurdaddu Biha al-Bathil. Memang, Mu’awiyah mewarisi sikap bapaknya Abu Sufyan dalam hal memanfaatkan situasi, penuh kepura-puraan, licik, culas, dan bengis.

Imam Ali juga harus berhadapan dengan orang-orang ekstrem yang mengatasnamakan firman Tuhan. Mereka adalah kumpulan orang-orang dungu kaum Khawarij. Meletuslah Perang Nahrawan.

Wahai Imam, apakah yang dihadapan kita ini termasuk golongan kafir?” Tanya seorang prajurit.

Tidak, orang kafir tidak pernah Shalat sedangkan shalat mereka banyak,” kata Imam.

Apakah mereka kaum munafik?”

Tidak, orang munafik sedikit dzikirnya sedangkan mereka banyak dzikir,”

Memang mereka adalah orang-orang bodoh yang memahami hukum Tuhan secara parsial. Dalam perang tersebut, Kaum Khawarij tunggang langgang.

*****

Dini hari, 19 Ramadhan tahun ke-40 Hijriyah. Atau, saat Imam Ali menanti adzan Subuh.

Dini hari 19 Ramadhan ini, masih diselimuti gelap dan cahaya separuh bulan usai purnama ibarat redup ditelan kelam. Samar, langit Kufah memerah laksana hendak mengabarkan duka yang tidak terkira. Dari kejauhan kedipan bintang menjadi tanda luka yang dibisikkan masa silam.

Malam tadi memang mencekam. Lolongan serigala seolah saling menyahut dengan dengus nafsu-nafsu wujud manusia yang berhati binatang. Peristiwa satu tahun lalu di Nahrawan masih menyisakan dendam membara dalam hati mereka yang dungu. Kesumat itu dibelai angin gurun dan berarak dengan jiwa-jiwa bengis yang mengalami kekalahan di Sumur Badar, 38 tahun lalu.

Hati yang dungu dan jiwa yang bengis memang tidak menyatu. Bagi si Bengis, si Dungu juga musuh yang layak untuk dibantai. Bagi si Dungu, si Bengis juga binatang yang wajib dihabisi. Dalam nafsu dan ambisi masing-masing, mereka memiliki kesamaan: hendak menggelar kudeta.

Suara adzan nyaring terdengar. Imam Ali segera bergegas menuju Masjid di tengah Kota Kufah. Imam Ali langsung memimpin shalat berjama’ah. Diam-diam, orang dungu yang diselimuti nafsu itu sudah menyelinap. Si pemburu yang bernama Abdurrahman bin Muljam itu mengendus dan menunggu sampai Imam Ali sujud. Tatkala Imam Ali bangkit dari sujudnya, Abdurrahman bin Muljam menebaskan pedangnya yang beracun tepat di bagian kepala Imam Ali. Darah merah berhamburan. Sang kakek berujar “Demi Tuhan Ka’bah! Sungguh aku telah menang.”

Si pembunuh berusaha melarikan diri. Namun berhasil dibekuk dan diborgol. Ketika Imam Ali melihat wajah bebal itu, dia berkata “Bukankah aku selalu berbuat baik kepadamu?” Si dungu menjawab “Iya betul.” Imam Ali melirik kembali ke si pembunuh. Ia melihat jerat yang memborgol tangan si pengecut itu terlalu kencang hingga menyayat dagingnya. Imam Ali lalu mengalihkan pandangan kepada kaum Muslim dan berkata: “Seharusnya kalian jangan begitu kejam kepada sesama, kendorkan talinya, tidakkah kau lihat tali ini melukai dia dan membuatnya kesakitan.” Kepada orang yang membunuhnya, Imam Ali tetap menunjukkan ahklaknya yang mulia.

Penglihatan Imam Ali mulai kabur. Namun, ada bayangan yang makin jelas terlihat bercahaya oleh matanya. Nampak wajah sepupunya. Sepepunya pernah berkata: “Orang yang paling binasa dari umat terdahulu adalah penyembelih unta (dari kaum Nabi Shalih). Dan manusia yang paling celaka dari umat ini adalah orang yang membunuhmu,” kata sepupunya seraya menunjuk keningnya, letak anggota tubuh Imam Ali yang terkena tebasan pedang.

Tiga hari berlalu, tepatnya 21 Ramadhan, Imam Ali syahid. Salam alaika ya Imam al-Murtadho, Salam alaika ya Abal Hasan….

*****

Tragedi 19 Ramadhan 40 H jadi titik akhir perjuangan Ali, sang Pangeran Badar dan Khaibar. Namun, itu awal mula penderitaan keluarga Rasulullah SAW. Topeng-topeng terbuka. Hawa licik dan pikiran jahat meluai menyeruak seantoro negeri.

Hasan, putera tertua Ali dari Fatimah menjadi tandingan kekuasaan Mu’awiyyah anak Abu Sufyan. Mu’awiyah tidak mau kekuasannya rontok karena kalah wibawa dengan pria gagah yang perawakannya mirip Rasulullah SAW itu. Tidak bisa disangkal, dalam darah Hasan mengalir darah mulia. Kakeknya adalah penutup para Nabi. Neneknya, wanita terhormat di seluruh Mekkah. Ibunya, salah satu dari empat wanita dunia yang mulia di sisi Allah. Ayahnya, singa padang pasir yang tidak tertandingi dalam sejarah peperangan.

Mua’awiyyah menyusun strategi licik. Melalui wanita culas yang dinikahi Hasan, Mua’awiyah meracun Hasan. Tenggorokan Hasan terasa panas. Dalam leher yang sering dicuimi Rasulullah SAW tersebut, mengalir bisa yang kejam.

Dalam keadaan sekarat, Hasan memandang adiknya Husein. Tidak ada yang tidak bisa meneteskan duka lara. Namun Hasan tersenyum. Hasan meneteskan air mata ketika melihat adiknya Husain.

Wahai Abangda terkasih, kenapa engkau tersenyum lalu menangis ketika menatap wajahku,” kata Husein.

“Aku tahu, aku tersenyum, karena sebentar lagi aku akan berjumpa dengan Kakek, akan bertemu dengan nenek, akan disambut tangan oleh ayah dan ibu kita, wahai adikku. Aku sudah tidak kuasa untuk menahan kerinduanku, juga kerinduan mereka,” jawab Al Hasan.

“Lalu kenapa Abangnda menangis?” lanjut Huesin.

“Kau ingat, ketika kakek kita dijemput ribuan mala’ikat untuk menemui kekasihnya Allah SWT, kepala beliau ada dalam pangkuan ayah kita. Kau ingat, enam bulan kemudian, ketika Ibunda tiada setelah disakiti para penguasa itu, jasad dan kepala beliau berada dalam pangkuan ayah. Kau ingat, tragedi Subuh itu, ayah terhuyung dari mesjid dengan bersimbah darah. Tiga hari kemudian, ruh meninggalkan jasad ayah dan kepalanya berada dalam pangkuanku. Sekarang, ketika aku hendak meninggalkan dunia ini, kepalaku berada dalam pangkuanmu. Nanti, wahai adikku, ketika engkau menjemput kesahidan, diatas pangkuan siapa kepalamu berada,” lirih Hasan dengan derai air mata.

Dua pemuda surga tersebut tidak kuasa menahan tangis. Dan, 10 Muharram, jadi saksi tragedi paling mengerikan dalam sejarah Keluarga Nabi dan sejarah ummat Islam. Kepala Huesin dipenggal, dipisahkan dari jasadnya, dan diarak dari Kufah hingga Damaskus. Keluarga Rasulullah SAW dibantai oleh orang-orang yang mengaku sebagai umatnya.

*****

Usai meninggalnya Imam Ali, Dinasti Mu’awiyah dan tonggak-tonggak kekuasaannya membalikkan sejarah Ali bin Abi Thalib dan keluarganya. Perombakan sejarah di mulai dari yang sangat halus hingga kasar dan mengerikan.

Jika wahyu pertama kenabian jadi saksi keimanan Ali setelah Khadijah, dinasti Mu’awiyah mulai mengaburkannya. Disebutkanlah macam-macam orang yang pertama masuk Islam. Dibuat pemilahan, orang yang pertama masuk Islam dari segi usia, dari segi jenis kelamin, dari segi strata sosial. Nama Ali mulai disamarkan.

Gelar kepahlawan Ali satu- persatu dipreteli. Gelar al-Siddiq dan al-Faruq bagi Ali disematkan kepada yang lain.

Ali, yang disebutkan Nabi sebagai pintu ilmu Rasul, orang kedua yang mengimani Rasul, yang selalu menemani peperangan dengan Rasul, yang paling banyak bergaul dengan Rasul, tercatat hanya sedikit meriwayatkan hadits. Sementara itu, ada orang yang baru beriman dari tahun-tahun terakhir Rasulullah menjadi penutur hadits paling banyak. Dialah Abu Hurairah, salah satu tonggak kekuasaan Mu’awiyah. Tidak tanggung-tanggung, Mu’awiyah pun mendeklarasikan diri sebagai penulis dan pencatat wahyu.

Tak cukup itu, Mua’wiyah memberi gelar ayahnya, Abu Sufyan, sebagai pahlawan Islam. Sementara ayah Ali, Abu Thalib, yang membela Nabi hingga meninggal dunia disebut-sebut mati dalam kekafiran. Di antara pembawa berita ‘kekafiran’ itu adalah Sa’ad bin Musayyab. Sa’ad bin Musayyab adalah orang Khawarij sebagaimana Ibnu Muljam yang membunuh Ali. Jika Ibnu Muljam membunuh fisik Ali dengan pedang beracun, Sa’ad membunuh karakter Abu Thalib dengan lidah beracun.

*****

Agar sejarah versi Mu’awiyah tetap bertahan, perlu kredo yang memagarinya. Dibuat lah ketentuan yang dinilai bermuatan syariat, sehingga membuat orang akan takut jika hendak menerobos pagar ini. Diantara pagar itu adalah “Kullu Shahabiyun Udul.” Setiap sahabat adil.

Dengan pagar ini, tongak-tonggak Mua’wiyah mensejajarkan sahabat berhasil. Sahabat, adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah dan meninggal dalam keadaan Islam. Entah itu orang tua renta atau anak kecil yang sangat belia. Entah itu yang pernah berperang dengan Rasulullah atau yang pernah memerangi Rasulullah. Entah yang masuk Islam karena ketundukan atau yang memeluk Islam karena keterpaksaan.

Dengan paradigma semua sahabat adil ini, Mu’awiyah ini, sahabat tidak boleh dikritik dan tidak boleh dipilah-pilah. Logika al-Jarhu muqaddamun ala al-Ta’dil, hanya berlaku bagi generasi setelah sahabat. Apakah kebijakan sahabat, dalam pengertian umum tadi, bisa salah? Tentu bisa. Mereka bisa salah tapi tetap mendapatkan pahala. Dibuat kaidah lapis kedua, Idza Ijtahada al-Hakim Fa Ashoba Fa Lahu Ajrani Wa Idza Akhta’a Fa Lahu Ajrun Wahidun.

Meski, ada sekitar 100 kebijakan Umar yang berbeda dengan Sunnah Nabi, itu bukan kesalahan tapi itu Ijtihad. Meskipun ada Kebijakan Usman yang berbeda dengan Nabi, itu bukan penentangan, itu ijtihad. Meski keluarga Nabi dibantai oleh kebijakan kekuasaan, itu bukan dosa tapi ijtihad menundukkan ‘pemberontak.” Yang salah, yang dosa, dan yang harus ditentang, yang sesat adalah mengatakan “Tidak semua sahabat adil”.

Mu’awiyah berhasil membuat sejarah yang telah dotorehkannya tetap bertahan hingga 19 Ramadhan tahun 1341 Hijriyah ini.

=======================================

Kisah singkat dan beberapa kutipan tokoh-tokoh yang dcantumkan berasal dari beberapa kitab. Diantaranya: Jami’ al-Shahih Bukhari, Tafsir al-Qurthubi, Târikh Dimasyq, Tarikh Ya’qubi, As-Ash-Shawâiq al Muhriqah, Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, Farâidul Simthaîn, Manâqib ibn Maghâzali, Kanz al-’Ummâl, Dzakhairul Uqba, Biharul Anwar , Ihqoq Al Haq, Usul Istimbaat, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, I‘anatul Mustafid, Musnad Al-Musnad, Syarah Nahjul Balaghah, Syawahid Al-Tanzil, Tafsir al- Razi, Yanabi’ Al-Mawaddah, Mizan Al-I’tidal, Al-Durr Al-Mantsur, dan lain-lain.

Terkait Peristiwa Ghadir Khumm, akan ditulis secara terpisah, dan Insyaallah pembahasan akan dimulai dari Tafsir Imam Qurthubi terkait al-Qur’an Surat al-Ma’arij.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Agustus 2010 in CATATANKU

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: