RSS

Harpan dari Bantar Gebang Bekasi

16 Agu

Harpan dari Bantar Gebang Bekasi

Harpan. Tentu bagi pembaca novel dan atau yang menyaksikan film Laskar Pelangi merasa kenal dengan nama itu.

Sepeti Harpan di Beliotong, ada nama Rohendi di Bantargebang, Bekasi. Tiap hari, Roehendi berada di antara teriakan anak-anak yang berusia empat hinga sepuluh tahun. Anak-anak itu lahir dan berada di lingkungan para pemulung, Ciketing Udik.

Harpan. Tentu bagi pembaca novel dan atau yang menyaksikan film Laskar Pelangi merasa kenal dengan nama itu. Sederhana tapi tangguh. Dalam segala keterbatasan, dia tegar memperjuangkan nilai pendidikan. Sabar namun penuh tanggungjawab pada lingkungannya. Harpan, tentu saja bukan hanya ada di Belitong tahun 1970-an. Diseluruh pelosok Nusantara yang dipenuhi kaum papa, ada ratusan Harpan. Mungkin juga, ribuan atau jutaan. Mereka mengabdi dan memberi dalam keterbatasan .

Sepeti Harpan di Beliotong, ada nama Rohendi di Bantargebang, Bekasi. Tiap hari, Roehendi berada di antara teriakan anak-anak yang berusia empat hinga sepuluh tahun. Anak-anak itu lahir dan berada di lingkungan para pemulung, Ciketing Udik.

Sore hari, di tengah anak-anak yang papa itu, Rohendi berdiri mengacungkan tangan. Nampak, dia sedang menawarkan sesuatu dengan telunjuknya. Bukan barang tapi ajakan. Anak-anak itu berebut mengajukan diri. Satu persatu anak-anak itu pun bergilir menghapal surat-surat dalam al-Qur’an. Rohendi, sedang mengajarkan mereka mengaji. Seperti gubuk sekolah Pak Harpan dari Belitong, Begitu juga Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) Al-Muhajirin yang diasuh Rohendi.

Sebelumnya, ketika matahari masih berada di puncak bumi, Rohendi berkumpul membahas persiapan wisuda murid-murid Taman Kanak-Kanak (TK). Wajahnya datar namun begitu ramah. Ruang reyot berbentuk persegi tempat “rapat” itu, menjadi saksi perjuangan Rohendi. Nampak Rohendi kelelahan, tapi wajahnya tetap dipenuhi senyuman. Udara panas yang menyengat, membuat Rohendi sering menelan ludah. Sesekali ia menikmati kacang kulit yang disajikan sang isteri, Ummi Kultsum.

Terasa gerah, Rohendi mengambil kertas. Dilipatnya ketas itu, lalu dikibaskan pada wajahnya yang penuh peluh. Peserta rapat lain yang menjadi penggerak Mushola Al-Muhajirin, Totok dan Alif, duduk di sudut ruang. Mereka membisu, menunggu Rohendi angkat bicara.

“Kita sudah tidak mempunyai donatur lagi,” kata Rohendi dengan berat.


“Guru-guru TPQ bisa-bisa ngga dapat uang bulanan lagi,” lanjut Rohendi dengan pancaran muka yang berubah: senyum pilu dan tatapan kosong.

*****

Di perkampungan pemulung Bantar Gebang, Bekasi, hanya Mushola yang dikelola Rohendi yang menggratiskan anak didiknya. Mushola itu berada 300 meter dari lautan sampah. Selain berada dalam gundukan sampah, Mushola ini juga dijadikan tempat lalat berkerumum. Bahkan, Mushola ini, sekarang terancam akan digusur.

Pikir Rohendi sederhana, jika Mushola ini musnah, maka lenyaplah “surga” buat belajar anak-anak dan juga ruang untuk mereka bermain. Selain itu, Mushola ini sering dijadikan tempat untuk Shalat Jumat bagi pemulung. Mushola ini juga menjadi penyokong pendidikan formal TK yang berada beberapa langkah dari Mushola. Hanya terhalang tiga rumah ke arah selatan.

Dengan Mushola itu juga, Rohendi menebar amal dan anak-anak dhuafa mengais ilmu. Banyak anak-anak kekurangan harta itu, sangup mengahapal surat-surat dalam al-Qur’an.

“Kak Hendi yang ngajarin,” kata Endeh, siswa kelas enam Sekolah Dasar (SD) yang pernah jadi juara lomba Tahfidz Qur’an mewakili TPQ Al-Muhajirin saat festival Ramadhan 1429, di Bantrgebang, Bekasi.


Bagi Rohendi, hidup di tempat busuk dan berada ditengah gundukan sampah bukanlah satu masalah. Yang terpenting baginya. Adalah keberdaan Mushola dan keberlangsungan pendidikan untuk anak-anak.

“Sudah biasa, sepuluh tahun tidur dalam gubuk bersama sampah,” kata Rohendi dengan balutan senyum lepas.

“Pendidikan itu harus diutamakan, lalu kesehatan, saya ingin mereka mendapatkan itu semua,” sambungnya dengan ramah.

*******

Sehari-hari, Rohendi memulai aktifitas sejak jam empat pagi hari. Setiap hari, Rohendi mengantarkan ibu-ibu belanja ke pasar. Ia bonceng di atas motornya. Rupiah kecil pun diterimanya. Pagi menjelang matahari meninggi, ia merapihkan sampah. Ia pilih dan pisahkan untuk ditimbang dan di jual. Nafkah buat istri harus tetap jalan dengan cara halal. Menjelang sore, Rohendi menuju TPQ binaannya. 70 anak sudah menanti untuk menimba ilmu darinya.

Bila di Belitong nama Harpan menjadi terkenal di pelosok nusantara berkat karya sang murid, Andrea Hirata. Di Bantargebang, nama Rohendi hanya dikenal sebatas lingkungannya. Namanya tak ada yang menyentuh. Nyaris terabaikan dan terbuang.

Kini, kita sudah tahu akan nama juga gambaran hidup dan perjuangannya. Apakah kita menjadi bagian orang yang bisu dan pura-pura tidak tahu? Atau terlibat dalam perjuangannya? Rohendi sudah membuktikan pengorbanan dalam segala keterbatasan. Kita, tingal memilih: membantu perjuangannya dengan segala kemampuan atau mengabikannya tapi termasuk golongan yang mendustakan agama seperti tergambar dalam surat al-Maun.

Yayan sopyani al-Hadi,
Untuk Majalah Matahati LAZIS PP Muhammadiyah.


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Agustus 2009 in CATATANKU

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: