RSS

Mari Belajar Dari Iran

04 Mar

Mari Belajar dari Iran


Banyak orang yang kagum dan bangga pada Ahmadinejad. Sejak terpilih sebagai Presiden Iran, banyak kalangan mengelu-elukan beliau sebagai manusia besar nan gagah yang siap melawan para tiran yang bertengger dinegara adikuasa. Dan kesan itu tidak salah. Ahmadinejad membuktikan pada semua, dan khususnya pada dunia Islam, bahwa yang patut ditakuti hanyalah Allah SWT.

Walau kita tidak setuju dengan cara “Islam” Ahmadinejad, bukankah tidak ada keharaman untuk belajar menjadi “Islam” sepertinya?

Dalam dua hari ini saya mendapatkan dua kabar yang sungguh merasuk dalam jiwa. Kabar pertama sangat memilukan hati, dan kabar kedua sangat membanggakan hati. Kabar pertama, adalah wafatnya ustdaz tercinta, KH. Entang Mukhtar di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Sungguh ini “al-naba al-Adhiem” bagi seluruh warga Persatuan Islam. Entah berapa lama lagi ada kader PERSIS yang mewariskan tradisi keilmuan dan keluasan wawasan Ustdaz Entang. Sungguh aku, ingin mencurahkan dan menumpahkan airmata dukacita atas wafatnya ulama ini, namun—sebagaimana kata Ustdaz Jalal dalam pengantar bukunya KH.A Lathief Mukhtar—aku berada ditengah-tengah orang yang mencela dan melarang untuk meratapi jenazah.

Kedua, berita yang membanggakan hati, adalah berita yang pertamakali aku dengar dari siaran berita BBC London yang dibawakan reporter Imogen Foulks. Berita sang Ahmadinejad.

Senin, 20/04/09—sebagaimana untuk yang kesekiankalinya—Ahmadinejad, Presiden Iran, kembali mengemukakan pendapatnya tentang Yahudi dalam Review Conference di Jenewa Swiss. Dalam konferensi Anti Rasisme PBB itu, Ahamadinejad mengatakan bahwa Yahudi adalah rezim rasis yang paling kejam. Pidato yang sejak awal memang ditolak Amerika, Belanda, Australia, Selandia Baru, Italia, Jerman dan Polandia ini, dikemudian ditinggalkan sekitar 30 Negara yang walkout. Namun, Sang Daud abad 21 itu, tetap menebarkan senyum khasnya pada khalayak sidang dan para Jalut yang geram. Presiden Iran itu menegaskan, Zionis Israel menggunakan peristiwa Holocaust sebagai dalih untuk mencuri tanah Palestina. Ahmadinejad menyebut Zionisme sebagai bentuk rasisme. “Menyusul Perang Dunia II, mereka memilih melakukan agresi militer untuk membuat seluruh bangsa kehilangan rumah mereka. Ini merupakan alasan palsu agar Yahudi dikasihani. Kemudian mereka mengirim warganya ke Eropa, AS, dan bagian lain di dunia ini untuk mengeksiskan pemerintahan rasis di wilayah jajahan Palestina, “ Sambung Ahmadinejad.

Walaupun ada sekitar 30 utusan negara yang walkout, lebih dari 4.500 wakil organisasi nonpemerintah (NGO) dan aktivis hak asasi manusia (HAM) meminta Presiden Iran untuk melanjutkan pidatonya. Para peserta terus memberikan tepuk tangan berulang kali hingga pidato Ahmadinejad selesei.
Esoknya (Selasa, 05/04/09), Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki moon menyayangkan pidato itu yang membuat delegasi beberapa negara beranjak dari kursi mereka. “Ini merupakan pengalaman yang kacau selama saya menjadi Sekjen. Ini benar-benar situasi yang tidak dapat diterima,” ungkap Ban dalam konferensi persnya.

Perwakilan Prancis mengatakan pidato Ahmadinejad adalah sebuah “pidato kebencian”. Sedangkan, delegasi Amerika mengatakan pidato itu sangat “keji”. Duta besar Inggris, Peter Gooderham yang juga salah satu yang meninggalkan ruang sidang, mengatakan sebuah retorika seperti ini tak memiliki tempat di manapun dalam sebuah konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa . Sementara di Jerusalem, Presiden Israel Shimon Peres menggambarkan pernyataan Ahmadinejad digambarkan sebagai sebuah “aib absolut”.

Ideologi Sang Singa dari Persia

Banyak orang yang kagum dan bangga pada Ahmadinejad. Sejak terpilih sebagai Presiden Iran, banyak kalangan mengelu-elukan beliau sebagai manusia besar nan gagah yang siap melawan para tiran yang bertengger dinegara adikuasa. Dan kesan itu tidak salah. Ahmadinejad membuktikan pada semua, dan khususnya pada dunia Islam, bahwa yang patut ditakuti hanyalah Allah SWT.

Sejak awal, sebagaimana banyak orang yang melihat Ahmadinejad, aku juga termasuk orang yang kagum. Namun kekagumanku tidak berhenti pada sosok sang Presiden. Kalau semua orang meyakini bahwa keyakinan sebagai pilar sikap dan perilaku seseorang, maka aku meyakini, bahwa ada keyakinan yang tangguh dibalik keberanian Ahmadinejad. Bangsa Iran, yang Cuma berpenduduk 70 juta jiwa begitu berani, pasti ada ideologi besar dibaliknya.
Negara Iran pasca Revolusi Islam 1979 memang lain. Revolousi Islam, yang menurut Ahmad Suhelmi, tidak hanya mengubah wajah bangsa iran, tetapi juga mengubah wajah dunia. Bahkan peneliti yang antipatipun, akan mengatakan dengan jujur bahwa Revolusi 1979 adalah bara api kebangkitan Islam. Terjadinya revolusi Islam Iran, seperti diakui Kang Fred Halliday dan Pak Amien Rais, bahkan mampu mengguncangkan teoro-teori ilmu pengetahuan modern. Pacsa revolusi, ilmu pengetahuan berkembang pesat di Iran. Iran berada diurutan teratas di Timur tengah, dan urutan ketujuh di Dunia, untuk tujuh bidang ilmu pengetahuan besar dunia, diantaranya fisika, kimia, biologi, matematika, . Pengembangan dan pembangunan infrastruktur terjadi disetiap sektor. Dalam kebudayaan, produksi film terus menggeliat; dengan ciri khasnya edukatif dan humanis. Sekarang kemajuan Iran bukan hanya pada nuklir namun sudah berhasil mengusasai apa yang disebut dengan teknologi air berat (Heavy Water). Sungguh menggoncangkan dunia barat.

Keberanian Iran melawan kaum dzhalim dan tiranik, bukan hanya dalam kata, tapi juga sudah menjadi laku. Setiap jum’at terakhir bulan Ramadhan, adalah media orang Iran untuk “menghajar Yahudi” dalam beragam aspek.
Dibalik keberanian dan kesuksesan Iran, mengapa kita tidak belajar pada Iran; Pada ideologi dan basis-basis keimanan- keislaman mereka.

Kalau Max Weber—dalam The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalisme—meyakini ada etika protestanisme dalam kemajuan kapitalisme Barat. Jika Robert N Bellah—penulis Beyond Belief—meyakini ada nilai-nilai ajaran Shinto dalam kemajuan Jepang . Aku meyakini keberanian Ahmadinejad dan Bangsa Iran karena dilandasi Basis Tauhid yang bermuara pada Rasulullah melalui sumber mataair pintu Ilmu Rasul dan siyasah ahlul baitnya. Aku juga yakin, bahwa kemajuan ilmu dan kesuksesan Bangsa Iran juga bermuara pada basis keilmuan Hikmah al-Muta’aliyyah yang sudah lepas dari dikotomi nalar bayan, burhan dan irfan.

Walau kita tidak setuju dengan cara “Islam” mereka, bukankah tidak ada keharaman untuk belajar menjadi “Islam” seperti mereka?

Salam Aliaka Ya Rasulullah SAWW

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 4 Maret 2009 in CATATANKU

 

2 responses to “Mari Belajar Dari Iran

  1. M. Imaduddin Nasution

    12 Mei 2009 at 4:53 pm

    Iran dan Cina/India sedang dalam perjalanan untuk menjadi negara adidaya baru. Untuk semua itu kita mesti bersyukur dan berduka. Bersyukur karena bangsa Asia akan disegani dunia dalam beberapa tahun kedepan entah sampai kapan. Berduka karena dengan adanya dua negara terkuat di satu benua, maka keinginan untuk membentuk Uni Asia atau Federasi Asia atau apapun namanya, akan terhambat oleh persaingan diantara mereka. Diantara Iran dan Cina/India tentunya. Tergantung yang mana (Cina atau India) yang akan menjadi adidaya.

     
  2. alfaroby

    24 Juli 2009 at 11:03 am

    aku pikir ini adalah masalah yang kompleks, tidak bisa di lihat dari satu sisi saja, kita tidak bisa menjustmen negara tersebut “baik’ atau “buruk”, yang penting marilah kita sama sama terus menerus membenahi negara kesatuan kita Indonesia menjadi negara yang tentram adil makmur dan sentosa

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: