RSS

Manifesto Kaum Kapitalis dan Hidangan Para Ekonom Liberal

16 Feb

Manifesto Kaum Kapitalis dan Hidangan Para Ekonom Liberal

Terhenyak! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kesadaran pikirku ketika membaca buku In Defence of Global Capitalism karya Johan Norberg. Buku ini merupakan terjemahan inggris dari edisi aslinya berbahasa Swedia Till Varldskapitalismens forsvar yang kemudian dialihbahasakan juga kedalam bahasa Jerman menjadi Das Kapitalische Manifest.

Buku ini terasa hot dilidah pikiran terutama bagi kita yang akrab dengan bukunya Das Caspital dan The Communist Manifesto-nya Karl Marx. Buku ini semakin nikmat dan lezat kalau dimulai dengan mencicipi rasanya The Inquiry into The Nature and Causes of The Wealth of Nations racikan Adam Smith dan On Principle of Political Economy and Taxation masakan David Ricardo. Untuk menetralisir rasa Norberg ini, agar tidak terlalu asin (bagi yang kurang selera), silahkan sertakan ramuan Joseph Stiglitz dan Paul Krugman, dua orang pemenang Nobel Ekonomi. Sesekali cicipi juga A Global Ethic for Global Politics ang Global Economic-nya Hans Kung. Jangan lupa ambil juga hidangan Pak Amien Rais, Agenda Mendesak Bangsa! Selamatkan Indonesia! Tentu, bagi yang sudah menikmati renyahnya The End Of Ideologi-nya Fukuyama, karya Norberg menambah gurih rasa liberalistik.

Selain nikmat (setuju atau tidak akan isinya), ditengah krisis global, buku ini merupakan pembelaan terhadap kapitalisme. Bagi anda para pembela ekonomi pasar, buku ini merupakan referensi yang sangat berharga, Bagi anda yang anti kapitalis dan menolak ekonomi liberal, sebagaimana aku, buku ini mejadi kawan berdebat yang sangat hangat dan juga nikmat. Disini aku tidak mengkritisinya, aku hanya menyajikan hidangan buat anda. Anda berselera atau tidak, itu hak anda.

Inilah beberapa resep dan sajian Norberg (tidak semua tulisannya disimpulkan disini, karena aku yakin, yang membaca blog, pasti ingin singkat-singkat)

Menurut Norberg, seringkali kritik terhadap globalisasai bukan berdasarkan argument yang kuat, melainkan pernyataan factual yang datar. Seringkali, kata Norberg, pernyataan bahwa 51 perekonomian terbesar di dunia berbentuk korporasi; atau bahwa setiap hari ada dana besar sekitar $1,5 Triliun yang berputar dipasar uang; seolah ukuran itu sendiri secara intrinsik sesuatu yang menakutkan dan berbahaya. Padahal, semua itu hanya aritmatika dan bukan argumen.

Kata Norberg, memang Globalisasai tidak akan menjadikan semua orang menjadi jetset global. Sebab kita tidak perlu menjadi jetset untuk menjadi bagian dari proses globalisasi. Menurut Norberg, dalam globalisasi, orang-orang miskin yang tidak memiliki kekuasaan, khususnya, akan menikmati peningkatan kesejahteraan yang pesat ketika barang-barang murah tidak lagi dirintangi bea masuk dan jika investasi asing dizinkan menciptakan lapangan kerja dan merampingkan proses produksi.

Mungkin, anda yang anti ekonomi pasar, akan mengajukan gugatan; bukankah dengan sistem ekonomi pasar terjadi kesenjangan yang menganga dan ketidaksetaraan yang meruncing? Bukankah ada fakta, bahwa 40 tahun lalu PDB perkapita gabungan 20 negara terkaya mencapai ukuran 15 kali dari PDB gabungan 20 negara miskin, dan sekarang meningkat sekitar 30 kali. Norberg menjawab, bahwa yang mempermasalahkan itu adalah mereka yang memandang kekayaan sebagai suatu persoalan yang lebih besar daripada kemiskinan. Kalaupun fakta itu benar, hal itu tidak banyak berpengaruh. Jika keadaan semua orang menjadi lebih baik, apa masalahnya kalau ada orang yang dapat meraihnya dengan cepat? Kedua, kata Norberg, sungguh salah bila kesenjangan meningkat. Angka-angka itu bermasalah sebab tidak dikoreksi sesuai daya beli. Angka-angka tersebut hanya menunjukkan nilai kurs resmi mata uang sebuah negara dan nilainya dipasar internasional, dan ini adalah alat yang buruk untuk mengukur kemiskinan.

Mungkin anda aktivis lingkungan hidup yang keberatan dengan kapitalisme dengan perusahaan multinasional dan perdagangan bebasnya yang merusak lingkungan hidup. Norberg justru membela, kita tidak bisa mengharapkan orang-orang miskin, untuk menempatkan kualitas lingkungan hidup sebagai prioritas mereka.

Dalam pandangan Norberg, kapitalisme berarti tidak ada seorangpun menjadi korban dari koersi orang lain. Termasuk pemerintah! Sebab jika harga dikendalikan pemerintah, maka akan terjadi kelangkaan. Dan, peringatan Norberg, mengapa penerintah dianggap lebih tahu daripada kita sendiri tentang apa yang kita mau dan apa yang kita anggap penting dalam hidup. Padahal satu-satunya cara menjadi kaya dipasar bebas adalah dengan memberi orang lain sesuatu yang dihasratinya, sesuatu yang untuk itu orang tersebut bersedia membayar secara sukarela. Kapitalisme juga mengharuskan agar orang diperbolehkan menyimpan sumberdaya yang ia peroleh dan ciptakan.

Dalam masyarakat yang kaliptalistik, semua orang yang memiliki gagasan dan keinginan kuat, dapat bebas mempertaruhkan peruntungannya, sekalipun mereka bukan favorit penguasa lokal. Kapitalisme menggoyang relasi kekuasaan dan mengemansipasi masyarakat dari cengkraman penguasa.

Mungkin, kata orang kiri dan juga yang anti kapitalisme, bukankah liberalisme ekonomi adalah ideologi orang kaya untuk mengukuhkan hak kepemilikannya? Norberg menjawab, secara empirik bukanlah orang kaya yang terutama memperoleh keuntungan dari perlindungan hak milik. Sebaliknya, dalam masyarakat tanpa hak kepemilikan yang stabil, yang paling dirugikan adalah warga negara yang paling rawan, sebab orang-orang yang berkuasa dan mempunyai koneksi yang mampu mengendalikan sumber-sumber daya.

Norberg mengingatkan bahwa kapitalisme yang dia maksud bukalah sistem ekonomi yang secara khusus mengatur kepemilikkan modal dan peluang investasi, karena hal tersebut juga bisa dijumpai dalam sistem ekonomi marxis. Yang dimaksud dia dengan kapitalis adalah ekonomi pasar liberal, dengan persaingan bebas berdasarkan hak, dimana orang dapat menggunakan hak milik dan memiliki kebebasan untuk bernegoisasi, membuat perjanjian dan memulai aktivitas bisnis.

Norberg mengingatkan, para kapitalis menjadi berbahaya ketika, alih-alih mencari keuntungan melalui kompetisi, mereka berkongsi dengan pemerintah. Kapitalis sejati, tidak mencari keuntungan dan hak istimewa melalui koridor-koridor kekuatan politis. Masalahnya, pengusaha seringkali ingin bermain politik, sementara politisi ingin bermain sebagai pebisnis. Padahal itu bukan ekonomi pasar tapi ekonomi campuran dimana pengusaha dan politisi saling mengacaukan peran masing-masing. Kapitalisme bebas, ingatnya, adalah ketika politisi menekuni politik liberal dan pegusaha menjalankan usaha.

Pemikir asal Swedia ini memberi catatan, bahwa kapitalisme yang sedang dia rayakan merupakan sistem yang mungkin akan terwujud ketimbang sistem ekonomi yang telah ada sekarang. Dan pada intinya, keyakinan terhadap kapitalisme adalah keyakinan terhadap kemanusiaan. Katanya.

Dan wasiat Norberg, para pengkritik globalisasi selalu piawai dalam hal menunjukan bahaya kapitalisme bagi individu seperti, penutupan pabrik, pemotongan gaji dan sebagaiya. Hal-hal seperti itu memang benar terjadi; namun dengan berpatokan pada contoh kasus semata, kita dapat kehilangan realitas yang lebih luas tentang cara kerja sistem politik atau ekonomi dan tentang nilai fantastis yang ditawarkan sistem tersebut bagi mayoritas masyarakat jika dibandingkan dengan alternatif-alternatif lain.

Persoalan selalu ditemui dalam setiap sistem politik dan ekonomi, tapi menolak semua sistem bukalah sebuah pilihan. Berburu contoh-contoh negatif yang dapat terjadi di ekonomi pasar cukup mudah dilakukan. Dengan cara ini air atau api dapat dibuktikan sebagai benda yang buruk dan jahat, karena orang dapat tenggelam atau terbakar, tetapi itu bukanlah gambaran seluruhnya.




 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Februari 2009 in CATATANKU

 

3 responses to “Manifesto Kaum Kapitalis dan Hidangan Para Ekonom Liberal

  1. insan sitorus

    27 Februari 2009 at 7:16 pm

    krisis global yg sedang berlangsung ternyata tdk membuat kapok kaum kapitalis. padahal, kapitalisme telah mempertontonkan kebobrokannya dan kekalahannya dgn sistem ekonomi alternatif lainnya….

     
  2. kidungjingga

    19 Maret 2009 at 11:11 am

    wadduuuhh… abot…
    v aya kang… dimana ayeuna? kumaha rencana bulan februari tea teh, janten? ayeuna nuju di ‘dunia lain’ atuhh…

     
  3. iimm kota mataram

    4 Mei 2010 at 6:31 am

    berbicara kapitalis adalah berbicara tetang orang2 kya yang bisa mengotak atik dunia ini lalu di mana letak kita di tengah orang2 kya
    ,,,,,,,,,,,,,?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: