RSS

Ulama Fikih Dan Genealogi kekerasan

11 Mei

Ulama Fikih Dan Genealogi kekerasan

Oleh: Yayan Sopyani al-hadi

(Tulisan ini sudah dimuat di Koran Tempo)

 

Dalam Opini Tempo ( 18/10/2005) yang berjudul ‘Jihad Melawan Terorisme’, saudara Mohamad Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (JIL) menyatakan bahwa ulama punya peran vital terhadap terorisme. Peran itu bisa positif apabila ulama bisa mengemas dan menyuguhkan agama sebagai ajaran perdamaian, kerukunan, dan anti kekerasan. Ulama juga bisa berperan negatif apabila mereka meracik dan menghadirkan agama kepada ummat sebagi ajaran penuh kebencian dan kekerasan. Selain itu, Guntur juga ‘menyadari’ bahwa agama sebagai doktrin memiliki benih intoleransi dan kekerasan yang termodifikasi dalam Nash Al- Qur’an dan As- Sunnah.

 

Dalam Islam, gerakan terorisme muncul sebagi salah satu varian dari pemikiran dan sikap keberagamaan yang beragam. sehingga mengeneralkan kaum muslim sebagai teroris atau mengangap ajaran Islam melegitimasi terorisme merupakan kesimpulan yang salah. Terorisme Islam lahir karena ekslusivisme sikap keberagamaan yang bermuara pada tekstualisme faham keberagamaan.

Dalam sejarah awal Islam kelompok teroris diwakili oleh kaum Khawarij yang menolak dialog rasional komunikatif dan kesepakatan damai ( tahkim) antara Imam Ali Bin Abi Tahalib dengan pemberontak sadis Muawiyah Bin Abi Sufyan yang masuk Islam secara terpaksa pada peristiwa pembebasan kota Mekkah (fathu Mekkah). Dengan alasan menyalahi firman Tuhan yang dianggap benar menurut pemahamannya, mereka membunuh Imam Ali Bin Abi Thalib serta bersembunyi digurun-gurun pasir untuk melakukan teror terhadap ummat Islam yang berbeda dengan keyakinan dan pendapatnya.

Kelompok Khawarij menyatakan diri sebagi satu-satunya juru bicara yang paling sah dibanding kelompok lain. Mereka juga membenarkan intervensi dalam politik dengan cara mengutuk kelompok yang dianggap telah melenceng dan meleset dari fondasi agama yang benar. Mereka, dengan mengungkapkan hak istimewa lebih tinggi yang didasarkan pada kebenaran agama, membenarkan tuntutan agar etika yang berlaku dalam kelompoknya ditingkatkan menjadi suatu moralitas bersama. Mereka juga menuntut agar dogmanya dipaksakan dengan cara apapun, temasuk pembunuhan dan bom bunuh diri. Mereka berkeyakinan dan memastikan bahwa kebenaran agama yang tunggal diturunkan dengan cara yang tidak bisa dipertanyakan.

 

Kaum Khawarij meyakini bahwa kebahagian dan kesempurnaan atau tujuan akhir dari agama adalah monopoli satu golongan tertentu atau bisa dicapai dengan meniti worldview ( minhaj) dan the way of life (manhaj) kelompok tertentu. Kelompok lain juga membawa hakikat dan kebenaran, tapi hanya ada satu pemahaman yang membentangkan jalan kebahagiaan. Penganut ajaran kelompok lain, dalam pandangan khawarij, walaupun keberagamaan mereka baik dan akhlak mereka benar dalam sisi kemanusiaan, tapi tetap tidak bisa selamat. karena itu unutuk meraih keselamatan mereka harus meraih jalan tertentu.

 

Argumentasi Khawarij ini berasal dari keyakian teologi fatalistik ( akidah jabariyah) dan Teologi Sunni As-A’ariyah ( yang sebenarnya jabariyah wajah baru) yang menyatakan bahwa wajib mengimani Allah, tapi tidak berdasarkan akal. Kewajiban ini penting karena Allah telah memerintahkan kita untuk untuk mengenali-Nya melalui nash. Corak pembuktian teologis ini menciptakan daur ulang yang tak berujung ( circular reason). Imanilah Tuhan karena Tuhan telah memerintahkannya dalam nash. Padahal kita tidak tahu siapakah Tuhan itu?. Berbeda dengan aliran Syi’ah yang menganggap bahwa kewajiban mengimani Allah dan menaati segala perintah-Nya adalah kerja akal. Pengenalan terhadap Tuhan Harus didasari dan diawali oleh nalar rasional (aql burhani).

 

Aliran teologi jabariyah dan as’ariyah memang masih menyisakan problem teologis dan metodologis yang serius. Namun kedua aliran ini sangat mendominasi pemikiran didunia Islam terutama Indonesia.. Relevansi tulisan ini adalah ketika kedua aliran teologis ini ( yang hakikatnya sama) juga menyatakan bahwa keselamatan hanya terdapat dalam lingkup karunia dan Inayah Ilahi. Adapun upaya manusia (kasb) untuk mencapai keselamatan itu dianggap sia- sia dan tidak akan berhasil. Karenanya konsekuensi dari keselematan itu ialah harus mengetahui manifestasi sumber keselamatan. manifestasi itu hanya didapat dan hanya bisa diketahui dari pemahaman nash yang tekstual. Tekstualisme merupakan episteme dengan mengunakan metodologi pemikiran tekstual- eksplanatif ( bayani) yang menjadikan teks suci sebagi otoritas penuh unutuk memberikan arah dan arti kebenaran.

 

Nalar tekstual ekspalanitif pada masa kodifikasi al- Qur’an ( tadwin) difahami sebagai aturan- aturan penafsiran wacana ( qowaanin tafsir al-khithabi) dan syarat- syarat memproduksi diskursus ( Syuruut intaj al-khitab). Syafi’I, salah satu tokoh madzhab Sunni dan dianggap peletak dasar yurisprudensi Islam mengungkapkan ( mengukuhkan?) metodologi tekstual-ekspalanatif dalam lima tingkatan. 1) Teks al- Qur’an yang tidak memerlukan penjelasan lanjut. 2) Teks al- Qur’an yang beberapa bagiannya masih global dan membutuhkan penjelasan teks sunnah.3) Teks al- Qur’an yang keseluruhannya masih global sehingga membutuhkan penjelasan teks sunnah. 4) Teks sunnah sebagai penjelas dari sesuatu yang tidak terdapat dalam teks al- Qur’an. 5) Teks ijtihad yang dilakukan dengan analogi (qiyas) dan induksi tematis (istiqra) atas sesuatu yang tidak terdapat dalam teks al- Qur’an maupun sunnah.. dari penjelasan ini Syafi;I mengukuhkan bahwa pokok ( ushul) ada tiga; al- Qur’an Sunnah, dan Qiyas/ istiqra.

 

Selanjutnya para pemikir muslim pengguna nalar bayani yang kebanyakan ahli fikih mengikuti pola fikir yang dibangun Syafi’I kemudian memahami nash Al-Quran dan As-Sunnah dengan berpegang kepada redaksi teks yang partikular dan terkurung pada lokalitas ( Abed Al- jabiry, 1991). Sementara akal, bagi para tekstualis hanya digunakan sebagi pengaman ototitas teks tersebut. Sehingga ketika berhadapan dengan teks lain atau pemahaman terhadap teks yang berbeda, mereka mengambil sikap mental yang dogmatik, defensif, dan apologetik. Begitu juga ketika berhadapan dengan the other (Al-Akhor) yang berwujud peradaban yang modern, kosmopolit, sekular, rasional, realitiv dan amoral maka bom bunuh diri dan tindak kekerasan menjadi solusi terbaik bagi mereka untuk menyelesaikan problem sosial. Apalagi ditengah hegemoni dan dominasi wacana peradaban barat yang dianggap ‘musuh’, mereka merasa bahwa ruang dialog dan komunikasi menjadi hal- yang sia- sia dan tak ada artinya.

 

Kelompok teroris Muslim Khawarij memang sudah punah sejak pertama kali muncul karena pemahaman dan sikapnya yang keras dan radikal. Serta mendapat intimidasi dari penguasa yang juga tiran dari dinasti Ummayah dan Abasiyah. Namun sebagai kerangka pikir dan nalar pergerakan, kelompok- kelompok yang menyerupai dan mengambil ide Khawarij akan terus hadir dalam ruang kehidupan. Dan pemahaman ini akan terus bersemi ketika Ulama dan lembaga Ulama ( Majlis Ulama?) cenderung formalistik dan eksoterik. Sehingga menganggap kebenaran itu tunggal, menolak pluralistik kebenaran dan memberi ‘restu’ terhadap kekerasan.

 

Untuk mengikis benih kekerasan dan teror yang mengatasnamakan agama, pembacaan terhadap nash yang tekstual-eksplanatif (bayani) harus diimbangi dengan pembacaan nas yang rasional-demosntratis-realistis (burhani al-waqi’i) serta mulai mengapresiasi pendekatan sufistik yang mecari sumber pemahaman melalui pengalanman eksperiental-gnosis (irfani) sehingga dapat menghargai sesama dan memahami orang lain secara intersubjektif. Disisi lain, Ulama- ulama Fikih yang cenderung formalistik dan eksoterik dalam memhami agama harus mulai melakukan dekontruksi pemikiran (tafkikul al-afkar) yang lebih moderat sehingga bisa menghidangkan ajaran agama yang sejuk, damai dan penuh ketentraman. Minimal, dapat mengakui kebenaran dari orang lain. Wallahu ‘alam

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2008 in OPINI: NADHAR

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: