RSS

Keterbukaan dan Pencerahan Islam

11 Mei

Keterbukaan dan Pencerahan Islam

Oleh: Yayan Sopyani al-Hadi

 

 

Menurut Muhammad Abed al-Jabiri—pemikir muslim kontemporer asal Maroko—dalam kitabnya Bunyah al-Aql al-‘Arabi, sejarah Islam diliputi oleh benturan pemikiran (The Class of Epistemology) antara filosof yang menggunakan nalar burhani (rasional-demonstratif), fakih dan sastrawan yang menggunakan nalar bayani (tektusal-ekspalnatif), serta sufi yang menggunakan nalar irfani (gnosis-eksperiental). Tak mengherankan bila terjadi pergolakan pemikiran. Imam Ghozali, Misalnya, dalam al-Tahafut al-Falasifah mengkafirkan Ibnu Sina dalam tiga hal. Ibnu Rusyd dalam al-Tahafut Fie al-Tafahut menganggap bodoh imam Ghozali. Imam Syafi’i menolak istihsan Abu Hanifah, dan Ibnu Hazm—untuk menyindir Sayfi’i—dalam Ibthal al-Qiyas mengatakan bahwa yang pertama menggunakan qiyas adalah Iblis; yaitu ketika menolak sujud kepada Adam, karena merasa diciptakan dari api dan Adam dari tanah. Kata al-Jabiri, dalam kitabnya yang lain, Nahnu wa al-Turats, untuk meminimalisir perbedaan dan benturan, maka perlu keterbukan beragam epistemologi untuk mencerahkan pemikiran ke-Islaman.

 

Keterbukaan merupakan syarat awal dari kebangkitan pemikiran Islam. Yang mau belajar dari manapun dan kapanpun, tidak fanatik madzhab, non-sektarian dan mencintai dialog. Dengan keterbukaan, kekuatan logika ummat akan terasah sehingga apresiatif terhadap segala perubahan yang terjadi dalam dunia post-modern. Dengan keterbukaan pula, nilai-nilai Islam dapat diaktualkan dari ruang-ruang konseptual yang beku dan membatu.

 

Keterbukaan lahir dari keperihatian yang mendalam atas segala bentuk kebodohan. “tiada kepapaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan” kata Ali bin Abi Thalib. Kebodohan yang diakibatkan dari keterbatasan informasi tidak saja melahirkan sikap yang tertutup, radikal, inferior, jumud, ekstrem, romantis historis, tapi juga menyuburkan gerakan pengakkafiran (harokah al-takfir) terhadap orang yang berbeda pemahaman. Tak ayal, bagi kelompok status quo pemikiran, fanatik, kaum ekstremis, gagasan baru yang diawali dengan keterbukaan bak halilintar di siang bolong. Daya kejutnya seperti mencabik-cabik jaringan sistem kekuasaan, meludahi aroma ortodoksi, dan melecehkan hirarki otoritas. Memang, untuk mata yang terbiasa dalam kejumudan dan kegelapan, cahaya matahari terasa begitu menyakitkan. Banyak yang merasa tersinggung. Pengikutnya—yang kadang tak tahu menahu—pun ikut tersinggung. Dan rantai ini memuntahkan sumpah serapah, sikap emosional yang lazimnya tak keluar kecuali dari kebiasaan menyusun kekuatan logika, selain logika kekuatan.

 

Ketertutupan—sebagai lawan dari keterbukaan—tumbuh subur dengan penyumbatan informasi dan penjumudan diri (self incurred). Yang pertama ummat tidak punya bekal dalam menialai dan membandingkan pemahaman keagamaan yang mendekati kebenaran. Sedangkan penjumudan diri, kata Immanuel Kant dalam What I Enlighment, terjadi bukan hanya karena kekurangan bahan pemikiran, tapi karena ketidakmampuan mengambil keputusan untuk menggunakan pemikiran yang tersedia. Selain itu, saat ini, ada beberapa hal yang perlu dicermati bagaimana ketertutupan betah menggelayut dalam alam bawah sadar masyarakat muslim.

 

Pertama, feoadalisme sebagai internal colonialism. Secara sosiologis, kata Emile Durkheim, dalam Division of Labour in Society, budaya feodal tubuh subur dalam masyarakat agraris dengan hirarki yang sangat kuat. Secara psikologis, ungkap Everest Hagen, feodalisme melahirkan kepribadian yang otoriter. Yaitu kepribadian yang ditandai dengan kepasrahan terhadap realitas sebagaimana sudah dirumuskan dan diwariskan oleh adat istiadat. Dalam birokrasi, feodalisme nampak dalam sikap menjilat dan ungakapan “asal bapak senang”. Dalam sikap keberagamaan, feodalisme terlihat dalam sikap taklid yang membabi buta kepada qaul para kyai dan petuah para murrabi walaupun bertentangan dengan al-Quran dan al-Sunnah. Al-Qur’an dalam hal ini menggambarkan kaum feodalistik: “apabila mereka diseru kepada kebenaran, mereka menjadikan tradisi, adat dan perkataan leluhur mereka sebagai alasan untuk menolak keberanan itu (QS. 2: 170, 33:66-67)

 

Kedua budaya pop (pop cultur). Budaya pop sebagai lawan dari high cultur—tidak saja difahami sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem tapi pula bisa dimaknai sebagai keinginan untuk keluar dari formalisme. Sayang, kata Jurgen Habermas dalam Knowlegde and Human Interest, budaya pop seringakali muncul sebagai ekspresi indentitas komunal dari keinginan untuk sekedar tampil beda. Tak ada genealogi dan arkeologi pengetahuan yang diadopsi melainkan karena trend. Individu didalamnya hanyalah subordinat dalam galaksi simulacra yang mudah dipengaruhi dan dikendalikan; sesuatu yang tidak bernalar. Dalam budaya pop keberagamaan munculah segita ekstrem; Neo-Muktazilah, Neo-Tasawwuf dan Neo-Khawarij.

 

Neo-Muktazilah hadir dengan wacana yang dikembangkan komunitas muslim liberal. Dengan semangat relativisme kebenaran mereka menolak kejumudan ulama salaf ber-madzahab kufah, Basrah, Bagdad dan Madinah. Tapi sayang, mereka terjebak dalam kejumudan bentuk baru dengan mengadopsi begitu saja pemikiran madhzab Andalusia dengan sedikit dibumbui ushul fiqh-nya al-Sayathibi dan Najmuddin al-Thufi. Mereka mengkritik Imam madzhab masa lalu tapi terjerumus dengan sikap taklid kepada realitas kekinian. Semenara Neo-Tasawwuf nampak dalam bentuk tradisi mistik yang asal jadi sebagai bentuk dari pelarian (escapisme) masyarakat yang terasaing secara psikologis. Maka maraklah kelompok-kelompok dzikir berjamaah yang diepenuhi oleh tangisan histeris—yang seringkali direkayasa. Mereka adalah generasi baru pseoud-sufism. Buka kezahidan yang diperoleh tapi kejumudan yang didapat. Sedangkan Neo-Khwarij hadir dalam gerakan pengkafiran (harokah al-takfir) yang mengatasnamakan ‘Negara Islam’ dan berjubahkan ‘La Hukma illa Allah’ dengan bermodalkan Qur’an Surat al-Maidah ayat 44, 45 dan 47. Neo-Khawarij sangat patuh kepada teks-teks formal al-Qur’an. Mereka hampir tidak dapat menangkap yang tersirat. Mereka mengambil hanya apa yang tersurat. Mereka merasa paling berpegang kepada al-Qur’an dan paling menjunjung tinggi syariat Islam hanya karena sudah mengutip sespotong ayat yang menunjang pendapat mereka. Tak jarang, mereka menggunakan ayat yang khitob-nya orang kafir untuk ditujukan kepada saudaranya yang sesama muslim.

 

Ketiga teologi simbolis. Teologi tidak membicarakan problem keagamaan yang mendasar selain semangat memeperjuangakan nuansa-nuansa soimbolis masa lalu dengan pemahaman agama yang kaku dan baku. Nilai ke-Isalaman seseorang hanya dipandang dari surban, jubah dan jenggot. Teologi simbolis mewariskan gagasan yang miskin dan kering serta krisis ketokohan sebagai buahnya. Sehingga di Indonesia, sangat sulit menyebutkan tokoh ummat yang punya pengetahuan yang mendalam terhadap kitab klasik karya ulama salaf dan menguasai pemahaman yang luas terhadap keilmuan sosial modern.

Klop sudah!! Bila feodalisme menjadi sistem sosial, budaya pop sebagai aura pemikiran generasi muda dan teologi simbolis sebagai paradigma, maka kejumudan dan ketertutupan akan terus bergentayangan dalam pemahaman keagamaan masyarakat msulim Indonesia.

 

Dengan demikan, wacana keterbukaan sebagai pra-syarat awal pencerahan pemikiran Islam adalah suatu keniscayaan. Pikiran-pikiran yang berbeda harus dimediasi dalam ragam dialog. Bukan dengan desas-desus (fitnah, ghibah dan namimah) dibalik fatwa yang tak berakhlak dibelakang layar. Dengan dialog, kita dapat mengetahui dunia lain dan fenomena yang beragam sehingga memperkaya referensi dan pengalaman.

 

Keran-keran pemikiran perlu dibuka lebar-lebar. Dengan keterbukaan, ummat mendapatkan kesempatan untuk mereguk harakah tajdid, agar air pencerahan mendinginkan sedkit kepala-kepala generasi ummat yang terjerembab budaya pop. Agar sel sekteranisme kaum muqallidun mendapatkan sel pengganti yang berorientasi ukhuwwah. Agar virus kebenciaan pemuja simbol lenyap dalam kubangan samudra cinta yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah

Wallahu ‘alam

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2008 in OPINI: NADHAR

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: