Bismillahirrahmanirrahiem
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Saudaraku, aku dilahirkan pada senin tanggal 16 Muharram 1403 H bertepatan dengan tanggal 01 November 1982 di Tasikmalaya Kecamatan Cipedes. Ketika aku mulai balita, aku lebih dulu tahu hurup Arab daripada hurup latin.
Sejak kecil aku belajar mengaji di dua tempat (sebelum aku mulai masuk SD). Yang satu, katanya, Ustazd PERSIS dan yang kedua Kyai kampung NU. Dua ormas Islam, yang dikampungku, sangat berbeda secara diametral. Keluarga besarku, hampir semua beraliran dan berfahamkan NU–-lebih tepatnya NU Kultural. Sedangkan ke-dua orang tuaku, ber-”aqidah”kan PERSIS.
Sekitar umur 7 tahun aku masuk SDN Benda II dan disaat yang bersamaan aku masuk Madrasah Ibtidaiyyah (MD) milik PERSIS. Orangtuaku berharap dan selalu mendorong untuk memahami ajaran-ajaran PERSIS, katanya biar bisa berdebat dengan kedua pamanku, yang nyantri di Pondok NU (sekarang kedua pamanku sudah punya pondok sendiri–-jadi pengasuh Pondok Nurul Ghoffar).
Maka, ketika kelas 1 SD dan juga kelas 1 MD, aku sudah membaca buku ringkas sejarah para Nabi. kelas 2, aku sudah khatam membaca kisah-kisah sahabat Rasulullah (yang paling kusenang kisah sahabat Ali bin Abi Thalib dan Abu Dzar al-Ghifary). Kelas 5 SD aku sudah baca buku “Soal-Djawab” karya A.Hassan, yang fenomenal. Dengan buku itu, aku selalu tampil percaya diri untuk “membantai” pemahaman orang yang mengaku dan berfahamkan NU. Walau demikian, hubunganku dengan kedua pamanku–-yang sekali lagi NU-–tetap baik walau dalam banyak hal–-terutama fiqh–-aku ingin sekali mendebatnya. bahkan aku sempat belajar juga di pondok kedua pamanku. Belajar Kitab Kailani, Jurumiyyah , Sulam al-Taufiq , dan Ta’lim al-Muta’alllim .
Setelah selesai SD dan MD, aku Masuk Pesantren Persatuan Islam No. 67 Benda Tasikmalaya, yang Pimpinan pondoknya adalah Ketua Umum PP PERSIS, Drs.KH.Shiddiq Amien, MBA . dari sana aku belajar tentang dasar-dasar ajaran PERSIS. di Pesantren aku belajar, Kitab Hadits Bulug al-Marhom karya Ibnu Hajar al-Asqolani dan juga sarahnya, Kitab Subul al-Salam karya Imam al-Shon’ani. Selain itu juga belajar Kitab Hadits Imam Bukhori, Jami al-Shohih . Untuk bidang akidah aku mengkaji kitab Ushul al-Tsalatsah karya Muhammad bin Abdul Wahhab (embah nya gerakan wahabi).
Dalam bidang Fiqh, aku membaca kitab Hadyu al-Rasul yang merupakan ringkasan kitab Zaad al-Ma’ad Fie Khoiril Ibad . Selain itu aku juga membaca secara otodidak, kitab Fiqh al-Sunnah karya Sayyid Sabiq dan kitab Nail al-Author karya Imam Syaukani. Dalam bidang akhlak, ada buku Bahr al-Adab . Dalam Ilmu alat, Bahasa dan Sastra Arab, aku belajar Kitab Shorof , Kitab Nahwu , Bayan , Badi’ dan Ma’ani , selain otodidak kitab Jami’ al-Durus al-Arabiyyah karya Syek Musthafa al-Ghulayani dan al-Balaghat al-Wadhihah .. Dalam sejarah, aku belajar Kitab Nur al-Yaqin sementara dalam Ushul Fiqh belajar Mabadi Awaliyah , al-Sulam , dan kitab Ushul al-Fiqh karya Abu Zahrah. Untuk tafsir, aku belajar kitab Tafsir Ayat al-Ahkam dan Shofwat al-Tafasir dan juga ilmu manthiq . Pelajaran yang paling kusuka dan selalu mendapatkan nilai 9 adalah pelajaran Ilmu Balaghoh dan Ushul al-Fiqh .
Selain itu, aku suka menghabiskan waktu diperspustakaan pesantren, yang kata salah satu ustdaz, buku-bukunya terlalu “ketinggian”. Diperpustakaan itu, aku berkenalan dengan beberapa pemikir melalui karya dan buku-bukunya. Aku berkenalan dengan Hasan al-Bana, Muhammad Quthb, Sayyid Quthb, Abu Ala al-Maududi, Maryam Jameelah, Ismail Raji al-Faruqi, Muhammad Iqbal, Yusuf al-Qaradhawi, Muhammad Ghozali. aku membaca karya-karya pemikir Indonesia, Muhammad Natsir, Isya Anshori, Endang Saifudin Anshari (yang sangat mempengaruhiku melalui bukunya Wawasan Islam ) Mr. Roem, Buya Hamka, KH.Firdaus AN, A.Hassan, KH. Siradjudinn Abbas (”yang memusuhi” PERSIS), bang Imad (Kuliah Tauhid nya menghangatkanku), Amien Rais (Cakrawala Islam dan Tauhid Sosial ), Abdurrahman Wahid, dan Yusril Ihza Mahendra. Sejak, kelas 2 MTs, aku juga menyukai dan melahap semua buku Emha Ainun Nadjib (yang paling berkesan, Indonesia bagian dari Desa Saya ). Di Perpus itu juga, aku berkenalan denga Majalah Sastra Horison. D ari Horison, aku mengenal Sutardji Colzoum Bachri, Akhdiat K Mihardja, Chairil Anwar, Ayip Rasyidi, Afrizal Malna, Jamal D Rahman, Putu Wijaya, WS Rendra, Remy Silado dan Arifin C. Noor.
Hampir seratus persen ustadzku menyesatkan faham SYIAH. Anenya diperpus itu, berlangganan Bulletin Hikmah milik Kang Jalal. dari majalah itu aku mengenal Ayatullah Muthahari, Ali Syariati, Rasul Ja’farian dan juga nongol Fazlurahman (yang semakin aku kenal setelah kuliah di UIN). Aku juga membaca buku Ikhtilaf Sunni- Syiah karya Syekh Syaraffudin al-Musawwi dan. diluar itu, waktu aku lalui dengan membuka “Ensiklopedia Dunia”.
Kemudian, aku melanjutkan studi di UIN Syarif Hidayatulah Jakarta Fakultas Syariah dan Hukum dengan Konsentrasi Perbandingan Madzhab Hukum Khusus (kelas international dengan pengantar studi bahasa Arab dan Inggris). Selain mengenal dosen yang plural dalam beragamn aliran dan madzhab, aku juga mulai terbiasa dan akrab dengan beragam kitab Fikih perbandingan; Fikih Perbandingan dalam Ibadah , Jinayah , Siyasah , Mu’ammalat dan Iqtishadiyah serta Munakahat . Semua Madzhab aku pelajari; Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali, Dzahiri dan Ja’fari. Madzhab yang terakhir disebut , semakin aku akrabi dan aku jatuh cinta padanya. Akupun mulai mendalami madzhab ini dari beragam literature maupun mengaji kepada Prof Dr. Jalaludin Rakhmat berakaitan dengan manthiq dan ilmu hadits di Islamic College for Islam Studies (ICAS) setiap kamis sore. Aku juga belajar kepada ustadz Hasan Dalil, Umar Shahab, Husein Sahab dan Muhsin labib di Islamic Cultural Centre. Studi akhirku di UIN mengambil judul skripsi: Ta’arudh al-Qiyas Fie Istinbat al-Ahkam al-Syar’iyyah; Dirasah al-Tahliliyyah Wa Muqaranah Baina al-Fikr Imam Syafi’I Wa Ibnu Hazm al-Dhahiri (Dialektika Analogi dalam Konklusi Hukum Islam; Studi Analitis dan Komparatif antara Pemikiran Imam Syafi’i dan Ibnu Hazm al-Dzahiri)
Selain Kuliah di UIN, aku sangat bangga bisa berada dilingkaran Ciputat yang melahirkan banyak pemikir dan terkenal dengan Madzhab Ciputat-nya. Dari sini, aku mengenal para pemikir Islam kontemporer dengan makin intens. Aku membaca karya Fazlurrahman, Muhammad Arkoun, Hassan Hanafi, Muhammad Abed al-Jabiri, Muhamad Syahrur, Nasr Hamid abu Zayd, Farrid Essack, Khalid Abou Fadhl, Fatima Mernissi, Abdullahi Ahmad al-Naim. Memang sejak kuliah di UIN aku mulai bosan dengan para pemikir muslim komtemporer yang telah aku akrabi sejak di Pesantren, diantaranya tokoh-tokoh Ikhwan al-Muslimin. Walau aku merasa bahwa Risalah Pergerakan -nya Hassan al-Bana dan Ma’alim Fie al-Thariq -nya Sayyid Quthb, sampai sekarang mempengaruhiku.
Selain yang formal diatas, semenjak semester pertama masuk UIN aku sangat menyenangi Pergolakan Pemikiran Islam Ahmad wahid, Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie dan Catatan Pinggir -nya GM. Dari sana aku gandrung akan pemikiran Filsafat dan sosiologi secara intens. Dalam filsafat, aku gali pemikiran Socrates hingga Madzhab Frankfut. Dalam Sosiologi ku telaah, August Comte hingga Gidens dan George Ritzer. Hingga di IMM Cabang Ciputat aku menjadi Presidium Fascho Learning Centre (Forum kajian Filsafat, Sosiologi, Sastra dan Islamic Studies)
Hingga pada titik akhir aku merasa jenuh. Sejak keluar pesantren dan masuk Kuliah aku jenuh dengan pemikiran para pemikir Ikhawan dan Jema’at al-Islam di Pakistan, akhirnya aku jenuh juga dengan Tradisi Barat. Ditengah kejenuhan itulah, aku merasakan oase yang sangat menggairahkan akal dan menentramkan kalbu, ketika membaca karya-karya Ayatullah Murtadha Muthahhari dan bercumbu dengan Fihi Maa Fihi dan al-Matsnawi -nya Jalalludin Rumi, Manthiq al-Thair -nya al-Attar, dan Risalah al-Qusayiriyyah -nya al-Qushairi. Puncaknya aku mengalami kenikmatan setelah mereguk Hikmah al-Mut’aliyyah Mulla Shadra.
Berdasar hal itulah, aku sadar, bahwa aku menjadi lebih toleran dan terbuka. Entah karena bacaan yang beragam, kuliah di konsentrasi perbandingan atau lingkungan yang komplek dan plural; Keluarga besar NU, belajar di PERSIS yang wahabi dan dzhahiriyah , mengenali tradisi salafi, menggauli pemikiran liberal, akrab dengan tradisi literature Syiah dan aktif di Muhammadiyah.
Akhirnya Aku berpikir: Aku bukanlah aku yang mandiri sebagaimana diteriakkan Kierkegard dan Sartre serta para Filosof eksistensialis. Namun aku juga bukan sekedar lahir dan ada serta menerima begitu saja kesadaran yang diwariskan lingkungan seperti dibisikkan De Saussure dan para pemikir strukturalis. Aku—sebagimana kata Wahib—hanya menjadi final ke-akuanku (perilaku dan pemikiran) setelah aku sakaratul maut .
Dalam organisasi, aku pernah menjadi Ketua Umum Pimpinan Komisariat Syariah dan Hukum IMM Ciputat, Sekretraris I IMM Cabang Ciputat, Sekretaris Umum IMM Ciputat dan Ketua Umum DPD IMM DKI Jakarta 2007- 2009 . Sekarang, selain aktif di Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Jakarta sebagai Wakil Sekretaris Jenderal, aku juga bekerja sebagai journalist di sebuah media online.
Itulah sekedar perkenalan diri ku. Aku tidak bermaksud berpanjang kata dengan perkenalan itu. Mohon maaf kalau ada hal yang nampak dilebih-lebihkan, dan mohon maaf pula, kalau banyak hal yang tidak diuraikan.
Billahi Fie Sabil al-Haq Fastabiq al-Khairat
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaruh
Weww ilmu agamanya luas, imam idaman tentunya
Ilmu mas segitu luasnya (pembedanya) sehingga menjadi lebih toleran dan terbuka, ini yang terpenting mas.
Oleh: Rita on Juli 18, 2008
at 3:33 am
huhuhuhuhuh, lam kenal juga kak, semoga bermanfaaat obrolannya hehehe
Oleh: icha farma on Juli 18, 2008
at 7:02 am
WOW…panjang & lengkap banget cerita. Lam kenal :) :) :)
Best Regard,
Bintang
http://elindasari.wordpress.com
Oleh: elindasari on Juli 18, 2008
at 2:00 pm
Salam hangat, semoga bisa berbagi ilmu..
Oleh: Indah on Juli 18, 2008
at 3:20 pm
wah judulnya sekilas tentang,,,,ternyata isinya panjang lebar dan lengkap hehe salam kenal
Oleh: yellashakti on Juli 19, 2008
at 4:07 pm
Assalamu’alaikum kang yayan…
Insya Allah komunikasi kita jalan yah kang… secara spiritualitas ada banyak yang ingin saya pelajari dan saya share…
YM barangkali?
wassalamu’alaikum
Oleh: kidungjingga on Juli 21, 2008
at 9:57 am
assalamu’alaikum kang yayan!!!
maap…baru bales kunjungannya! abis liburan seh…hehehe…
mudah2an bisa belajar banyak dari dikau ya!!
————————————————————
wa’alaikum salam Wr. Wb, Mbak Rhainy.
semoga kita bisa bertukar pikiran dan berbagi wawasan.
salam, Yayan Sopyani al-hadi
Oleh: rhainy on Agustus 21, 2008
at 12:26 pm
Bismillah,
Wassalamualaikum wr wb
Salam ukhuwah…………………….
Sesungguhnya Al Hak adalah jelas dan sudah diterangkan betul oleh Rosululloh SAW. Kita tidak perlu mencari kebenaran lain. Kadang akal-akal kita merasa pandai,mungkin karena kita merasa lulusan S1,S2 atau S3.Atau mungkin karena kita begitu diagungkan oleh orang2 di sekitar kita.Akan tetapi,kemanfaatan kita terbesar bagi orang lain adalah ketika orang lain ikut merasakan manisnya buah keimanan,manisnya hidup diatas Al Qur’an dan As Sunnah. Tidak terlena kehidupan dunia yang sementara ini.
Nasehat ana, sebutlah Ulama dengan panggilan yang baik(MBAH WAHABI)maksudnya apa???
Semoga Alloh menjaga ukhuwah kita dan yang lainnya,walau hanya lewat dunia maya.
Wassalamualaikum
——————————————————-
Bismillahirrahmanirrahiem.
Salam ukhuwah kembali akhi fillah. Semoga kita senantiasa berada dalam hidayah-Nya. Saya sepakat bahwa sangat berbeda jauh antara Hak dan bathil, al-Haqqu Bayyinun wa al-Haramu wa al- Bayyinun. Hak dan Bathil sudah jelas batasnya dan sudah terang perbedaan garisnya.
Saya juga sepakat, bahwa kita jangan merasa paling pandai, sementara lautan ilmu belum pernah ditelusuri dan samudra pemikiran tak kunjung terselami. Kita tentu ingat—sebagaimana tercatat dalam hadits imam al-Bukhori—peringatan Allah SWT kepada Nabi Musa alaihi al-salam, ketika bertanya, siapakah yang paling pandai di dunia ini. Dengan cepat tanggap Nabi Musa menjawab bahwa dirinya paling pandai. Lalu Allah SWT, menegur dengan cara memerintahkan Nabi Musa untuk belajar ilmu lagi kepada Nabi Khidir alaihi al-salam. Belum sampai Nabi Musa kepada ilmu Nabi khidir, Nabi Musa sudah tidak tahan dengan ilmu khuduri-nya Nabi khidir. Sang Nabi saja yang memperoleh ilmu dengan al-Kasf mendapat batasan ilmu, apalagi kita manusia biasa yang mencapai ilmu dengan al-kasb.
Bukti dari kerendah-dirian kita dalam hal ilmu, maka kita harus banyak belajar dan menggali wawasan. Sekali saja kita merasa paling pandai, maka kita sudah berada dalam tahap kejumudan. Sekali saja kita merasa bahwa kita yang paling memahami arti hakiki dari Hak dan Bathil, maka kita sudah terjerembab kedalam jurang kesombongan. Sebagai contoh, kita semua yakin seyakin-yakinnya bahwa al-Quran itu suci. Saya juga yakin seyakin-yakinnya, bahwa siapapun yang meragukan kesucian al-Quran adalah sesat, se-sesat-sesatnya. Namun pemahaman manusia terhadap al-Quran tidak sesuci al-Quran (kecuali pemahaman Rasulullah SAW yang berada dalam naungan-Nya). Barang siapa yang menyucikan penafsiran manusia sebagai sesuatu yang final benar sebagaimana al-Qur’an itu sendiri, maka dia telah menduakan al-Quran. Barang siapa yang mengganggap final pemikiran seseorang, maka dia sudah jatuh ke dalam lembah ketaklidan.
Syekh (untuk tidak menyebut mbah) Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri mengutuk orang-orang yang taklid dan mendewakan ulama. Syekh Wahabi itu—sebagaimana termaktub dalam kitabnya al-Tauhid dan Ushul al-Tsalatsah—mengharamkan sikap mengikuti ulama tanpa berdasar ilmu. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an, Wa Laa Tuqfu Ma Laisa Laka Bihi Ilmun, jangan engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang hal itu.
Jadi, kita jangan merasa paling pandai dengan menyalahkan pemahaman orang lain (sebab itu adalah kejumudan), dan kita juga jangan menyucikan pemikiran seseorang hingga mendewakannya (sebab itu adalah ketaklidan)
Atas nasihat akhi untuk menghormati ulama, saya ucapkan syukron katsiro. Sebab kewajiban kita sebagai sesama muslim adalah ”Tawashau Bi al-Haq Wa Tawashau Bi al-Shabr”. Sebutan Mbah untuk Syekh Muhammad bin Abdul wahhab, bukanlah niat saya untuk tidak menghormati beliau (apa bedanya ”Makna lafdzi” syekh bagi orang Arab dan Mbah bagi orang Indonesia, saya kira sama saja). Apalagi kitab-kitab beliau sudah saya baca dan saya pegangi sejak dulu di pesantren terutama tentang tauhid rububiyah, uluhiyah, mulkiyah dan asmaiyyah. Walaupun saya menghormati pendiri faham wahabi ini, bukan berarti saya menyucikan dan menganggap benar pemikirinnya. Bagi saya, yang paling Hak adalah al-Qur’an dan Sunnah al-Shohihah. Selain itu, meyimpan banyak kemungkinan salah, termasuk pemahaman semua orang terhadap al-Quran dan Sunnah al-shohihah itu. Dan itu juga yang didakwahkan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Saya sangat senang dengan tegur sapa dari akhi, mudah-mudahan silaturrahiem diantara kita tetap berlanjut.
Salam hangat, Yayan Sopyani al-Hadi
Oleh: alislami on Agustus 23, 2008
at 5:46 am
BIsmillah,
Assalamualaikum wr wb
Ilmu bukan dilihat dari banyaknya dia membaca, atau banyaknya dia menelaah atau banyaknya buku-buku yang dia miliki. Akan tetapi Ilmu adalah pemahaman yang benar.
Saudaraku..Ilmu adalah ketika engkau semakin takut kepada Alloh Ta’ala.
Masya Alloh buku-buku yang akhi baca begitu banyak dibanding saya, khususnya buku2 ulama sunnah seprti Bulighul Maram, Utsul Salatsah dsb. Akan tetapi untuk memahami seperti apa pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab saja akhi tidak paham:
Apakah beliau pernah menamakan pemahamannya dgn WAHABI??Atau hanya sebutan orang-orang yang benci dengan pemahamannya????
Padahal pemahaman beliau tidak berbeda dengan pemahaman imam-imam yang lain,seperti Imam Syafi’i,Ahmad,Hanifah dan Hambali. Begitu juga dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyim, Ibnu Hajar dan Ulama-ulama Sunnah lainnya. Karena pemahaman mereka sama yaitu pemahaman Salafus Sholeh.
Memang secara makna sama, akan tetapi secara pemakaiannya di indonesia berbeda. Pemakaian Mbah lebih bersifat konotatif/Negatif, misalnya mbah dukun…., mbah marijo dll.
Wallohu a’lam, saya hanya menulis apa yang saya yakini. Dan ana yakin seyakin-yakinnya Ilmu yang hak akan membuat seorang hamba semakin takut kepada Alloh Ta’ala, semakin rajin beribadah, bersodaqoh dan semakin memererat tali silaturahmi dengan saudaranya muslim, dan itu semua bisa saya lihat dari siroh hidup para ulama-ulama Sunnah.
Salam Ukhuwah selalu
————————————————————-
Bismillahirrahahmanirrahien
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Kita selalu berdoa kepada Allah dalam setiap shalat, supaya dijauhkan dari kelompok ‘maghdub’ dan ‘dholin’. Semua ulama tafsir salaf sepakat makna maghdub adalah Yahudi dan dholin adalah Nasrani. Yahudi disebut magdub (yang dibenci) karena berilmu tanpa beramal, al-ilmu bi laa amalin. Dan nasrani disebut dholin karena beramal tanpa ilmu, al-amal bi laa ilmin. Orang yang berilmu tanpa amal sama buruknya dengan yang beramal tanpa ilmu. Saudaraku, masalah dialog kita bukan pada masalah ilmu dan amal ini. Dalam hal ini kita sepakat untuk terus meningkatkan ilmu dan amal. Seberapa banyak amal anda dan aku, hanya kita dan Allah SWT yang tahu. Jadi masalahnya bukan pada peningkatan ilmu dan banyak amal. Itu sudah selesi dan kita sepakat!!! Kata-kata anda, yang penting amal bukan sekedar banyak bacaan, kitab dan lain sebagainya, adalah kata-kata yang tidak ilmiah dan menghindar dari masalah yang sesungguhnya.
Sekarang masalahnya seberapa besar amal kita berdasarkan ilmu atau tidak? Atau apa itu salaf al-sholih? Apakah kita harus menyucikan pemikiran mereka sebagai bentuk penghormatan? Lalu apakah betul pemikiran para imam madzhab sama dan tidak bertentangan sebagaimana yang anda katakan? Ini masalahnya.
Apakah kita harus menghormati ulama? Kita sepakat harus menghormatinya. Tapi bagaimana bentuk penghormatannya ini yang berbeda. Santri di Indonesia, menghormati kyai-nya dengan mencium tangan. Kalau ada mencium tangan pada ulama Arab, anda akan dianggap sangat tidak sopan, karena anda menganggap dia berhala. Penghormatan terhadap ulama dan juga orang tua pada umumnya itu adalah nilai universal. Tapi bentuknya, itu sangat lokal dan tergantung daerah. Saya tidak tahu bagaimana cara anda menghormati Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab itu? Kalau saya, cara menghormati beliau dengan cara membaca kita-kitabnya, memahaminya dan kemudian melaksanakan ajarannya. Apa ajarannya? Beliau melarang kita menghormati ulama secara berlebihan kemudian menyucikan pemikirannya, sebagaimana sikap yang berlebihan orang-orang Yahudi pada rahib-rahibnya. Kalau kita menganggap pemikiran Syekh ini sudah pasti betulnya, justu kita tidak menghormati dan tidak melaksanakan ajarannya.
Anda berkata, saya membaca tapi tidak memahami pemikiran-pemikiran Wahabi. Sedangkan anda belum membaca, bagaimana anada memahaminya dan bagaimana anda berkesimpulan bahwa orang lain tidak memahami bacaanya. Sekali lagi ini pernyataan yang kurang ilmiah.
Lalu anda berkata, bahwa pemikiran Imam Abu Hanifah, Imam Sya’fi’i, Imam Ahmad, Imam Malik, Ibnu Taymiyyah, Ibnu Qayyim adalah sama dan tidak berbeda? Sebenarnya, karena ini pernyataan anda, andalah yang harus menunjukan bukti-bukti bahwa mereka tidak berbeda. Dalam kaidah Ushul al-Fiqh disebutkan Al-Itsbatu Yuthlabu Biha al-Dalil, Yang menetapkan perkara yang dimintai argumentasinya. Sedangkan anda hanya mengungkapkan pernyataan ini tanpa menyebutkan argumentasinya. Dalam ilmu manthiq, dalam hal ini anda juga mengalami intelectual culdesac. Anda mengalami kerancuan berpikir dengan menjustifakasi A dan B hanya untuk berimajinasi dalam alasan tanpa fakta-fakta yang diungkapkan.
Karena anda tidak mengungkapkan fakta, saya kan mengungkapkan fakta bahwa para ulama-ulama madzhab yang tadi anda sebutkan itu, tidak sama dalam metode berpikir maupun hasil pemikirannya.
Imam Abu Hanifah menulis kitab Fikh al-Akbar, Dalam kitab itu, beliau menulis tentang beberapa metodologi pengambilan hukum (istibath al-ahkam) diantaranya dengan metode Istihsan. Lalu apakah Imam Syafi’i mengikuti pemikiran Imam Abu Hanifah? Tidak, bahkan beliau berkata kasar pada Imam Abu Hanifah, ‘Man Istahsana Fa Qad Syara’a (kalau anda memahami ilmu Bahasa Arab dan uslubnya pasti anda tahu makna terdalam ungkapan ini). Lalu ketika Imam Syaif’i menawarkan metode Qiyas dalam pengambilan hukum Islam sebagaimana dipaparkan dalam al-Um dan al-Risalah, apakah semua ulama salaf sepakat? Tidak, Imam Ibnu Hazm al-Dhahiri menulis kitab khusus untuk menolak semua pemikiran Imam Syafi’i dalam kaitannya dengan Qiyas, yaitu kitab Ibthal al-Qiyas. Kata-kata Ibnu Hazm sangat kasar dengan mengatakan; Orang yang pertama menggunakan qiyas adalah iblis ketika diperintah sujud pada adam, dan iblis mengatakan, saya terbuat dari api sedangkan adam dari tanah’.
Zaman sekarang, apakah yang mengaku salaf ini Sama? tidak sama sekali. Mungkin nanti kita bisa berdialog, bagaimana pertentangan yang sangat panas antara Syekh Shalih fauzan, Syekh Muqbil, Syekh Utsaimin, Syek Yusuf al-Qaradhawi dan Syek Nashirudin al-Bani. Mudah-mudahan anda bisa mengakses kitab-kita mereka kalau anda sudah akrab dengan nama-nama diatas. Kalau belum, silahkan anda mengakrabi nama-nama dan karya-karyanya.
Sebagai gambaran, Syekh Muhammad al-Ghozali (mantan Rektor al-Azhar dan mantan seorang ikhwan), pernah menulis buku, al-Sunnah al-Nabawiyyah Baina Ahl al-Hadits dan Ahl al-Fiqh. Kalau anda membaca kitab ini, mungkin anda heran bagaimana pertentangan diantara ulama itu ada. Saya hanya heran, Grand syekh al-Azhar saja mengakui perbedaan itu, kenapa anda dengan yakin mengatakan tidak ada perbedaan diantara ulama-ulama madzhab. Atau silahkan anda buka kitab Ibnu Rusyd, al-Bidayat al-Mujtahid Wa al-Nihayat al-Muqtashid.
Terakhir, walau berbeda dan tidak sama, mari kita buka keran-keran dialog yang mencerahkan dan dalam kerangka saling menghormtai..
Semoga silaturrahiem kita terus berjalan
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Salam hormat, YSH==
Oleh: alislami on Agustus 25, 2008
at 6:07 am
wew………. lengkap bgt storyna…. n’…ilmu agamany luasss bgt…. salam hangat sazalah……
————————————-
ilmu agama saya sangat minim dan terbatas, salam juga, YSH
Oleh: tifandhaluhzan on Agustus 25, 2008
at 12:19 pm
assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
makasih kang atas kunjungannya, moga2 doa akang dikabulkan oleh Allah terutama doa akang tentang keran silaturahiem..
wah tar bisa banyak belajar agama nih dari orang2 yg luas pemahaman agamanya seperti kang yayan en mas alislami..
—————————————————————
Wa;alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh
trims atas kunjungan baliknya. trims kedua juga atas doanya. saya masih dangkal dalam pemahaman agama, dan ingin terus banyak belajar pada semua orang…
Oleh: rhadhia on September 3, 2008
at 3:02 am
assalamu’alaikum
kunjungan balik…
wah, bisakah kakak bantu ajari aku yang bodoh ini??
Pasti kakak punya banyak pengetahuan tentang agama, aku masih harus banyak belajar…
———————————————————–
Wa’alaikum salam Wr.Wb.
aku juga masih belajar dan masih merasa ilmu agama sangat sedikit
Oleh: redesya on September 3, 2008
at 4:07 pm
Assalammualaikum warrahmaatullaahi wabaarakaatuh
Jazakallahu untuk kunjungan dan uluran tangan persahabatannya…
————————————————————-
Wa’alaikum salam wr.Wb
Syukran Katsiro bi huduriki fi baiti internity
Wa jazakillah khairan katsiro ala tashhifiyah al-ukhuwah baini wa bainaki ya ukhtii wa barakallahu laki fie hayatiki wa a’ialtik. Wa Farikhtu idza kunti tunaqish bi fi masail al-katsirah, wa khusushan fi mas’alati al-islamiyyah aw al-wihdah al-islamiyyah fi ashri al-aulamah. ( ini mbak yanti pasti pandai bahasa arab, sekalian aku ingin belajar bahasa Arab ya, hehe)
Oleh: yanti on September 4, 2008
at 5:29 am
Subhanallah…betapa saya terkagum-kagum membaca riwayat pembelajaran atas suatu keilmuan yang begitu dalam. Memahami sedemikian banyak kitab tanpa menanggalkan toleransi. mungkin saya hanya pernah mendengar 2 atau 3 buku diantara daftar buku-buku diatas, bahkan tidak ada satupun yang pernah saya pelajari sampai khatam, hiek..
Terimakasih Kang, atas undangannya untuk mengarungi samudera keilmuan yang sedemikian luasnya..
———————————————————
Subhanallah, segala puji hanya milik Allah. Allahu akbar wa Allahu ‘alam.
Saya masih perlu banyak belajar lagi. terimakasih atas kunjungannya juga
Oleh: pipiew on September 4, 2008
at 7:45 am
Assalamu’alaikum Wr. Wb :)
silaturahmi balik nih Kang…
Oleh: OP on September 6, 2008
at 5:28 am
Bismillah,
Assalamualaikum
” Yang penting adalah pemahaman yang benar bukan sekedar banyak bacaan, kitab dan lain sebagainya, ”
Maaf saudaraku, itu bukan kata-kata saya, tapi saya ambil dari ceramah seorang ustadz ketika beliau membacakan sebuah kitab seorang ulama besar,saya lupa kitabnya dan ulamanya.Mungkin nanti bisa saya cari lagi.
Tapi itu menjadi pokok-pokok kaidah ahlus sunnah wal jamaah. Karena kita tahu, banyak orang berilmu, akan tetapi amalannya jauh sekali dari ilmu yang dia baca. Atau bahkan menggunakan ilmunya hanya untuk mencari duniawi.
Saudaraku bisa membaca biografi para ulama ahlus sunnah, seperti Syaikh Utsaimin, Ibnul Qoyim,Syaikh bin Baz dsb. Karena seperti yang diucapkan para ulama ILMU ADALAH ENGKAU SEMAKIN MERASA TAKUT KEPADA ALLOH.
Setiap di muka bumi ini tidak ada yang ma’sum perkataanny kecuali Rosululloh SAW, makanya kita dilarang Taklid kepada Ulama.
Para Ulama Ahlus Sunnah banyak berselisih dalam hal-hal fikih, tapi mereka tidak berselisih dalam manhaj mereka, yaitu manhaj salafus sholeh. Sebagai contoh, Syaikh Al Bani dan Syaikh Bin Baz, mereka berselisih dalam hal misalnya tentang turunya terlebih dahulu tangan atau lutut ketika sujud. Akan tetapi Syaikh Bin Baz berkata kepada Syaikh Al Bani” Dia Ulama Ahlus Sunnah”. Begitu juga perkataan terhadap ulama sunnah yang lain seperti Syaikh Muqbil, Syaikh Fauzan, Syaikh Utsaimin. Mereka banyak berselisih dalam hal fikih,akan tetapi mereka tidak berselisih dalam hal MANHAJ mereka.
Tapi berbeda ketika dengan Syaikh Yusuf Qordhowi dan Al Imam Al Ghozali, para ulama banyak mengingkari pemikirannya dan banyak bantahan terhadap manhaj yang mereka tempuh.
Saudaraku bisa melihat bantahan-bantahan para ulama sunnah terhadap kedua ulama tersebut.
Saudaraku, kadar keilmuan saya masih jauh dari saudara dan kapasitas saya memang belum sampai menelaah seperti saudara.
Akan tetapi,sekalai lagi saya ucapkan Jazakalloh khoiron tuk semua nasihatnya.
Oleh: alislami on September 6, 2008
at 7:18 am
Ass ww, Kang Yayan.
Waduh, saya minder berat membaca riwayat pendidikan agama kang Yayan. Saya sejak lahir sudah Muhammadiyah, sepuluh tahun sekolah di Muhammadiyah (TK, SD, SMP), tapi doa yang paling hafal cuma Robbana aatina fii dunya hasanah, wa fil akhirati khasanah, waqina ‘adza banaar …
Boleh ngaji sama Kang Yayan nih?
Wass ww,
Tuti
———————————————————————
Wa’alaikum salam ibu.
Mohon maaf baru balas, ramadhan ini agenda sangat padat sekali.
Mari kita ngaji bersama-sama bu, saya juga harus menimba banyak pengalaman dan wawasan.
Salam
Oleh: tutinonka on September 6, 2008
at 4:58 pm
kang yayan
Assalamualaikum…
Terimakasih banyak telah berkunjung ke blog Ibu, ini blognya Lansia ( lanjut usia )…dan baru belajar,karena Ibu ingin pengalaman ,cerita,inspirasi bisa dibagikan kepada kaum perempuan khususnya.
Ibu baru tengok tengok,belum baca lengkap blog kang Yayan….waaah…ibu minder,betapa pengetahuan agama kang Yyan begitu banyak, ibu harus banyak belajar, tapi insya Allah..ingin lebih baik
salam
—————————————————————————————
Wa’alikum salam
Terima kasih juga bu….saya juga berminat untuk mencari inspirasi dari siapapun, termasuk dari ibu yang sudah melajap asam garam kehidupan. insyaAllah, saya juga akan banyak belajar dengan ibu…
Untuk Tulisan tentang ROKOK, mari kita tolak ROKOK dimanapun ROKOK berada,
Oleh: dyah suminar on September 7, 2008
at 3:44 am
walah…kayaknya aku hrs belajar banyak ni sama kang yayan… salam kenal kang.. :-)
—————————————–
Salam, mai sama-sama kita salingbelajar..
Oleh: kucingkeren on September 8, 2008
at 8:36 am
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,,
wah,,
subhanallah,,
kehidupan yang sangat dalam,,
hmhm,,
salam silaturrahim yah kang,,
jazakallah atas kunjungannya,,
:mrgreen:
——————————————————-
Wa’alaikum salam Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Salam silaturrahiem juga, trims juga atas kunjungannya
Salam
Oleh: tHa_aDzeL on September 9, 2008
at 7:00 am
salam kenal yah kang.. :)
makasih udah berkunjung ke blog saya..
*kunjungan balik*
——————————–
Salam kenal juga dan t\makasih juga dan melakukan kunjungan ke blog sederhana ini…
Oleh: dEEt on September 9, 2008
at 11:52 am
Salam wa Rahmah.
Semoga Allah SWT memperbanyak orang seperti Ust. Yayan. dan Ust. senantiasa berada dalam lindungan dan petunjuk Allah SWT serta meniti jalan RasulNya dan Para Penerusnya yang Suci.
Doa’kan juga saya agar bisa sepertimu, Ya Ustadz.
Syukran.
Oleh: Dindin Mulyadin on Oktober 28, 2008
at 1:29 pm
salam kenal. aku bukan orang yang pandai, hanya sedikit membaca. perbedaan yang ada hendaknya menjadi tauladan untuk bisa memahami Al Haq. semakin bertambah ilmuku semakin mengerti aku akan kebodohanku, begitu ungkapan Imam Al Ghazali. semoga kita mampu menterjemahkan rahasia yang tersirat dalam penciptaan alam semesta dan menemukan apa yang harus ditemukan.
Oleh: dedi suhadi on November 6, 2008
at 7:56 am
mugia tambih bijak
Oleh: kangend on Desember 2, 2008
at 5:24 am
gak mau koment,
Oleh: adit on Desember 6, 2008
at 6:34 am
Assalamua’laikum Kang
salut..semoga tambah berkah ilmunya kang..
sayah mah minder baca riwayat Akang, saya tu ngaji doank di Persis (ga pernah mesantren) tapi merasa paling PERSIS hehehehe..Astagfirulloh.
salam kenal Kang..
Waa’laikumsalam
Oleh: tresna on Januari 1, 2009
at 6:10 pm
assalamualaikum saudaraku…
mestinya setiap muslim berpandangan seperti antum,luwes dan toleran terhadap sesama muslim lainnya…dulu ketika masih nyantri juga saya terjebak dalam taklid yg membabi buta. merasa bahwa pemahaman kitalah yg paling benar sementara yg lain salah. seiring dengan bertambahnya wawasan dan telaah..maka sayapun berpikiran persis seperti sampeyan…lebih toleran.
jadi keingat perkataan MBAH SYAFI’I…
RO’YI SHOWABUN YAHTAMILUL KHOTTHO’ WA RO’YU GHOIRIY KHOTTHO’UN YAHTAMILUSH SHOWAB…
salam kenal akh….kibarkan Islam dengan ukhuwah…
Oleh: rifaimovic on Januari 16, 2009
at 5:05 pm
Assalamualaikum Kang.
Salam kenal aja dari Garut.
Oleh: zaldy munir on Januari 22, 2009
at 12:49 pm
Salam.
mampir kang,,
salam dari Bogor.
smpe jumpa di Gresik kalo ke sana.
met berjuang!!
Oleh: Azhar on Januari 26, 2009
at 10:01 am
Assalamualaikum Kang Yayan
Salam kenal Amnur dari Sumut
Wah hebat betul kau Yayan, aku jadi kagum
dengan Biodata mu, semoga bisa diamalkan walaupun sedikit.
Yayan bagaimana pergerakan IMM, menghadapi Pemilu. kita didaerah sudah mulai gerah.
Oleh: amnur on Februari 14, 2009
at 8:19 am
Assalamualikum wr wb
kang yayan kumaha damang? masih kenal ana? tos lami nya teu tepang. sok dimana wae ayeuna.
salam,
Rifqi Fauzi
Oleh: rifqifauzi on Februari 19, 2009
at 8:11 pm
fantastis….bwt kang yayan….sukses turs….
Oleh: zhevhermaone on Maret 6, 2009
at 9:39 am
salam kenal dari Malaysia
————————-
salam kenal juga kawan….
Oleh: dr w on Mei 8, 2009
at 9:02 pm
assalamualaikum……!!
saya mau tanya…..!! alamat tempat tinggal syeikh yusuf al-qaradhawi, dimana ya, saya minta tolong kalau emang tau krm ke alamat saya, kurang lebinya mhn mf, trimakasi atas semuanya.
Oleh: assby assyiddiqi on Mei 19, 2009
at 5:36 pm
ass,Kang Yayan!!”…………….Salah satu mencari kebenaran diantaranya dengan mencari dan mencari kebenaran itu sendiri yang bersumber dari nash-nash al-Quran dan Assunah.tapi…tidak selamanya apa yang kita cari dari berbagai sumber dalam artian referensi buku untuk mendekatkan diri pada kebenaran terkadang terjebak dalam arah pemikiran sang PENGARANG buku tersebut.jadi arah konsisten dalam paradigma al-Quran dan Assunah terkadang Syak.mengaca pada pengalaman akan menjadikan sebuah tolak ukur dan perbandingan dalam mencari sebuah kebenaran.akankah pelabuhan bermuara diantara nalar-nalar dan perasaan hati!di satu sisi kebenaran tidak akan tertukar,tapi disisi lain kebenaran diselimuti kesalahan yang tersembunyi dan tersusun Rapih………………………
Oleh: Yanto Budianto on Juni 21, 2009
at 9:45 am
subhanallah. mabruk ya kang yayan. aku hanya bs ngucapin immawan yg satu ini sungguh luarbiasa. mungkin kita sedikit ada persamaan, yaitu lahir di luar muhammadiyah namun kini aktif di muhammadiyah. kemudian, sejak kecil jg sdh aktif di dunia berbalut islam (ibtidaiyah, pesantren hingha IAIN). Namun, sungguh. perbedaan kita sngt jauh. ilmu agamaku begitu dangkal dibandingkan immawan. bacaanku sngt sdikit, pemahaman dan daya analisaku yg rendah. dan tentu, aku ingin sperti kang Yayan. makasih. billaahi fii sabilil haq, fastabiqul khairat.
Oleh: insan khoirul qolbi sitorus on September 16, 2009
at 8:28 pm
assalamu’alaikum kang yan….
iya benar…. sudah lama ga silaturrahim. mudah2an selalu sehat ya…
Oleh: kidungjingga on Oktober 7, 2009
at 1:16 pm
Assalaamualaikum.
Salam kenal, kang..
Saya Zulfi Ifani dari IMM Komsat UGM….
Oleh: Zulfi on Oktober 9, 2009
at 5:06 am