RSS

Arsip Kategori: KONSEPSI MANUSIA: MM

Manusia Dan Binatang

Manusia Dan Binatang

 

 

Manusia merupakan sebangsa binatang. Dia memiliki banyak kesamaan dengan binatang lainnya. Pada saat yang sama manusia memiliki banyak ciri yang membedakan dirinya dengan binatang lainnya, dan ciri-ciri ini menempatkannya lebih unggul daripada binatang. Ada ciri-ciri utama yang mendasar, yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Sifat-sifat manusiawi manusia ditentukan oleh ciri-ciri ini. Ciri-ciri ini, yang juga menjadi sumber dari apa yang dikenal sebagai budaya manusia, berkaitan dengan dua hal. Yaitu, sikap dan kecenderungan.

 

Pada umumnya binatang memiliki kemampuan melihat dan mengenal dirinya sendiri dan dunia sekitarnya. Dan dengan berbekal pengetahuan yang didapat dari melihat dan mengenal ini, binatang berupaya mendapatkan apa yang diinginkannya. Seperti binatang lainnya, manusia juga memiliki banyak keinginan. Dan dengan bekal pengetahuan dan pengertiannya, manusia berupaya mewujudkan keinginannya. Manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Bedanya adalah manusia lebih tahu, lebih mengerti, dan lebih tinggi tingkat keinginannya.

Kekhasan ini —yang dimiliki manusia— membedakan manusia dengan binatang, dan membuat manusia lebih unggul daripada binatang lainnya.

 

 

Pengetahuan dan Keinginan Binatang

Hanya melalui indera (alat untuk merasa, mencium bau, mendengar, melihat, meraba, dan merasakan sesuatu secara naluri—pen.) yang dimiliki, binatang mengenal (mengetahui) dunia. Itulah sebabnya;
Pertama, pengetahuannya dangkal. Pengetahuannya tidak sampai menguasai detail sesuatu dan tidak memiliki akses ke hubungan-hubungan internal yang terjadi dalam sesuatu itu.

Kedua, pengetahuannya parsial dan khusus, tidak universal dan tidak umum.

Ketiga, pengetahuannya regional (terbatas pada wilayah tertentu), karena terbatas pada lingkungan hidupnya dan tidak lebih dari itu. Keempat, pengetahuannya terbatas pada saat sekarang dan tidak berkenaan dengan masa lalu dan masa mendatang. Binatang tidak mengetahui sejarahnya sendiri atau sejarah dunia. Karena itu, binatang tidak berpikir tentang masa depannya, dan juga tidak merencanakan masa depannya.

 

Dari segi pengetahuannya, binatang tak sanggup keluar dari kerangka lahiriahnya, kekhususannya, lingkungan hidupnya, dan masa sekarangnya. Binatang tak pernah lepas dari keempat bidang ini. Kalau saja secara kebetulan dapat melewati batas-batas keempat bidang ini, itu terjadi secara naluriah dan tidak sadar, bukan karena kehendak dan pilihannya sendiri.

 

Seperti pengetahuannya, tingkat keinginan dan hasrat binatang juga terbatas ruang lingkupnya;
Pertama, segenap hasratnya bersifat material, dan tidak lebih dari makan, minum, tidur, bermain, kawin, dan membuat sarang. Binatang tidak memiliki kebutuhan spiritual, nilai moral dan sebagainya.
Kedua, segenap keinginannya bersifat pribadi dan individualistis, berkaitan dengan binatang itu sendiri, atau paling banter berkaitan dengan pasangan dan anak-anaknya.  Ketiga, binatang bersifat regional, yaitu berkaitan dengan lingkungan hidupnya saja. Keempat, binatang bersifat seketika itu, yaitu berkaitan dengan masa sekarang.

 

Dengan kata lain, dimensi keinginan dan kecenderungan dalam eksistensi binatang ada batasnya, begitu pula dimensi eksistensi pengetahuannya. Dari sudut pandang ini juga, binatang harus hidup dalam batas tertentu. Jika binatang mengejar sasaran yang berada di luar batas ini dan misalnya, yang berkenaan dengan spesiesnya pada umumnya dan bukan dengan satu individu atau berkenaan dengan masa depan dan bukan dengan masa kini, sebagaimana terlihat terjadi pada binatang tertentu yang hidup berkelompok seperti lebah, itu terjadi secara tak sadar, secara naluri, dan karena aturan langsung dari kekuatan yang telah menciptakannya dan yang mengatur seluruh alam.

 

 

Pengetahuan dan Keinginan Manusia

 

Wewenang manusia di bidang pengetahuannya, informasi dan pandangannya, dan di bidang keinginan dan kecenderungannya, sangat luas dan tinggi. Pengetahuannya berangkat dari sisi eksternal sesuatu menuju sisi realitas internal sesuatu itu, saling hubungan yang terjadi di dalam sesuatu itu, dan menuju hukum yang mengatur sesuatu itu. Pengetahuan manusia tidak terbatas pada ruang atau waktu tertentu. Pengetahuan manusia mengatasi batas-batas seperti itu. Di satu pihak, manusia mengetahui peristiwa yang terjadi sebelum dia lahir, dan di lain pihak manusia bahkan mengetahui planet-planet selain bumi dan bintang-gemintang. Manusia mengetahui masa lalu maupun masa depannya. Dia mengetahui sejarahnya sendiri dan sejarah dunia, yaitu sejarah bumi, langit, gunung, sungai, tumbuhan dan organisme hidup. Yang menjadi pemikiran manusia bukan saja masa depan yang jauh, namun juga hal-hal yang tak terhingga dan abadi. Sebagian dari hal-hal ini diketahui oleh manusia. Manusia bukan sekadar mengetahui keanekaragaman dan kekhasan. Dengan maksud menguasai alam, manusia mencari tahu tentang hukum alam semesta dan kebenaran umum yang berlaku di dunia.

 

Dari sudut pandang ambisi dan aspirasinya, kedudukan manusia luar biasa, karena dia adalah makhluk yang idealistis, tinggi cita-cita dan pemikirannya. Sasaran yang juga ingin dicapainya adalah sasaran yang sifatnya non-material dan tidak mendatangkan keuntungan material. Sasaran seperti ini adalah sasaran yang menjadi kepentingan ras manusia seluruhnya, dan tidak terbatas pada dirinya dan keluarganya saja, atau tidak terbatas pada wilayah tertentu atau waktu tertentu saja.

 

Manusia begitu idealistis, sampai-sampai dia sering lebih menomorsatukan akidah dan ideologinya dan menomorduakan nilai lain. Dia bahkan menganggap melayani orang lain lebih penting daripada mewujudkan kesejahteraannya sendiri. Dan manusia memandang duri yang menusuk kaki orang lain seperti seakan menusuk kakinya sendiri atau bahkan matanya sendiri. Dia merasa bersimpati kepada orang lain dan mau berbagi suka dan duka. Manusia begitu penuh dedikasi kepada akidah dan ideologi sucinya, sampai-sampai dia mudah mengorbankan hidupnya demi akidah dan ideologi sucinya itu. Segi manusiawi dari budaya manusia yang dianggap sebagai roh sejati budaya tersebut merupakan hasil dari perasaan dan keinginan seperti itu.

 

 

Dasar dari Karakter Manusia

 

Berkat upaya kolektif manusia selama berabad-abad, manusia memiliki pengetahuan dan pemahaman yang luas tentang dunia. Informasi yang didapat kemudian dihimpun dan dikembangkan. Setelah mengalami proses dan sistematisasi, informasi ini kemudian menjadi dikenal sebagai “ilmu” dalam artinya yang lebih luas, yaitu jumlah seluruh gagasan manusia tentang kosmos (alam semesta). Di dalamnya tercakup juga filsafat, sebuah produk dari upaya kolektif manusia yang diberi bentuk logika yang khusus.

 

Kecenderungan spiritual dan tingginya kesadaran manusia ada karena manusia mempercayai realitas-realitas tertentu dunia ini, dan karena dedikasinya kepada realitas-realitas tersebut. Realitas-realitas ini sifatnya bukan individualistis dan juga bukan material. Sifatnya komprehensif dan umum, di dalamnya tak ada soal keuntungan ekonomi, dan pada gilirannya merupakan hasil dari pengetahuan dan pemahaman tertentu mengenai dunia yang disampaikan kepada manusia oleh para nabi, atau dilahirkan oleh pemikiran idealistis sebagian filosof.

 

Bagaimanapun juga, kecenderungan spiritual dan suprahewani lebih tinggi yang ada pada diri manusia, jika dasarnya adalah infrastruktur doktrinal dan intelektual, memakai nama agama. Karena itu, kesimpulannya adalah bahwa yang membedakan secara mendasar antara manusia dan makhluk hidup lainnya adalah pengetahuan dan agama, dan bahwa pengetahuan dan agama merupakan dasar dari ras manusia, dan ras manusia ini bergantung pada pengetahuan dan agama.

 

Sudah banyak dibahas tentang perbedaan antara manusia dan spesies binatang lainnya. Sebagian berpandangan bahwa antara manusia dan spesies binatang lainnya itu tak ada perbedaan yang mendasar. Mereka mengatakan bahwa perbedaan pengetahuan merupakan perbedaan kuantitas, atau paling banter perbedaan kualitas, namun bukan perbedaan hakikat. Mereka memandang tidak begitu penting prestasi-prestasi manusia yang luas dan luar biasa di bidang pengetahuan, padahal prestasi-prestasi ini menarik perhatian filosof-filosof besar Timur dan Barat.

 

Kelompok sarjana ini mengatakan bahwa dari sudut pandang keinginan dan hasratnya, manusia tak lebih daripada binatang. Sebagian yang lain percaya bahwa perbedaaan utamanya adalah perbedaan kehidupan. Manusia adalah satu-satunya binatang yang sepenuhnya hidup. Binatang yang lain tak memiliki perasaan, dan tak tahu suka dan duka. Binatang yang lain ini hanyalah mesin-mesin yang setengah hidup. Karena itu, definisi yang sebenarnya mengenai manusia adalah bahwa manusia adalah makhluk hidup. Pemikir-pemikir lain tidak mempercayai itu, dan berpendapat bahwa antara manusia dan makhluk hidup lainnya itu ada per­bedaan yang mendasar. Kelihatannya fokus masing-masing kelompok sarjana ini adalah satu karakteristik manusia. Itulah sebabnya manusia lalu didefinisikan dengan begitu banyak cara yang berlainan. Manusia digambarkan sebagai binatang yang rasional, makhluk yang benar-benar berupaya mendapatkan apa yang dikehendakinya, makhluk yang tak ada ujungnya, makhluk yang idealis, makhluk yang mencari nilai-nilai, binatang metafisis, makhluk yang tak pernah terpuaskan, makhluk yang tak ada batasannya, makhluk yang bertanggung jawab, makhluk yang berpandangan ke depan, agen (faktor atau instrumen) yang bebas, makhluk yang memberontak, makhluk yang suka ketertiban sosial, makhluk yang suka keindahan, makhluk yang suka keadilan, makhluk berwajah ganda, makhluk yang romantis, makhluk yang intuitif, makhluk yang mempercayai standar ganda, makhluk yang dapat mencipta, makhluk yang kesepian, makhluk yang memiliki perhatian kepada publik, makhluk yang fundamentalis, teoretis, dan dapat membuat peralatan, makhluk supranaturalis, imajinatif, spiritualis, transendentalis, dan sebagainya.

 

Tak pelak lagi, masing-masing keterangan ini benar, dilihat dari kualitas-kualitas esensialnya masing-masing. Akan tetapi, jika kita mau mendapatkan ungkapan yang mencakup semua perbedaan mendasarnya, maka harus kita katakan bahwa manusia adalah binatang yang berpengetahuan dan beragama.

 

 

Apakah Sisi Manusiawi Manusia Itu Suprastruktur?

Kita tahu bahwa manusia adalah sebangsa binatang. Manusia memiliki banyak kesamaan dengan binatang lainnya. Namun manusia juga memiliki banyak karakteristik khas. Karena memiliki banyak kesamaan dan perbedaan dengan binatang lainnya, manusia memiliki kehidupan ganda: Kehidupan binatang dan kehidupan manusia, kehidupan material dan kehidupan budaya. Di sini timbul pertanyaan: Apa hubungan antara segi manusiawi manusia dan segi hewaninya, kehidupan manusiawinya dan kehidupan hewaninya? Apakah nilai penting satu segi adalah esensial, sedangkan segi lainnya nilai penungnya sekunder? Apakah satu segi menjadi dasarnya, sedangkan segi lainnya hanyalah refleksi dari segi yang menjadi dasar tersebut? Apakah satu segi menjadi infrastrukturnya, sedangkan segi lainnya suprastrukturnya? Apakah kehidupan material merupakan infrastrukturnya, sedangkan ke­hidupan budaya merupakan suprastrukturnya? Apakah segi hewani manusia merupakan infrastrukturnya, sedangkan kehidupan budayanya merupakan suprastrukturnya? Apakah segi hewani manusia itu infrastrukturnya, sedangkan segi manusiawinya itu suprastrukturnya?

 

Dewasa ini, pertanyaan ini diajukan dari sudut pandang sosiologis dan psikologis. Itulah sebabnya pembahasannya berkisar di seputar pertanyaan apakah di antara karakteristik-karakteristik sosial manusia, kecenderungan-kecenderungan ekonominya yang berkaitan dengan produksi dan hubungan produksi lebih penting daripada karakteristik-karakteristik lain manusia, khususnya yang mencerminkan segi manusiawi manusia, dan apakah karakteristik dan kecenderungan lain manusia hanyalah suprastruktur dari karakter ekonominya? Pertanyaan lain yang juga berkaitan adalah apakah betul ilmu, filsafat, sastra, agama, hukum, etika, dan seni pada setiap zaman hanyalah merupakan perwujudan dari hubungan ekonomi pada zaman itu dan tak memiliki nilai intrinsiknya sendiri?

 

Sekalipun pertanyaan ini diajukan dari sudut pandang sosiologis, namun tak pelak lagi pembahasannya membawa hasil psikologis dan pembahasan filosofis tentang karakter manusia, yang dalam istilah modern dikenal dengan sebutan “humanisme”. Pada umumnya kesimpulannya adalah bahwa sisi manusiawi manusia tidak penting. Yang penting adalah sisi hewani manusia saja. Dengan kata lain, yang didukung adalah pandangan orang-orang yang menyangkal adanya perbedaan mendasar antara manusia dan binatang.

 

Teori ini bukan saja menolak pentingnya kecenderungan manusia kepada realisme, kebajikan, keindahan, dan kepercayaan kepada Allah, namun juga menolak pentingnya pendekatan rasional manusia terhadap dunia dan kebenaran. Dapat ditunjukkan bahwa tidak ada pendekatan yang netral. Tak pelak lagi, setiap pendekatan menunjukkan pandangan material tertentu. Mengherankan bila sebagian mazhab yang mendukung teori yang menyebutkan bahwa manusia pada dasarnya adalah binatang, secara serempak mereka berbicara tentang sisi manusiawi dan humanisme juga.

 

Fakta bahwa perjalanan evolusioner manusia berawal dari sisi hewani manusia dan bergerak menuju sisi manusiawinya, sebuah tujuan yang sangat mulia. Prinsip ini berlaku untuk individu maupun masyarakat. Pada permulaan eksistensinya, manusia tak lebih daripada organisme material. Berkat gerakan evolusioner yang mendasar, manusia berubah menjadi substansi spiritual. Roh (spirit) manusia lahir dalam alam tubuh manusia, dan kemudian menjadi mandiri. Sisi hewani manusia merupakan sarang tempat sisi manusiawi manusia berkembang dan matang. Karakteristik evolusi adalah semakin berkembangnya suatu makhluk, semakin mandiri dan efektiflah dia, dan dia pun akan semakin mempengaruhi lingkungannya. Ketika sisi manusiawi manusia berkembang, sebenarnya sisi ini tengah menuju kemandirian dan mengendalikan aspek-aspek lainnya. Hal ini terjadi pada individu maupun masyarakat. Individu yang sudah mengalami pengembangan me­ngendalikan lingkungan batiniah maupun lahiriahnya. Arti dari perkembangannya adalah bahwa dia telah merdeka dari dominasi lingkungan batiniah maupun lahiriah, dan memiliki dedikasi kepada akidah dan agama.

 

Terjadinya evolusi masyarakat persis seperti terjadinya evolusi roh dalam alam tubuh, dan evolusi sisi manusiawi individu dalam alam sisi hewani individunya tersebut. Perkembangan masyarakat terutama berawal dari dampak sistem ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Aspek budaya dan spiritual masyarakat sinonim dengan jiwa masyarakat bersangkutan. Karena tubuh dan jiwa saling mempengaruhi satu sama lain, maka antara sistem spiritual dan material juga terjadi saling hubungan yang sama. Kalau evolusi individu berarti individu tersebut berjalan menuju kemerdekaan, kemandirian dan supremasi jiwa yang semakin besar, maka evolusi masyarakat juga berarti seperti itu pula. Dengan kata lain, kalau suatu masyarakat semakin berkembang, maka kehidupan budayanya semakin tak bergantung pada kehidupan materialnya. Manusia masa depan merupakan manusia budaya dan manusia agama, akidah dan ideologi, bukan manusia ekonomi, manusia yang mengejar kenikmatan jasmani.

 

Tentu saja, semua ini bukan berarti bahwa masyarakat manusia secara tak terelakkan menapaki garis lurus menuju kesempurnaan nilai-nilai manusiawi, juga bukan berarti bahwa pada setiap tahap waktu selangkah lebih maju ketimbang tahap waktu sebelumnya. Boleh jadi manusia melewati tahap kehidupan sosial, di mana meski terjadi kemajuan teknik dan teknologi namun manusia mengalami kemunduran dari sisi spiritual dan moral, sebagaimana diklaim dialami oleh manusia pada zaman kita.

 

Sesungguhnya, dari sudut pandang material dan spiritual, manusia pada umumnya tengah berjalan ke depan. Akan tetapi, gerakan spiritualnya tidak selalu di garis yang lurus. Gerakan tersebut terkadang berhenti, terkadang balik ke belakang, dan terkadang menyimpang ke kanan dan ke kiri. Namun, pada umumnya merupakan suatu gerakan evolusioner ke depan. Itulah sebabnya kami katakan bahwa manusia masa depan merupakan manusia budaya, bukan manusia ekonomi, dan manusia masa depan merupakan manusia agama, akidah dan ideologi, dan bukan manusia yang mengejar kenikmatan jasmani.

 

Menurut teori ini, aspek-aspek manusiawi pada diri manusia —karena aspek-aspek tersebut fundamental— berkembang mengikuti berkembangnya alat-alat produksi dan bahkan berkembang sebelum berkembangnya alat-alat produksi. Menyusul perkembangannya, aspek-aspek manusiawi manusia berangsur-angsur mengurangi ketergantungan manusia kepada lingkungan natural dan sosialnya, dan mengurangi kesetujuannya kepada kondisi lingkungan. Maka kemerdekaan yang didapat membuat manusia semakin kuat dedikasinya kepada agama dan ideologi, dan meningkatkan kapasitasnya mempengaruhi lingkungan natural dan sosialnya. Kelak, setelah memperoleh kemerdekaan seutuhnya, manusia kemudian menjadi semakin kuat dedikasinya kepada agama dan ideologi.

 

Di masa lampau, manusia kurang mendapat manfaat dari pemberian alam dan belum mampu memanfaatkan sepenuhnya kemampuan-kemampuannya sendiri. Dia menjadi tawanan alam dan tawanan sisi hewaninya sendiri. Namun di masa depan manusia lebih mampu memanfaatkan pemberian alam dan kemampuan-kemampuan yang menjadi sifat manusia itu sendiri. Maka, untuk sebagian besar, manusia akan terbebaskan dari tawanan alam dan tawanan kecenderungan hewaninya sendiri, dan pengendaliannya atas alam dan dirinya pun semakin besar.

 

Menurut pandangan ini, meskipun realitas manusia muncul bersama dengan alam evolusi material dan hewaninya, namun realitas ini sama sekali bukan merupakan cermin dari—dan tunduk kepada—perkembangan materialnya. Itu adalah sebuah realitas yang independen dan progresif. Sekalipun dipengaruhi oleh aspek material, namun realitas ini mempengaruhinya juga. Yang menentukan tujuan akhir manusia adalah evolusi budayanya dan realitas manusiawinya, bukan evolusi alat-alat produksi. Adalah realitas manusiawi yang dalam evolusinya menyebabkan alat-alat produksi berkembang bersama berkembangnya urusan lain manusia. Tidak betul bila perkembangan alat-alat produksi terjadi secara otomatis, dan bila sisi manusiawi manusia mengalami perubahan akibat berubahnya alat-alat yang mengatur sistem produksi.

 

 

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2008 in KONSEPSI MANUSIA: MM

 

Ilmu Pengetahuan dan Agama

Ilmu Pengetahuan dan Agama;

Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Agama

 

 

Telah kita kaji hubungan antara sisi manusiawi manusia dan sisi hewaninya. Dengan kata lain, hubungan antara kehidupan budaya serta spiritual manusia dan kehidupan materialnya. Kini sudah jelas bahwa sisi manusiawi manusia itu eksistensinya independen dan bukanlah sekadar cermin kehidupan hewaninya. Juga sudah jelas bahwa ilmu pengetahuan dan agama merupakan dua bagian pokok dari sisi manusiawi manusia. Kini marilah kita telaah keterkaitan yang terjadi atau yang dapat terjadi antara dua segi dari sisi manusiawi manusia itu.

 

Di dunia Kristiani, sayangnya, bagian-bagian tertentu dari Perjanjian Lama mengajukan gagasan, bahwa terjadi kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan agama. Dasar dari gagasan ini—yang sangat merugikan ilmu pengetahuan dan agama—adalah Kitab Kejadian, Perjanjian Lama. Dalam meriwayatkan “Kisah Adam dan Pohon Terlarang”. Kitab Kejadian, Bab II, ayat 16-17 mengatakan:

“Dan Tuhan Allah memberikan perintah kepada lelaki itu, dengan mengatakan, “Dari setiap pohon di surga, engkau boleh leluasa makan (buahnya). Namun untuk pohon pengetahuan tentang baik dan buruk, engkau tidak boleh makan (buahnya). Karena kalau engkau makan (buah) dari pohon itu, engkau pasti akan mad.”

 

Dalam Bab II, ayat 1-7 dikatakan:

“Kini naganya lebih canggih ketimbang binatang buas sawah yang diciptakan Tuhan Allah. Dan dia berkata kepada wanita itu, “Ya, Tuhan telah berfirman, engkau tak boleh makan dari setiap pohon di surga?” Dan wanita itu berkata kepada sang naga, “Kita boleh makan buah dari pohon-pohon di surga. Namun untuk buah dari pohon yang ada di tengah-tengah surga, Tuhan telah ber­firman, engkau tidak boleh makan buah itu, juga tak boleh menyentuhnya, agar engkau tidak mati.” Dan sang naga berkata kepada sang wanita, “Tentu saja engkau dilarang, karena Tuhan tahu bahwa begitu engkau makan (buah itu), maka kedua matamu akan terbuka, dan engkau pun akan seperti dewa, tahu mana yang baik dan mana yang buruk.” Dan ketika sang wanita tahu bahwa pohon itu baik untuk makanan, dan bahwa pohon itu menyedapkan pandangan matanya, dan sebuah pohon yang dibutuhkan untuk membuat orang jadi arif, wanita itu pun memetik buah dari pohon itu, kemudian memakannya, dan juga memberikan kepada suaminya, dan sang suami pun memakannya. Dan mata mereka pun terbuka, dan mereka mendapati diri mereka telanjang. Lalu mereka menjahit daun-daun ara untuk pakaian mereka'”.

 

Dalam ayat 22-23 dalam Bab yang sama dikatakan:

Dan Tuhan Allah berfirman, “Lihatlah, lelaki itu menjadi seperti Kami, tahu yang baik dan yang buruk. Dan kini, jangan sampai dia mengulurkan tangannya, lalu memetik (buah) dari pohon kehidupan, kemudian makan (buah itu), dan hidup abadi.”

 

Menurut konsepsi tentang manusia, Tuhan, ilmu pengetahuan dan kedurhakaan ini, Tuhan tidak mau kalau manusia sampai tahu yang baik dan yang buruk. Pohon Terlarang adalah pohon pengetahuan. Manusia baru dapat memiliki pengetahuan kalau dia menentang perintah Tuhan (tidak menaati ajaran agama dan para nabi). Namun karena alasan itulah manusia terusir dari surga Tuhan.

 

Menurut konsepsi ini, semua isyarat buruk merupakan isyarat ilmu pengetahuan, dan nalar merupakan iblis sang pemberi isyarat. Sebaliknya, dari Al-Qur’an Suci kita menjadi mengetahui bahwa Allah mengajarkan semua nama (realitas) kepada Adam, dan kemudian menyuruh para malaikat untuk sujud kepada Adam. Iblis mendapat kutukan karena tak mau sujud kepada khalifah Allah (Adam) yang mengetahui realitas. Hadis-hadis Nabi menyebutkan bahwa Pohon Terlarang adalah pohon keserakahan, kekikiran dan hal-hal seperti itu, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan sisi hewani Adam, bukan berhubungan dengan sisi manusiawi Adam. Iblis selalu mengisyaratkan hal-hal yang bertentangan dengan akal dan hal-hal yang dapat memenuhi hasrat rendah (hawa nafsu). Yang mencerminkan iblis di dalam diri manusia adalah hasrat seksual, bukan akal. Beda dengan semua ini, yang kita temukan dalam Kitab Kejadian sungguh-sungguh sangat mengherankan.

 

Konsepsi ini telah membagi sejarah budaya Eropa selama 1500 tahun yang baru lalu menjadi dua periode, yaitu “Zaman Agama” dan “Zaman Ilmu Pengetahuan”, dan telah menempatkan ilmu pengetahuan dan agama saling bertentangan satu sama lain.

 

Sebaliknya, sejarah budaya Islam dibagi menjadi “Periode Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Agama” dan Teriode Ketika Ilmu Pengetahuan dan Agama Mengalami Kemunduran”. Kaum Muslim hendaknya menjauhkan diri dari konsepsi yang salah ini, sebuah konsepsi yang membuat ilmu pengetahuan, agama dan ras manusia mengalami kerugian yang tak dapat ditutup. Kaum Muslim juga jangan secara membuta menganggap kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan agama sebagai fakta yang tak terbantahkan. Bagaimana kalau kita melakukan studi analisis terhadap masalah ini, kemudian kita lihat apakah kedua segi dari sisi manusiawi manusia ini hanya ada pada periode atau zaman tertentu, dan apakah manusia pada setiap zaman nasibnya adalah hanya menjadi setengah manusia, dan selalu menderita akibat keburukan yang terjadi karena kebodohan atau karena kedurhakaan.

 

Seperti akan kita ketahui, setiap agama tentunya didasarkan pada pola pikir tertentu dan konsepsi khusus tentang kosmos (jagat raya). Tak syak lagi, banyak konsepsi dan interpretasi tentang dunia, meskipun boleh jadi menjadi dasar dari agama, tidak dapat diterima karena tidak sesuai dengan prinsip rasional dan prinsip ilmu pengetahuan. Karena itu, pertanyaannya adalah apakah ada konsepsi tentang dunia dan interpretasi tentang kehidupan yang rasional dan sekaligus sesuai dengan infrastruktur sebuah agama yang sangat pada tempatnya?

 

Jika ternyata konsepsi seperti itu memang ada, maka tak ada alasan kenapa manusia sampai dianggap untuk selamanya ditakdirkan mengalami nasib buruk akibat kebodohan atau kedurhakaan. Hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama dapat dibahas dari dua sudut pandang. Sudut pandang yang pertama adalah kita lihat apakah ada sebuah agama yang konsepsinya melahirkan keimanan dan sekaligus rasional, atau semua gagasan yang ilmiah itu bertentangan dengan agama, tidak memberikan harapan dan tidak melahirkan optimisme. Pertanyaan ini akan dibahas nanti dalam “Konsepsi Tentang Kosmos”.

 

Sudut pandang kedua yang menjadi landasan dalam membahas hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan adalah pertanyaan tentang bagaimana keduanya ini berpengaruh pada manusia. Apakah ilmu pengetahuan membawa kita ke satu hal, dan agama membawa kita kepada sesuatu yang bertentangan dengan satu hal itu? Apakah ilmu pengetahuan mau membentuk (karakter) kita dengan satu cara dan agama dengan cara lain? Atau apakah agama dan ilmu pengetahuan saling mengisi, ikut berperan dalam menciptakan keharmonisan kita semua? Baiklah, kita lihat sumbangan ilmu pengetahuan untuk kita dan sumbangan agama untuk kita.

 

Ilmu pengetahuan memberikan kepada kita cahaya dan kekuatan. Agama memberi kita cinta, harapan dan kehangatan. Ilmu pe­ngetahuan membantu menciptakan peralatan dan mempercepat laju kemajuan. Agama menetapkan maksud upaya manusia dan sekaligus mengarahkan upaya tersebut. Ilmu pengetahuan membawa revolusi lahiriah (material). Agama membawa revolusi batiniah (spiritual). Ilmu pengetahuan menjadikan dunia ini dunia manusia. Agama menjadikan kehidupan sebagai kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan melatih temperamen (watak) manusia. Agama membuat manusia mengalami pembaruan. Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama memberikan kekuatan kepada manusia. Namun, kekuatan yang diberikan oleh agama adalah berkesinambungan, sedangkan kekuatan yang diberikan oleh ilmu pengetahuan terputus-putus. Ilmu pengetahuan itu indah, begitu pula agama. Ilmu pengetahuan memperindah akal dan pikiran. Agama memperindah jiwa dan perasaan. Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama membuat manusia merasa nyaman. Ilmu pengetahuan melindungi manusia terhadap penyakit, banjir, gempa bumi dan badai. Agama melindungi manusia terhadap keresahan, kesepian, rasa tidak aman dan pikiran picik. Ilmu pengetahuan mengharmoniskan dunia dengan manusia, agama menyelaraskan manusia dengan dirinya. Kebutuhan manusia akan ilmu pengetahuan maupun agama telah menarik perhadan kaum pemikir religius maupun pemikir sekular.

Dr. Muhammad Iqbal berkata:

“Dewasa ini manusia membutuhkan tiga hal: Pertama, interpretasi spiritual tentang alam semesta. Kedua, kemerdekaan spiritual. Ketiga, prinsip-prinsip pokok yang memiliki makna universal yang mengarahkan evolusi masyarakat manusia dengan berbasiskan rohani.”

 

Dari sini, Eropa modern membangun sebuah sistem yang realistis, namun pengalaman memperlihatkan bahwa kebenaran yang diungkapkan dengan menggunakan akal saja tidak mampu memberikan semangat yang terdapat dalam keyakinan yang hidup, dan semangat ini ternyata hanya dapat diperoleh dengan pengetahuan personal yang diberikan oleh faktor supranatural (wahyu). Inilah sebabnya mengapa akal semata tidak begitu berpengaruh pada manusia, sementara agama selalu meninggikan derajat orang dan mengubah masyarakat. Idealisme Eropa tak pernah menjadi faktor yang hidup dalam kehidupan Eropa, dan hasilnya adalah sebuah ego yang sesat, yang melakukan upaya melalui demokrasi yang saling tidak bertoleransi. Satu-satunya fungsi demokrasi seperti ini adalah mengeksploitasi kaum miskin untuk kepentingan kaum kaya.

 

Percayalah, Eropa dewasa ini paling merintangi jalan kemajuan akhlak manusia. Sebaliknya, dasar dari gagasan-gagasan tinggi kaum Muslim ini adalah wahyu. Wahyu ini, yang berbicara dari lubuk hati kehidupan yang paling dalam, menginternalisasi (menjadikan dirinya sebagai bagian dari karakter manusia dengan cara manusia mempelajarinya atau menerimanya secara tak sadar—pen.) aspek-aspek lahiriahnya sendiri. Bagi kaum Muslim, basis spiritual dari kehidupan merupakan masalah keyakinan. Demi keyakinan inilah seorang Muslim yang kurang tercerahkan pun dapat mempertaruhkan jiwanya. “Reconstruction of Religious Thought in Islam” (Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam).

 

Will Durant, penulis terkenal “History of Civilization” (Sejarah Peradaban), meskipun dia bukan orang yang religius, berkata:

“Beda dunia kuno atau dunia purba dengan dunia mesin baru hanya pada sarana, bukan pada tujuan. Bagaimana menurut Anda jika ternyata ciri pokok seluruh kemajuan kita adalah peningkatan metode dan sarana, bukan perbaikan tujuan dan sasaran?”

Dia juga mengatakan: “Harta itu membosankan, akal dan kearifan hanyalah sebuah cahaya redup yang dingin. Hanya dengan cintalah, kelembutan yang tak terlukiskan dapat menghangatkan hati.”

 

Kini kurang lebih disadari bahwa saintisisme (murni pendidikan ilmiah) tidak mencetak manusia seutuhnya. Saintisisme melahirkan setengah manusia. Pendidikan seperti ini hanya menghasilkan bahan baku untuk manusia, bukan manusia jadi. Yang dapat dihasilkan pendidikan seperti ini adalah manusia unilateral, sehat dan kuat, namun bukan manusia multilateral dan bajik. Semua orang kini menyadari bahwa zaman murni ilmu pengetahuan sudah berakhir. Masyarakat sekarang terancam dengan terjadinya kekosongan idealistis. Sebagian orang bemiaksud mengisi kekosongan ini dengan murni filsafat, sebagian lainnya merujuk kepada sastra, seni dan ilmu-ilmu humanitarian

 

Di negeri Iran ada usulan agar kekosongan tersebut diisi dengan sastra yang penuh kebajikan, khususnya sastra sufi karya Maulawi, Sa’di dan Hafiz. Para pendukung rencana ini lupa bahwa sastra ini sendiri mendapat ilham dan agama dan dan semangat agama yang penuh kebajikan, semangat yang menjadikan agama menarik perhatian, yaitu semangat Islam. Kalau tidak, mengapa sastra modern, meski ada klaim lantang bahwa sastra modern itu humanistis, begitu hambar, tak ada roh dan daya tariknya. Sesungguhnya kandungan manusiawi dalam sastra sufi kami, merupakan hasil dan konsepsi Islami sastra tersebut tentang alam semesta dan manusia. Seandainya roh Islam dikeluarkan dari mahakarya-mahakarya ini, maka yang tersisa hanyalah kerangkanya saja.

 

Will Durant termasuk orang yang menyadari adanya kekosongan itu. Menurutnya, hendaknya sastra, filsafat dan seni mengisi kekosongan itu. Dia berkata:

“Kerusakan atau kerugian yang dialami oleh sekolah dan perguruan tinggi kita, sebagian besar adalah akibat teori pendidikannya Spencer. Definisi Spencer mengenai pendidikan adalah bahwa pendidikan membuat manusia menjadi selaras dengan lingkungannya. Definisi ini tak ada rohnya, dan mekanis sifatnya, serta lahir dari filsafat keunggulan mekanika. Setiap otak dan jiwa yang kreatif menentang definisi ini. Akibatnya adalah sekolah dan perguruan tinggi kita hanya diisi dengan ilmu-ilmu teoretis dan mekanis, sehingga tak ada mata pelajaran sastra, sejarah, filsafat dan seni, karena mata pelajaran seperti ini dianggap tak ada gunanya. Yang dapat dicetak oleh suatu pendidikan yang murni ilmu pengetahuan hanyalah alat. Pendidikan seperti ini membuat manusia tak mengenal keindahan dan tak mengenal kearifan. Akan lebih baik bagi dunia seandainya saja Spencer tidak menulis buku.”

 

Sangat mengejutkan, meskipun Will Durant menganggap kekosongan ini pertama-tama sebagai kekosongan idealistis yang terjadi akibat pemikiran yang salah dan akibat tak ada kepercayaan kepada tujuan manusia, namun dia masih saja berpendapat bahwa problem ini dapat dipecahkan dengan sesuatu yang non-material, sekalipun mungkin imajinatif belaka. Menurutnya, menyibukkan din dengan sejarah, seni, keindahan, puisi dan musik dapat mengisi sebuah kekosongan. Kekosongan ini ada karena manusia memiliki naluri mencari ideal dan kesempurnaan.

 

 

Dapatkah Ilmu Pengetahuan dan Agama Saling Menggantikan Tempat Masing-masing?

 

Telah kita ketahui bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan tak ada pertentangan. Yang terjadi justru keduanya saling mengisi. Sekarang timbul satu pertanyaan lagi: Mungkinkah keduanya mengisi tempat masing-masing?

 

Pertanyaan ini tidak perlu dijawab secara terperinci, karena kita sudah tahu peran masing-masing (agama dan ilmu pengetahuan). Jelaslah bahwa ilmu pengetahuan tak dapat menggantikan peran agama, karena agama memberikan kasih sayang, harapan, cahaya dan kekuatan. Agama meninggikan nilai keinginan kita, di samping membantu kita mewujudkan tujuan kita, menyingkirkan unsur egoisme dan individualisme jauhjauh dari keinginan dan ideal kita, dan meletakkan keinginan dan ideal kita itu di atas fondasi cinta dan hubungan moral serta spiritual. Selain menjadi alat bagi kita, pada dasarnya agama mengubah hakikat kita. Begitu pula, agama juga tak dapat menggantikan peran ilmu pengetahuan. Melalui ilmu pengetahuan kita dapat mengenal alam, kita dapat mengetahui hukum alam, dan kita pun dapat mengenal siapa diri kita sendiri.

 

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa akibat dari memisahkan antara ilmu pengetahuan dan agama, telah terjadi kerugian yang tak dapat ditutup. Agama haras dipahami dengan memperhatikan ilmu pengetahuan, sehingga tidak terjadi pembauran agama dengan mitos. Agama tanpa ilmu pengetahuan berakhir dengan kemandekan dan prasangka buta, dan tak dapat mencapai tujuan. Kalau tak ada ilmu pengetahuan, agama menjadi alat bagi orang-orang pandai yang munafik. Kasus kaum Khawarij pada zamah awal Islam dapat kita lihat sebagai satu contoh kemungkinan ini. Contoh lainnya yang beragam bentuknya telah kita lihat, yaitu pada periode-periode selanjutnya, dan masih kita saksikan.

 

Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah seperti sebilah pedang tajam di tangan pemabuk yang kejam. Juga ibarat lampu di tangan pencuri, yang digunakan untuk membantu si pencuri mencuri barang yang berharga di tengah malam. Itulah sebabnya sama sekali tak ada bedanya antara watak dan perilaku orang tak beriman dewasa ini yang berilmu pengetahuan dan orang tak beriman pada masa dahulu yang tidak berilmu pengetahuan. Lantas, apa bedanya antara Churchill, Johnson, Nixon dan Stalin dewasa ini dengan Fir’aun, Jenghis Khan dan Attila pada zaman dahulu?

 

Dapatlah dikatakan bahwa karena ilmu pengetahuan adalah cahaya dan juga kekuatan, maka penerapannya pada dunia mate­rial ini tidaklah khusus. Ilmu pengetahuan mencerahkan dunia spiritual kita juga, dan konsekuensinya memberikan kekuatan bagi kita untuk mengubah dunia spiritual kita. Karena itu, ilmu pengetahuan dapat membentuk dunia dan manusia juga. Ilmu pengetahuan dapat menunaikan tugasnya sendiri, yaitu mem­bentuk dunia dan juga tugas agama, yaitu membentuk manusia. Jawabannya adalah bahwa semua ini memang benar, namun masalah pokoknya adalah bahwa ilmu pengetahuan adalah alat yang penggunaannya tergantung kepada kehendak manusia. Apa saja yang dilakukan oleh manusia, dengan bantuan ilmu pengetahuan dia dapat melakukannya dengan lebih baik. Itulah sebabnya kami katakan bahwa ilmu pengetahuan membantu kita mencapai tujuan dan melintasi jalan yang kita pilih.

 

Jadi, alat digunakan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Sekarang pertanyaannya adalah, dengan dasar apa tujuan itu ditetapkan? Seperti kita ketahui, pada dasarnya manusia adalah binatang. Sisi manusiawinya merupakan kualitas (kemampuan) yang diupayakannya. Dengan kata lain, kemampuan-kemampuan manusiawi yang dimiliki oleh manusia perlu ditumbuh-kembangkan secara bertahap dengan agama. Pada dasarnya manusia berjalan menuju tujuan egoistis dan hewaninya. Tujuan ini material dan individualistis sifatnya. Untuk mencapai tujuan ini, manusia memanfaatkan alat yang ada pada dirinya. Karena itu, dia membutuhkan kekuatan pendorong. Kekuatan pendorong ini bukan tujuannya dan juga bukan alatnya. Dia membutuhkan kekuatan yang dapat meledakkannya dari dalam, dan mengubah kemampuan terpendamnya menjadi tindakan nyata. Dia membutuhkan kekuatan yang dapat mewujudkan revolusi dalam hati nuraninya dan memberinya orientasi baru. Tugas ini tidak dapat dilaksanakan dengan pengetahuan tentang hukum yang mengatur manusia dan alam beserta isinya. Namun tugas ini baru dapat dilaksanakan jika dalam jiwa manusia tertanam kesucian dan arti penting nilai-nilai tertentu. Untuk tujuan ini manusia harus memiliki beberapa kecenderungan yang mulia. Kecenderungan seperti ini ada karena cara pikir dan konsepsi tertentu tentang alam semesta dan manusia. Cara pikir dan konsepsi ini, serta muatan dimensi dan bukti cara pikir dan konsepsi tersebut, tidak dapat diperoleh di laboratorium dan, seperti akan kami jelaskan, berada di luar jangkauan ilniu pe­ngetahuan.

 

Sejarah masa lalu dan sekarang telah memperlihatkan betapa buruk akibat yang ditimbulkan oleh pemisahan antara ilmu pengetahuan dan agama. Kalau ada agama namun tak ada ilmu pengetahuan, maka arah upaya kaum humanitarian adalah sesuatu yang tidak banyak membawa hasil atau tidak membawa hasil yang baik. Upaya ini sering menjadi sumber prasangka dan obskurantisme (sikap yang menentang ilmu pengetahuan dan pencerahan—pen.), dan terkadang hasilnya adalah konflik yang membahayakan.

 

Kalau ilmu pengetahuan ada namun agama tidak ada, seperti yang terjadi pada sebagian masyarakat modern, maka segenap kekuatan ilmu pengetahuan digunakan untuk tujuan menumpuk harta sendiri, memperbesar kekuasaan sendiri, dan untuk memuaskan nafsu berkuasa dan nafsu mengeksploitasi.

 

Dua atau tiga abad yang baru lalu dapat dipandang sebagai periode mendewakan ilmu pengetahuan dan mengabaikan agama. Banyak intelektual mengira bahwa segenap problem yang dihadapi manusia dapat dipecahkan dengan ilmu pengetahuan, namun pengalaman telah membuktikan sebaliknya. Dewasa ini semua intelektual sepakat bahwa manusia membutuhkan agama. Meskipun agama itu tidak religius, namun yang jelas di luar ilmu pengetahuan. Sekalipun pandangan Bertrand Russel, materialistis, namun dia mengakui bahwa: “Kerja yang semata-mata bertujuan memperoleh pendapatan, maka kerja seperti itu tak akan membawa hasil yang baik. Untuk tujuan ini harus diadopsi profesi yang menanamkan pada individu sebuah agama, sebuah tujuan dan sebuah sasaran.”[6]

 

Dewasa ini kaum materialis merasa terpaksa mengklaim diri sebagai kaum yang secara filosofis materialis dan secara moral idealis. Dengan kata lain, mereka mengatakan bahwa mereka adalah kaum materialis dari sudut pandang teoretis, dan kaum spiritualis dari sudut pandang praktis dan idealistis. Bagaimanapun juga, problemnya tetap: mana mungkin seorang manusia secara teoretis materialis dan secara praktis spiritualis? Pertanyaan ini harus dijawab oleh kaum materialis sendiri.

George Sarton, ilmuwan dunia yang termasyhur, penulis buku yang terkenal, “History of Science” (Sejarah Ilmu Pengetahuan), ketika menguraikan ketidakberdayaan ilmu pengetahuan mewujudkan hubungan antar umat manusia, dan ketika menegaskan kebutuhan mendesak akan kekuatan agama, berkata:

“Di bidang-bidang tertentu, ilmu pengetahuan berhasil membuat kemajuan yang hebat. Namun di bidang-bidang lain yang berkaitan dengan hubungan antar umat manusia, misalnya bidang politik nasional dan internasional, kita masih menertawakan diri kita.”

 

George Sarton mengakui bahwa kayakinan yang dibutuhkan oleh manusia adalah keyakinan yang religius. Menurutnya, ke­butuhan ini merupakan satu di antara tiga serangkai yang dibutuh­kan oleh manusia: seni, agama dan ilmu pengetahuan. Katanya,

“Seni mengungkapkan keindahan. Seni adalah kenikmatan hidup. Agama berarti kasih sayang. Agama adalah musik kehidupan. Ilmu pengetahuan berarti kebenaran dan akal. Ilmu pengetahuan adalah had nurani umat manusia. Kita membutuhkan ketiganya: seni, agama dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan mutlak diperlukan, meskipun tidak pernah memadai.” (George Sarton, Six Wings: Men of Science in the Renaissance, hal. 218. London, 1958)

 

 

 

 
13 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2008 in KONSEPSI MANUSIA: MM

 

Keyakinan Religius

Keyakinan Religius

 

 

Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa tanpa memiliki ideal dan agama, manusia tak dapat hidup sehat, juga tak dapat memberikan pengabdiannya yang bermanfaat kepada umat manusia dan budaya manusia. Bila seseorang tidak memiliki ideal dan agama, maka dia akan asyik memikirkan kesejahteraan hidupnya sendiri, atau akan berubah menjadi robot tak bernyawa yang meraba-raba dalam gelap dan tak tahu tugasnya berkenaan dengan masalah moral dan sosial dalam hidup ini. Dia akan memperlihatkan reaksi yang aneh terhadap masalah moral dan sosial tersebut. Bila seseorang mengikuti suatu mazhab, ideologi atau agama, dia tahu dengan jelas tanggung jawabnya. Namun seseorang yang tanggung jawabnya tidak dijelaskan oleh mazhab atau sistem, dia akan hidup dalam kebingungan, dia terkadang ke sana dan terkadang ke situ. Dia akan menjadi makhluk yang eksentrik atau ganjil. Sesungguhnya tak mungkin ada dua pendapat mengenai perlunya mengikuti suatu mazhab atau ideologi.

 

Penting untuk dicatat bahwa keyakinan religius sajalah yang dapat mengubah manusia menjadi mukmin sejati, dan sanggup mengendalikan egoismenya berkat pengaruh kuat suatu doktrin dan ideologi. Keyakinan religius menciptakan dalam diri seseorang suatu kepatuhan total, hingga orang itu tidak lagi dapat meragukan doktrin-doktrin sangat sepele yang terdapat dalam mazhabnya. Dia menyimpan mazhabnya dengan mesra dalam hatinya, dan beranggapan bahwa bila tanpa mazhabnya maka hidup tak akan ada artinya, dan mendukung ideologinya dengan penuh semangat.

 

 

Karakter Keyakinan Religius

Kecenderungan religius mendorong manusia melakukan berbagai upaya, sekalipun dengan mengorbankan perasaan individualistis dan naluriahnya. Terkadang manusia mengorbankan jiwanya dan kedudukan sosialnya untuk kepentingan agamanya. Hal ini dapat terjadi hanya bila idealnya sudah mencapai tingkat kesucian dan sepenuhnya mengendalikan eksistensinya. Hanya kekuatan religiuslah yang dapat membuat suatu ideal menjadi suci, dan membuat ideal tersebut memiliki otoritas terhadap manusia.

 

Memang, sering orang mengorbankan jiwanya, hartanya dan semua yang dicintainya bukan untuk kepentingan ideal atau keyakinan religius apa pun, melainkan karena ditekan oleh rasa benci, dengki, dendam atau karena reaksi keras terhadap rasa tertindas. Kasus-kasus seperti ini lumrah terjadi di seluruh penjuru dunia.

 

Namun, antara ideal religius dan ideal non-religius ada bedanya. Karena keyakinan religius dapat membuat suatu ideal menjadi suci, maka untuk kepentingan keyakinan tersebut dilakukan berbagai pengorbanan secara ikhlas dan naluriah. Tugas yang ditunaikan dengan ikhlas memperlihatkan suatu pilihan, namun tugas yang ditunaikan karena pengaruh tekanan jiwa yang mengusik, berarti suatu ledakan. Jadi jelaslah, antara keduanya ada perbedaan yang besar.

 

Selanjutnya, kalau konsepsi manusia mengenai dunia bersifat material semata dan dasarnya hanyalah realitas yang kasat mata, maka dia melihat segala bentuk idealisme sosial dan manusiawi bertentangan dengan realitas kasat mata dan hubungannya dengan dunia yang dirasakannya pada saat tertentu.

Psikolog yang sekaligus Filosof Amerika awal abad ke-20, William James, berkata:

“Hasil dari konsepsi persepsional hanyalah egoisme, bukan idealisme. Idealisasi tidak akan sampai melewati batas fantasi jika dasarnya adalah konsepsi mengenai dunia yang hasil logisnya adalah ideal yang bersangkutan. Manusia harus membentuk dunia gagasannya sendiri, yang terbentuk dari realitas-realitas yang ada di dalam dirinya, dan hidup bahagia dengan dunia gagasannya tersebut. Namun demikian, jika idealisme lahir karena keyakinan religius, maka idealisme tersebut dasarnya adalah konsepsi mengenai dunia, yang hasil logisnya mendukung ideal sosial. Keyakinan religius adalah semacam hubungan mesra antara manusia dan dunia, atau dengan kata lain semacam keselarasan antara manusia dan ideal universal. Sebaliknya, keyakinan non-religius dan ideal adalah semacam pencampakan dunia kasat mata untuk membangun dunia imajiner yang sama sekali tidak mendapat dukungan dari dunia kasat mata tersebut.”

 

Keyakinan religius bukan saja menetapkan bagi manusia sejumlah tugas, terlepas dari kecenderungan naluriahnya, namun juga sepenuhnya mengubah pandangannya tentang dunia. Dalam struktur pandangannya ini, dia mulai melihat unsur-unsur baru. Dunia yang kering, dingin, mekanis dan material itu diubah menjadi dunia yang hidup. Keyakinan religius mengubah kesan manusia mengenai alam semesta. William James berkata:

“Dunia yang ditampilkan oleh pemikiran religius bukan saja dunia material ini yang sudah berubah bentuknya, namun juga meliputi banyak aspek yang tak dapat dibayangkan oleh seorang materialis.” (Psychoanalysis and Religion, hal. 508)

 

Selain itu, setiap manusia mempunyai fitrah untuk mempercayai kebenaran dan realitas spiritual yang menarik. Manusia memiliki banyak kemampuan terpendam yang siap ditumbuh-kembangkan. Semua kecenderungannya sifatnya non-material. Kecenderungan spiritual yang dimiliki oleh manusia sifatnya fitri, bukan hasil dari upaya. Ini merupakan fakta yang didukung oleh ilmu pengetahuan.

William James berkata:

Kalau benar alasan dan pendorong kita adalah dunia material ini, namun mengapa sebagian besar hasrat dan kecenderungan kita tidak sesuai dengan kalkulasi material. Ini menjelaskan bahwa sebenarnya alasan dan pendorong kita adalah dunia metafisis.” (Psychoanalysis and Religion, hal. 508. New York, 1929)

 

Mengingat kecenderungan spiritual memang ada, maka kecen­derungan ini harus ditumbuh-kembangkan dengan baik dan saksama. Kalau tidak, bisa-bisa kecenderungan ini menyimpang dari jalan yang benar, dan akibatnya adalah kerugian yang tak mungkin dapat ditutup.

Psikolog yang lain, Erich Fromm, mengatakan:

“Tak ada manusia yang tidak membutuhkan agama dan tidak menghendaki batas bagi orientasinya dan subjek bagi masa lalunya. Manusia sendiri boleh jadi tidak membedakan antara keyakinan religius dan keyakinan non-religiusnya, dan boleh jadi percaya bahwa dirinya tak beragama. Boleh jadi dia memandang fokusnya kepada tujuan yang kelihatannya nonreligius, seperti harta, tahta atau kesuksesan, sebagai semata-mata isyarat perhatiannya kepada urusan praktis dan upaya untuk mewujudkan kesejahteraannya sendiri. Yang menjadi masalah bukanlah apakah manusia beragama atau tidak beragama, melainkan apa agama yang dianutnya.” (Psychoanalysis and Religum, hal. 508)

 

Yang dimaksud oleh psikolog ini adalah, bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa menyucikan dan mencintai sesuatu. Kalau yang diakui dan disembahnya bukan Allah, dia pasti mengakui sesuatu sebagai realitas yang absolut, dan pasti menjadikannya sebagai objek keyakinan dan pemujaannya. Mengingat manusia membutuhkan ideal dan keyakinan, dan berdasarkan naluri dia berupaya mendapatkan sesuatu yang boleh jadi disucikan dan dipujanya, maka satu-satunya jalan adalah meningkatkan keyakinan religius kita, yang merupakan satu-satunya keyakinan yang benar-benar dapat mempengaruhi manusia.

Al-Qur’an Suci merupakan Kitab pertama yang menggambar-kan keyakinan religius sebagai semacam harmoni antara manusia dan alam semesta.

Apakah mereka mencari sesuatu selain agama Allah? Namun kepada-Nya tunduk patuh apa yang ada di langit dan di bumi. (QS. Ali ‘Imran: 83)

 

Al-Qur’an Suci juga menyebutkan bahwa keyakinan religius merupakan bagian dari fitrah manusia.

Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus. Yaitu fitrah di mana Allah telah mendptakan manusia menurut fitrah itu. (QS. ar-Rum: 30)

 

 

Pengaruh dan Keuntungan Keyakinan

Pengaruh keyakinan religius sudah kami singgung. Namun, untuk lebih menjelaskan keuntungan dari aset kehidupan yang bernilai ini dan kekayaan spiritual, kami akan membahasnya dengan lebih terperinci. Tolstoy, seorang penulis yang sekaligus Filosof Rusia, berkata: “Keyakinan adalah sesuatu yang dibutuhkan dalam hidup manusia.” Seorang penyair sekaligus pemikir Iran, Hakim Nasir Khusrow, berkata kepada putranya: “Aku telah berpaling kepada agama, karena bagiku dunia tanpa agama laksana penjara. Aku tak mau alam hatiku porak-poranda.” Banyak pengaruh positif yang diberikan oleh keyakinan religius. Keyakinan religius mewujudkan kebahagian dan kegembiraan, mengembangkan hubungan sosial, dan mengurangi serta menghilangkan kecemasan yang menjadi ciri pokok dunia material ini. Kami akan menjelaskan pengaruh keyakinan religius dari ketiga sudut pandang ini;

 

1. Kebahagiaan dan Kegembiraan

Pengaruh pertama keyakinan religius, dilihat dari sudut pandang kebahagiaan dan kegembiraan, adalah optimisme. Seorang yang memiliki keyakinan religius selalu optimis sikapnya terhadap dunia, kehidupan dan alam semesta. Keyakinan religius memberikan bentuk tersendiri kepada sikap manusia terhadap dunia. Karena menurut agama, alam semesta itu ada tujuannya dan bahwa tujuannya itu adalah perbaikan (kemajuan) dan evolusi, maka keyakinan religius tentu saja mempengaruhi pandangan manusia dan membuat manusia optimis dengan sistem alam semesta dan hukum yang mengatur alam semesta. Sikap seorang yang berkeyakinan religius terhadap alam semesta adalah sama dengan sikap seorang yang tinggal di sebuah negara yang meyakini bahwa sistem, hukum dan formasi negara tersebut bagus, bahwa pemimpin negara tersebut tulus dan bermaksud baik, dan bahwa di negara tersebut setiap warganya, termasuk dirinya, berpeluang membuat prestasi. Orang seperti itu tentu saja akan berpendapat bahwa penyebab tetap terkebelakangnya dirinya atau orang lain, tak lain adalah kemalasan dan tak berpengalamannya orang bersangkutan, dan bahwa dirinya dan warga lain bertanggung jawab dan di tun tut untuk menunaikan tugas mereka.

 

Seorang yang memiliki keyakinan religius akan bertanggung jawab atas keterbelakangan dirinya dan tak akan menyalahkan negaranya dan pemerintahannya atas keterbelakangannya tersebut. Dia percaya bahwa jika ada yang tidak beres, hal itu karena dirinya dan warga lain seperti dirinya tidak dapat menunaikan tugas dengan baik. Tentu saja perasaan seperti ini akan membangkitkan rasa harga dirinya, dan mendorong dirinya melangkah ke depan dengan penuh optimisme.

 

Sebaliknya, orang yang tidak memiliki keyakinan religius adalah seperti orang yang tinggal di sebuah negara yang sistem, hukum dan formasinya dia yakini zalim, dan orang tersebut terpaksa menerima, meski tidak sesuai dengan kata hatinya, sistem, hukum dan formasi negara tersebut. Hati orang seperti itu akan selalu dipenuhi rasa benci dan dendam. Sedikit pun dia tak akan pernah berencana meningkatkan kualitas dirinya. Menurutnya, kalau segalanya sudah tidak beres, kejujuran dan ketulusan dirinya tak akan ada gunanya. Orang seperti itu tak akan pernah menikmati dunia ini. Bagi dirinya, dunia ini akan selalu seperti penjara yang menakutkan. Itulah sebabnya Al-Qur’an memfirmankan:

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (QS. Thaha: 124)

 

Sesungguhnya, keyakinan religiuslah yang membuat kehidupan kita lapang secara spiritual, dan yang menyelamatkan kita dari tekanan faktor-faktor spiritual. Dari sudut pandang penciptaan kebahagiaan dan kegembiraan, pengaruh kedua dari keyakinan religius adalah tercerahkannya had. Kalau manusia melihat dunia dicerahkan oleh cahaya kebenaran, maka hati dan jiwanya juga tercerahkan. Keyakinan religius adalah laksana lentera yang menerangi rohaninya. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki keyakinan religius melihat dunia gelap gulita, kotor dan tak ada artinya, dan akibatnya hati orang tersebut tetap gelap gulita di dunia yang dianggapnya gelap gulita itu.

 

Pengaruh ketiga dari keyakinan religius, dari sudut pandang kebahagiaan dan kegembiraan, adalah pandangan bahwa upaya yang baik membawa hasil yang baik pula. Dari sudut pandang ma­terial murni, dunia fana ini tak peduli siapa yang lurus dan benar jalannya, dan siapa yang salah jalannya. Hasil dari suatu upaya ditentukan semata-mata oleh satu hal, yaitu seberapa keras upaya tersebut dilakukan. Namun, menurut sudut pandang orang yang memiliki keyakinan religius, dunia fana ini tidak acuh dan tidak netral terhadap upaya orang-orang yang berbuat benar dan salah. Reaksi dunia terhadap upaya dua kelompok ini tidak sama. Sistem alam semesta mendukung orang-orang yang berbuat untuk ke­benaran, keadilan dan integritas.

Al-Qur’an memfirmankan:

Jika kamu menolong (agama) Allah, Dia akan menolongmu. (QS. Muhammad: 7)

Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berniat baik. (QS. at-Taubah: 120, Hud: 115, Yusuf: 90)

 

Pengaruh keempat dari keyakinan religius, dilihat dari sudut pandang penciptaan kebahagiaan dan kegembiraan, adalah kepuasan mental. Pada dasarnya manusia berusaha untuk sukses, dan rencana untuk meraih kesuksesan tersebut membuat hatinya berbunga-bunga. Ketakutan akan masa depan yang gelap membuat dirinya merasa ngeri dan mengusik ketenangannya. Ada dua hal yang membuat orang bahagia dan puas: (1) upaya; (2) kepuasan terhadap kondisi-kondisi yang lazim di lingkungannya.

Kesuksesan seorang pelajar ditentukan oleh dua hal: Pertama, upayanya sendiri. Kedua, kondusif atau tidak atmosfer di sekolahnya, dan dorongan dari pihak sekolah. Jika seorang pelajar yang pekerja keras tidak percaya dengan atmosfer sekolahnya dan guru-gurunya, sepanjang tahun belajarnya dia akan khawatir akan adanya perlakuan yang tidak adil dan akan dicekam rasa cemas.

 

Manusia mengetahui tugasnya terhadap dirinya sendiri. Aspek ini tidak membuatnya khawatir, karena yang mengusik manusia adalah perasaan ragu dan tidak pasti. Manusia yakin dengan semua yang penting bagi dirinya. Yang mengusik manusia dan yang tidak jelas bagi manusia adalah tugasnya terhadap dunia. Pertanyaan yang paling mengusiknya adalah: Apakah perbuatan baik itu ada gunanya? Apakah kebenaran dan kejujuran itu membantu mencapai tujuan? Apakah akhir dari penunaian tugas adalah kesia-siaan? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan kecemasan dalam bentuknya yang paling mengerikan.

Keyakinan religius mengembalikan rasa percaya manusia kepada dunia, dan menghilangkan rasa tidak percayanya kepada perilaku dunia terhadap dirinya. Itulah sebabnya kami katakan bahwa salah satu pengaruh keyakinan religius adalah ketenangan mental. Pengaruh lain dari keyakinan religius, dari sudut pandang kegembiraan dan kebahagiaan, adalah lebih menikmati kenikmatan yang dikenal sebagai kenikmatan spiritual. Ada dua macam kenikmatan yang dapat dirasakan oleh manusia. Kenikmatan macam pertama berkaitan dengan salah satu dari panca indera. Kenikmatan seperti ini dirasakan berkat terjadinya kontak antara organ tubuh manusia dan objek tertentu. Mata memperoleh kenikmatan melalui melihat, telinga melalui mendengar, mulut melalui merasakan, dan indera peraba melalui meraba atau menyentuh. Kenikmatan jenis lain adalah kenikmatan yang berkaitan dengan jiwa dan indera batiniah manusia. Kenikmatan seperti ini tak ada hubungannya dengan organ tubuh, dan tidak diperoleh melalui kontak dengan objek tertentu. Kenikmatan seperti ini diperoleh bila kita berbuat baik kepada orang atau makhluk lain, bila kita dihormati dan menjadi popular, atau bila kita sukses atau bila anak kita sukses. Kenikmatan seperti ini khususnya tidak berkaitan dengan organ tubuh, juga tidak dipengaruhi langsung oleh faktor material.

 

Kenikmatan spiritual lebih kuat dan lebih abadi ketinabang kenikmatan material. Kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang tulus beribadah kepada Allah dengan ibadah mereka yang khusyuk adalah kenikmatan spiritual. Dalam bahasa agama, ke­nikmatan spiritual digambarkan sebagai “Nikmatnya Iman” dan “Rasanya Iman”. Rasanya iman lebih lezat ketimbang—dan melebihi—rasa-rasa yang lain. Kenikmatan spiritual akan semakin bertambah bila kita berbuat bajik, misalnya menuntut ilmu pengetahuan, membantu orang atau makhluk lain, atau sukses melaksanakan tugas yang digerakkan oleh rasa keagamaan. Setiap perbuatan yang dilakukan karena Allah SWT, merupakan perbuatan ibadah dan mendatangkan kenikmatan.

 

2. Peran Keyakinan Religius dalam Meningkatkan Hubungan Sosial

 

Seperti sebagian binatang lainnya, manusia suka hidup ber­kelompok. Tak seorang manusia pun yang seorang diri dapat memenuhi semua kebutuhannya. Dalam hidup ini mutlak diperlukan kerja sama. Harus ada give and take (saling memberi dan menerima) dan pembagian kerja. Namun demikian, ada satu perbedaan antara manusia dan binatang lain yang juga suka hidup berkelompok, seperti lebah misalnya. Binatang lain secara naluriah menjalankan prinsip pembagian kerja. Binatang ini tak kuasa untuk tidak mengikuti hukum ini. Sebaliknya, manusia leluasa. Manusia memiliki kuasa untuk memilih. Manusia dapat mengerjakan pekerjaan yang disukainya, dan memandang pekerjaan ini sebagai tugasnya. Dengan kata lain, pada binatang lain yang juga suka hidup berkelompok, naluri sosial dipaksakan. Meskipun kebutuhan manusia bersifat sosial, namun pada manusia naluri sosial tersebut tidak dipaksakan. Naluri sosial pada diri manusia ada dalam bentuk dorongan yang dapat ditumbuh-kembangkan melalui pendidikan dan pelatihan.

 

Kehidupan sosial dapat dikatakan baik kalau semua individunya menghormati hukum dan hak masing-masing, memperlihatkan rasa bersahabat terhadap satu sama lain, dan menganggap suci keadilan. Dalam masyarakat yang sehat, setiap orang menghendaki untuk orang lain apa yang dikehendaki untuk dirinya dan tidak meng­hendaki untuk orang lain apa yang tidak dikehendaki untuk dirinya. Semua individunya saling percaya, dan dasar dari saling percaya ini adalah kualitas spiritual mereka. Setiap orang merasa bertanggungjawab terhadap masyarakatnya, juga memperlihatkan kualitas ketakwaan dan kebajikan ketika sendirian maupun ketika berada di tengah masyarakat, dan berbuat baik kepada orang lain dengan tulus. Semua anggota masyarakat menentang tirani dan kezaliman, dan tidak membiarkan penindas berbuat kerusakan atau kejahatan. Semua anggota masyarakat menghormati nilai-nilai moral dan hidup bersama dalam kesatuan dan harmoni yang sempurna seperti organ-organ pada satu tubuh.

 

Keyakinan religius sajalah yang, terutama sekali, menghargai kebenaran, menghormati keadilan, mendorong kebajikan dan saling percaya, menanamkan semangat ketakwaan, mengakui nilai-nilai moral, menyemangati individu untuk menentang tirani dan mempersatukan individu menjadi satu tubuh yang solid. Kebanyakan tokoh yang cemerlang dan termasyhur di dunia dan dalam sejarah mendapat ilham dari perasaan religius.

 

3. Mengurangi Kecemasan

 

Kehidupan manusia berkisar antara kesuksesan, prestasi, kesenangan, kegembiraan dan kegagalan, penderitaan, dan kecemasan. Banyak penderitaan dan kegagalan dapat dicegah atau diobati, tentu saja dengan upaya keras. Jelaslah, manusia ber­tanggungjawab menundukkan alam dan mengubah kemalangan hidup menjadi keberuntungan hidup. Namun demikian, banyak kejadian pahit tak dapat dicegah atau juga tak dapat ditentang. Misal, ambil contoh usia lanjut. Berangsur-angsur orang pasti berusia lanjut dan pasti mengalami kemerosotan kondisi jasmani akibat usia lanjut. Usia lanjut, kemunduran kondisi tubuh dan penyakit membuat hidup orang lanjut usia terasa sulit. Takut mati dan takut mewariskan dunia fana ini kepada orang lain selalu terasa menyakitkan hati.

 

Keyakinan religius memberikan kepada manusia kekuatan untuk menentang dan kekuatan bertahan serta mengubah kepahitan hidup menjadi terasa manis. Orang yang memiliki keyakinan religius tahu bahwa segala yang ada di dunia ini ada skemanya. Seandainya orang tersebut tidak mungkin keluar dari kepahitan hidup, maka Allah akan memberinya kompensasi dengan cara lain, dengan catatan dia menunjukkan reaksi yang baik terhadap kemalangan hidupnya. Bagi orang yang takwa, usia lanjut itu menyenangkan dan lebih nikmat ketimbang usia muda karena dua alasan: Pertama, dia tidak percaya kalau usia lanjut merupakan akhir segalanya; kedua, waktu yang masih ada dimanfaatkannya dengan asyik memuja dan mengingat Allah.

 

Sikap orang beriman terhadap kematian beda dengan sikap orang tak beriman. Bagi orang beriman, kematian bukanlah berarti kehancuran total, melainkan hanyalah peralihan dari dunia fana yang kecil ini ke alam abadi yang agung. Kematian berarti meninggalkan “dunia kerja” menuju “dunia hasil.” Karena itu orang beriman menyikapi rasa takut matinya dengan menyibukkan diri berbuat baik, dan perbuatan baik ini oleh agama disebut dengan “amal saleh.”

 

Para psikiater mengakui bahwa merupakan suatu fakta yang tak terbantahkan bahwa kebanyakan penyakit jiwa diakibatkan oleh kecemasan mental dan kepahitan hidup, dan penyakit ini lazim dijumpai di kalangan orang-orang nonreligius. Penyakit zaman modern ini, yang muncul akibat lemahnya keyakinan religius, berupa semakin meluasnya penyakit jiwa dan saraf.

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2008 in KONSEPSI MANUSIA: MM

 

Mazhab Pemikiran atau Ideologi

Mazhab Pemikiran atau Ideologi

 

 

Definisi dan Arti Penting Ideologi

 

Apakah ideologi itu, dan bagaimana definisinya? Perlukah manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat untuk mengikuti mazhab dan mempercayai ideologi? Apakah keberadaan ideologi diperlukan oleh orang seorang atau masyarakat? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, perlu adanya mukadimah.

 

Ada dua macam aktivitas manusia: yang menyenangkan dan yang politik. Aktivitas yang menyenangkan adalah aktivitas yang dilakukan manusia untuk mendapatkan kesenangan atau untuk melepaskan diri dari kepedihan yang terjadi akibat pengaruh langsung nalurinya, karakter pembawaan atau kebiasaannya (yang juga merupakan kecenderungan yang terbentuk akibat lingkungan atau pengalaman dan sudah menjadi naluri, dan bukan karakter bawaan). Misal, kalau orang merasa haus, dia akan mengambil segelas air, bila dia melihat binatang penyengat, dia akan mengambil langkah seribu, dan kalau dia merasa ingin merokok, dia akan menyalakan rokok.

 

Perbuatan seperti itu sesuai dengan keinginan manusia dan berhubungan langsung dengan kesenangan dan kesedihan. Per­buatan yang menyenangkan membuat manusia tertarik untuk melakukannya, sedangkan perbuatan yang menyedihkan menjauhkan manusia dari perbuatan seperti itu. Politik merupakan aktivitas, yang aktivitas itu sendiri tidak menarik dan juga tidak menjijikkan. Naluri manusia atau karakter fitrinya tidak mendorong manusia untuk melakukan aktivitas seperti itu dan juga tidak menjauhkannya dari aktivitas seperti itu.

 

Manusia melakukan aktivitas seperti itu atau menghindari aktivitas seperti itu atas dasar kehendaknya sendiri karena dia merasa berkepentingan untuk melakukan aktivitas seperti itu atau tidak melakukan aktivitas seperti itu. Dengan kata lain, dalam kasus ini penyebab utama dan kekuatan yang mendorong manusia untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu adalah kepentingannya dan bukan kesenangan. Yang mendorong manusia untuk memperoleh kesenangan adalah nalurinya, sedangkan yang mendorong manusia untuk melakukan kepentingannya adalah akal. Kesenangan merangsang hasrat, sedangkan kepentingan membangkitkan kehendak. Manusia memperoleh kesenangan dari perbuatan yang menyenangkan ketika melakukan perbuatan itu. Namun manusia tidak memperoleh kesenangan dari perbuatan politik, sekalipun mungkin dia merasa bahagia karena merasa melakukan sesuatu yang dalam jangka panjang benar dan baik bagi dirinya. Ada perbedaan antara perbuatan yang mendatangkan kesenangan dan perbuatan yang tidak mendatangkan kesenangan dan mungkin justru menimbulkan kesulitan, meskipun manusia mungkin melakukannya dengan suka hati. Perbuatan politik tidak mendatang­kan kesenangan, karena tidak memberikan hasil langsung. Namun demikian, perbuatan politik memberikan kepuasan. Kesenangan dan kesulitan lazim dialami oleh manusia dan binatang. Namun kebahagiaan dan ketidakbahagiaan serta kepuasan dan kekecewaan hanya dialami oleh manusia. Begitu pula, menghasratkan sesuatu hanya terjadi pada manusia. Kepuasaan, kekecewaan dan berkeinginan merupakan fungsi-fungsi mental. Ketiga hal ini hanya ada dalam wilayah pikiran manusia, bukan dalam wilayah persepsi inderawi.

 

Telah kami sebutkan bahwa manusia melakukan perbuatan politik dengan bantuan akalnya dan pengendalian dirinya. Sebaliknya, perbuatan yang mendatangkan kesenangan dilakukan oleh manusia atas perintah perasaan dan kecenderungannya. Maksud dari perbuatan yang dilakukan atas perintah akal adalah bahwa kemampuan akal dalam mengkalkulasi melihat adanya manfaat, kesenangan atau kesempurnaan, menemukan cara untuk memperolehnya, yang terkadang boleh jadi melelahkan, dan kemudian berencana mendapatkannya. Arti dari melakukan perbuatan dengan bantuan pengendalian diri adalah bahwa manusia memiliki kemampuan yang menjadi sifatnya. Peran kemampuan ini adalah melakukan tindakan yang direstui oleh akal. Tindakan ini boleh jadi terkadang bertentangan dengan kecenderungan naluriahnya. Naluri muda seorang pelajar mengajaknya makan, minum, bersukaria, tidur dan bersetubuh, namun pikirannya yang tajam mengingatkannya tentang akibat buruk dari perbuatan-perbuatan ini dan mendorongnya untuk tetap jaga, bekerja keras dan untuk tidak memperturutkan kata hati untuk hidup mewah dan untuk tidak memperturutkan hawa nafsu. Pada masa ini manusia lebih suka mengikuti ajakan akal, karena menguntungkan dirinya, dan lebih suka mengabaikan ajakan nalurinya yang hanya menunjukkan kesenangan saja. Begitu pula, pasien tak suka minum obat yang pahit rasanya, namun dia tetap saja harus minum obat karena perintah akalnya yang memberikan petunjuk yang benar atau karena kekuatan kehendaknya yang dapat mengatasi kecenderungan naluriahnya.

 

Semakin kuat akal dan kehendak, semakin kuat kendalinya atas naluri, sekalipun kecenderungannya menghendaki sebaliknya. Dalam melakukan aktivitas politiknya, manusia pada setiap tahap mempraktikkan teori atau rencana. Semakin maju akal dan ke­hendak seseorang, semakin bersifat politik aktivitasnya, bukannya bersifat kesenangan. Semakin dekat dia dengan cakrawala sisi hewaninya, aktivitasnya semakin bersifat kesenangan bukannya politik, karena aktivitas yang bersifat mencari kesenangan kebanyakan merupakan aktivitas hewaniah.

 

Kita juga melihat binatang yang aktivitas tertentunya diarahkan untuk mencapai tujuan jangka panjang, seperti membuat sarang, migrasi, kawin dan reproduksi. Namun binatang tersebut me­lakukan aktivitas ini secara tidak sadar dan bukan karena pilihannya sendiri yang diambil setelah menentukan apa yang ingin dicapainya dan cara pencapaiannya. Sebaliknya, binatang tersebut melakukan aktivitas ini atas dasar ilham naluriah dari luar dirinya.

 

Mungkin saja ruang lingkup aktivitas politik manusia berkembang sehingga mencakup beberapa aktivitas kesenangan. Karena itu semua aktivitas manusia, sejauh mungkin, harus direncanakan dengan matang sehingga aktivitas kesenangan juga ada manfaatnya di samping sebagai kesenangan. Setiap aktivitas naluriah yang menanggapi perintah naluri, hendaknya mematuhi perintah akal juga. Kalau dalam aktivitas politik juga ada aktivitas kesenangan, dan jika aktivitas kesenangan menjadi bagian dari rencana politik umum kehidupan, maka naluri akan selaras dengan akal dan hasrat akan selaras dengan kehendak. Karena aktivitas politik berkisar pada seputar tujuan jangka panjang, tentu saja aktivitas ini membutuhkan perencanaan, metode dan pemilihan sarana untuk mencapai tujuan. Mengingat aktivitas ini ada segi individualistisnya, karena direncanakan oleh para induvidu untuk kepentingan dirinya, maka akal individulah yang menetapkan metode dan sarananya. Tentu saja, pilihan ditentukan oleh pengetahuan, informasi dan kemampuan menilainya.

 

Kendatipun aktivitas politik manusia penting sekali bagi sisi manusiawinya, namun aktivitas itu saja, apa pun kualitasnya, belumlah cukup untuk memberikan karakteristik manusiawi kepada semua aktivitasnya. Memang akal, pengetahuan dan perencanaan merupakan separo dari sisi manusiawi manusia, namun belum memadai untuk memberikan karakteristik manusiawi kepada aktivitas manusia. Aktivitas manusia baru dapat disebut manusiawi kalau sesuai dengan kecenderungan yang lebih tinggi, di samping rasional dan didasarkan pada kesadaran, atau setidaknya tidak bertentangan dengan kecenderungan yang lebih tinggi itu. Kalau tidak, maka aktivitas kriminal pun terkadang perencanaan dan pelaksanaannya sangat bagus. Rencana imperialis yang jahat menunjukkan fakta ini. Dalam Islam, rencana atau upaya yang dibuat untuk mencapai tujuan material dan hewani yang tidak sesuai dengan kecenderungan manusiawi dan religius dianggap buruk dan jahat. Bagaimanapun juga, aktivitas politik tidak manusiawi. Kalau aktivitas tersebut sifatnya hewani, maka jauh lebih berbahaya danpada aktivitas yang murni kesenangan. Misal, binatang, untuk mengisi perutnya, mencabik-cabik binatang lain atau manusia. Namun manusia yang dapat berhitung dan berencana, maka untuk mencapai tujan yang sama dia menghancurkan banyak kota dan membantai berjutajuta orang tak berdosa.

 

Pertanyaan apakah tujuan yang diusulkan oleh akal cukup atau tidak cukup untuk memenuhi kepentingan para individu, kita kesampingkan. Dengan kata lain, kita kesampingkan pertanyaan mengenai batas efektivitas akal para individu dalam menentukan kepentingannya masing-masing. Namun, bagaimanapun juga, tak ada keraguan bahwa kemampuan berpikir diperlukan dan bermanfaat untuk membuat perencanaan hidup yang parsial dan terbatas. Dalam hidupnya, manusia menghadapi banyak problem seperti memilih teman, memilih bidang pendidikan, memilih pasangan hidup, memilih pekerjaan, bepergian, perilaku dalam masyarakat, rekreasi, aktivitas yang bajik, melawan praktik tidak bermoral dan jahat, dan seterusnya. Untuk semua ini, manusia tentu saja perlu berpikir dan membuat perencanaan. Semakin keras berpikir, semakin besar kemungkinannya untuk sukses. Dalam beberapa kasus dia bahkan perlu bantuan pikiran dan pengalaman orang lain (prinsip konsultasi). Dalam semua kasus ini manusia membuat perencanaan dan kemudian melaksanakannya.

 

Namun demikian, pertanyaan yang masih mengganjal adalah, apakah pada skala yang lebih luas manusia mampu membuat perencanaan umum yang meliputi semua problem kehidupan pribadinya dan yang dapat diterapkan pada segala situasi, atau dia hanya mampu menangani beberapa kasus tertentu dan skalanya juga terbatas, dan apakah meliputi segala situasi dan menjamin kesuksesan di segala hal berada di luar kemampuan akal manusia.

 

Kita tahu bahwa beberapa filosof mempercayai teori “mampu memenuhi kebutuhan sendiri”. Mereka mengklaim menemukan jalan untuk bahagia dan tidak bahagia, dan dapat hidup bahagia dengan hanya bersandar pada kehendak dan kekuatan pikir mereka sendiri. Kita juga tahu bahwa tak dapat ditemukan dua filosof yang, berkenaan dengan jalan ini, pendapatnya satu.

Kebahagiaan itu sendiri, yang menjadi tujuan final, termasuk dalam hal-hal yang sangat mendua, sekalipun konsepsi mengenai kebahagiaan sekilas tampak sangat jelas. Masih belum jelas apa sebenarnya kebahagiaan dan apa saja yang mewujudkan kebahagia­an. Manusia sendiri dan kemampuannya belum diketahui. Sepanjang manusia belum diketahui, mana mungkin kita dapat mengetahui apa sebenarnya kebahagiaan dan bagaimana memperoleh ke­bahagiaan?

 

Lagi pula, manusia adalah makhluk sosial. Kehidupan sosialnya membawa beribu-ribu problem bagi dirinya yang tak dapat dipecahkannya. Biar bagaimanapun tugasnya haruslah jelas. Mengingat manusia adalah makhluk sosial, maka kebahagiaannya, aspirasinya, standar baik dan buruknya, jalan hidupnya, pilihannya akan sarana hidup, jalin berkelindan dengan kebahagiaan sesama manusia, aspirasi mereka, standar baik dan buruk mereka, jalan hidup mereka dan pilihan mereka akan sarana hidup. Manusia tidak dapat memilih jalannya tanpa bergantung pada sesamanya. Manusia harus mencari kebahagiaannya di jalan yang membawa masyarakat ke kebahagiaan dan kesempurnaan.

 

Jika mempertimbangkan masalah roh yang abadi, dan akal yang tidak memiliki pengalaman dengan kehidupan akhirat, maka problemnya menjadi jauh semakin sulit. Kini di sini terlihat kebutuhan akan mazhab, ideologi, teori umum atau sistem yang komprehensif dan harmonis, yang tujuan pokoknya adalah ke-sempurnaan manusia dan kebahagiaan bagi semua. Sistem ini harus memerinci prinsip-prinsip pokok, berbagai metode, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, perbuatan baik dan buruk, tujuan dan sarana, tuntutan dan pemecahannya, tanggung jawab dan kewajiban. Juga harus menjadi sumber yang mendorong semua individu untuk menjalankan kewajiban.

 

Sejak awal, atau setidaknya sejak perkembangan kehidupan sosial melahirkan begitu banyak perselisihan, manusia membutuhkan ideologi atau, dalam terminologi Al-Qur’an disebut dengan “syariat”. Waktu berlalu, dan manusia semakin maju, kebutuhan ini pun kian kuat. Di masa dahulu, kecenderungan rasial, kebangsaan dan kesukuan menguasai masyarakat-masyarakat manusia, seperti misalnya semangat kebersamaan. Semangat ini kemudian melahirkan serangkaian ambisi—sekalipun tidak manusiawi—yang memper-satukan masing-masing masyarakat, dan memberinya orientasi tertentu. Sekarang kemajuan ilmu pengetahuan dan akal telah melemahkan ikatan-ikatan seperti ini. Watak ilmu pengetahuan adalah cenderung kepada individualisme, melemahkan sentimen dan ikatan yang didasarkan pada sentimen. Juga hanyalah sebuah filsafat hidup yang rasional yang dipilih secara sadar, atau dengan kata lain sebuah ideologi yang komprehensif dan sempurna, yang dapat mempersatukan umat manusia dewasa ini atau malah umat manusia di masa depan, memberinya orientasi, ideal bersama dan standar bersama untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah.

 

Dewasa ini, lebih daripada sebelumnya, manusia membutuhkan filsafat hidup seperti itu, sebuah filsafat yang mampu menarik perhatiannya kepada realitas di luar para individu dan di luar kepentingan mereka. Fakta bahwa mazhab atau ideologi merupakan salah satu yang dibutuhkan dalam kehidupan sosial, tak lagi diragukan.

 

Kini pertanyaannya adalah: Siapa yang dapat merumuskan ideologi seperti itu? Tak pelak lagi, akal para individu tak dapat merumuskannya. Dapatkah akal kolektif merumuskannya? Dapatkah manusia, dengan menggunakan segenap pengalamannya serta informfei lama dan barunya, merumuskan ideologi seperti itu? Kalau kita akui bahwa manusia tidak mengenal dirinya sendiri, maka mana mungkin kita berharap dia mengenal masyarakat manusia dan kesejahteraan sosial. Lantas harus bagaimana? Kalau saja konsepsi kita tentang alam semesta benar, dan kita percaya bahwa dunia memiliki sistem yang seimbang dan tak ada yang tak beres atau tak masuk akal pada dunia, maka harus kita akui bahwa mesin kreatif yang hebat ini memperhatikan masalah besar ini dan sudah memerinci skema pokok sebuah ideologi dari cakrawala yang berada di atas cakrawala akal manusia, yaitu dari cakrawala wahyu (prinsip kenabian). Kerja akal dan ilmu pengetahuan adalah mengikuti skema ini.

 

Dengan bagus Ibnu Sina mengemukakan masalah ini ketika menguraikan kebutuhan umat manusia terhadap hukum Tuhan (syariat) yang diturunkan melalui seorang manusia. Dalam Kitab-nya “Najat”, dia berkata:

“Nabi dan penjelas hukum Tuhan serta ideologi jauh lebih dibutuhkan bagi kesinambungan ras manusia, dan bagi pencapaian manusia akan kesempumaan eksistensi manusiawinya, ketimbang tumbuhnya alls mata, lekuk tapak kakinya, atau hal-hal lain seperti itu, yang paling banter bermanfaat bagi kesinambungan ras manusia, namun tidak perlu sekali.”

 

Dengan kata lain, mana mungkin mesin kreatif yang hebat ini, yang kebutuhan kecil dan sepele pun bahkan diperhatikannya, tidak memperhatikan kebutuhan yang sangat penting ini?

 

Namun jika kita tidak memiliki konsepsi yang benar mengenai alam semesta, kita dapat mengambil gagasan yang menyebutkan bahwa manusia sudah digariskan nasibnya untuk kebingungan dan salah, dan bahwa ideologi manusiawi tak lebih daripada rekreasi atau upaya yang menarik. Pembahasan di atas bukan saja menjelaskan kebutuhan akan adanya mazhab atau ideologi, namun juga memperlihatkan perlunya para individu mengikuti mazhab atau ideologi.

 

Sesungguhnya, arti dari mengikuti ideologi adalah meyakini ideologi tersebut, sedangkan keyakinan tidak dapat dipaksakan, juga tidak dapat dipandang sebagai masalah praktis. Orang dapat saja dipaksa tunduk kepada sesuatu, namun ideologi tidak menuntut ketundukan. Yang dituntut ideologi adalah keyakinan. Ideologi adalah untuk diterima dan dimengerti. Ideologi yang bermanfaat harus didasarkan pada konsepsi ten tang dunia yang dapat meyakinkan akal dan memupuk pikiran, dan harus mampu menangkap sasaran yang menarik dari konsepsinya tentang alam semesta. Keyakinan dan semangat merupakan dua unsur dasar dari agama. Kedua unsur ini secara bersama-sama membentuk ulang dunia.

Namun ada beberapa pertanyaan yang harus dibahas secara ringkas. Kalau ada kesempatan yang lebih baik, pertanyaan-pertanyaan ini akan dibahas dengan terperinci.

Jenis-jenis Ideologi

Ada dua jenis ideologi: Ideologi manusiawi dan ideologi kelas. Ideologi manusiawi adalah ideologi yang didedikasikan untuk seluruh umat manusia, bukan untuk kelas, ras atau masyarakat tertentu saja. Format ideologi seperti ini meliput seluruh lapisan masyarakat dan tidak hanya lapisan atau kelompok tertentu saja.

 

Sebaliknya, ideologi kelas didedikasikan untuk kelas, kelompok atau lapisan masyarakat tertentu, dan tujuannya adalah emansipasi atau supremasi kelompok tertentu. Format yang dikemukakannya terbatas pada kelompok itu saja, dan pendukung serta pembela ideologi ini berasal dari kelompok itu saja. Dua ideologi ini masing-masing didasarkan pada konsepsi tertentu tentang manusia. Setiap ideologi yang umum dan manusiawi sifatnya, seperti misalnya ideologi Islam, sikapnya terhadap manusia adalah seperti itu, dan sikap ini dapat disebut sikap alamiah. Dari sudut pandang Islam, manusia diciptakan untuk mengungguli faktor sejarah dan faktor sosial. Manusia memiliki dimensi eksistensial yang khusus dan kualitas-kualitas (kemampuan-kemampuan) yang tinggi yang membedakan dirinya dengan binatang. Menurut pandangan ini, desain kreatif manusia adalah sedemikian sehingga semua manusia me­miliki semacam kesadaran dan intuisi. Karena kesadaran dan intuisi inilah manusia layak diseru dan mampu menjawab seruan. Ideologi-ideologi manusiawi menjadikan intuisi alamiah manusia untuk dasar ajarannya dan menyunukkan semangat berbuat pada manusia.

 

Beberapa ideologi berbeda pandangan mengenai manusia. Menurut mereka, spesies manusia tidak tepat untuk diseru, juga tidak dapat menjawab seruan. Mereka berpendapat bahwa kesadaran dan kecenderungan manusia ditentukan oleh faktor-faktor sejarah dalam kehidupan nasionalnya, dan faktor-faktor sosial yang menghidupkan status kelasnya. Kalau kita abaikan faktor sejarah dan sosial, maka manusia, dalam pengertiannya yang utuh, tidak memiliki kesadaran atau kemampuan intuitif, dia juga tidak tepat untuk diminta mengemban misi. Dalam kasus itu, dia bukan manusia yang konkret, dan eksistensinya konseptual belaka. Marxisme dan begitu pula berbagai filsafat nasional didasarkan pada pandangan tentang manusia seperti itu. Filsafat-filsafat ini berupaya mendapatkan keuntungan kelas, atau didasarkan pada sentimen nasional dan rasial, atau paling banter pada budaya nasional.

Tak ayal lagi, bahwa ideologi Islam termasuk jenis yang pertama, dan dasarnya adalah fitrah manusia. Itulah sebabnya Islam menyampaikan pesannya kepada “orang kebanyakan”, bukan kepada kelompok atau kelas tertentu. Islam praktis mampu merekrut pendukungnya dari semua kelompok, bahkan dari kalangan yang diperangi oleh Islam, yaitu kalangan yang oleh Islam disebut orang-orang yang hidup mewah. Merupakan suatu prestasi yang luar biasa ketika Islam mampu menarik pendukung dari sebuah kelas untuk memerangi kelas bersangkutan, dan dari sebuah kelompok untuk memerangi kepentingan kelompok bersangkutan, dan bahkan menggerakkan individu-individu untuk memerangi dirinya sendiri. Inilah yang dilakukan Islam, dan masih dilakukannya. Islam, yang merupakan sebuah agama yang tumpuannya adalah fitrah manusia dan yang mewarnai ciri paling pokok dari eksistensinya, dapat menggerakkan para individu untuk berjuang dan mewujudkan revolusi melawan dirinya sendiri. Revolusi ini disebut rasa sesal. Kekuatan revolusioner sebuah ideologi kelas atau kelompok hanya sekadar menggerakkan orang untuk menentang orang lain atau kelas menentang kelas lain, namun tak dapat meyakinkan orang untuk melakukan revolusi terhadap dirinya sendiri, juga tidak dapat membuat orang mampu mengendalikan sentimen dan keinginannya sendiri.

 

Istilah ‘orang kebanyakan’ pada umumnya sering disalahartikan dan disamaartikan dengan “massa” yang dibedakan dari kalangan kelas atas. Karena Islam ditujukan untuk ‘orang kebanyakan’, maka Islam dianggap sebagai agama rakyat. Malahan hal ini dianggap sebagai keistimewaan bagi Islam. Tetapi kita mesti ingat, bahwa Islam tidak hanya menujukan pesan-pesannya hanya bagi ‘orang kebanyakan’ semata, begitu pula ideologinya bukan merupakan ideologi pemisahan kelas. Keistimewaan Islam yang sesungguhnya terletak pada kenyataan bahwa kemajuan Islam adalah dengan dukungan dari rakyat, bukan karena Islam dituju­kan hanya kepada rakyat semata. Yang membuat Islam lebih istimewa lagi adalah bahwa Islam telah menggugah kepedulian kalangan kelas atas—di antara Muslimin—terhadap kelas bawah.

 

Islam, sebagai sebuah agama, dan sesungguhnya agama terakhir, lebih dari agama lain, datang untuk menegakkan sistem keadilan sosial.[2] Tentu saja, tujuan Islam adalah membebaskan kaum tertindas dan kaum kurang mampu. Namun pesan Islam bukan kepada kaum tertindas dan kaum kurang mampu saja. Islam mendapat pendukungnya bukan dari kelas ini saja. Sebagaimana kesaksian sejarah, dengan menggunakan kekuatan iman dan fitrah manusia, Islam mampu mendapat pendukungnya, bahkan dari kalangan kelas-kelas yang hendak diperangi oleh Islam. Islam membawa teori kemenangan sisi manusiawi manusia atas sisi hewani manusia, kemenangan ilmu pengetahuan atas kebodohan, kemenangan keadilan atas tirani, kemenangan persamaan hak atas diskriminasi, kemenangan kebajikan atas keburukan, kemenangan ketakwaan atas hawa nafsu, dan kemenangan tauhid atas kesyirikan. Kesuksesan kaum tertindas melawan kaum tiran dan lalim merupakan perwujudan kemenangan ini.

Pembahasan terdahulu melahirkan pertanyaan, apakah sesungguhnya budaya manusia itu seragam sifatnya, atau budaya manusia yang seragam itu tak ada, dan bahwa yang ada dan akan ada di masa mendatang adalah banyak budaya yang masing-masing memiliki sifat nasional, komunal atau kelas?

Pertanyaan ini berkaitan dengan pertanyaan lain. Apakah fitrah manusia itu seragam dan orisinal, sehingga melahirkan budaya manusia yang seragam? Jika fitrah manusia seragam, tentu budaya manusia juga seragam. Kalau tidak, tentu masuk akal bila percaya bahwa budaya merupakan produk dari faktor-faktor historis, nasional dan geografis, atau produk dari kepentingan finansial kelas. Islam, berkat konsepsi khasnya tentang dunia, percaya bahwa fitrah manusia seragam. Islam mendukung pandangan bahwa ideologi dan budaya juga seragam. Jelaslah, hanya ideologi manusiawi, bukan ideologi kelas, ideologi yang seragam, bukan ideologi yang didasarkan pada pengkotak-kotakan manusia, dan ideologi alamiah, bukan ideologi yang diilhami oleh kepentingan lintah darat, yang dapat ditegakkan dengan nilai-nilai manusiawi dan dapat memiliki sifat-sifat manusiawi.

 

Apakah karakter setiap ideologi ditentukan oleh ruang dan waktunya? Perlukah manusia memiliki ideologi yang berbeda dengaa berubahnya zaman, keadaan dan lingkungan? Apakah ideologi tunduk kepada prinsip perubahan dengan berbedanya tempat, dan tunduk kepada prinsip penghapusan dengan berbeda­nya zaman? Apakah ideologi manusia seragam atau banyak ragam? Dengan kata lain, apakah ideologi manusia mudak atau relatif? Pertanyaan apakah dan sudut pandang ruang dan waktu ideologi mutlak atau relatif, bergantung pada pertanyaan lain: apakah sumbemya adalah fitrah manusia dan tujuannya adalah kesejahteraan ras manusia, atau sumbernya adalah kepentingan kelompok serta perasaan nasional dan kelas?

 

Dari sudut lain, pertanyaan ini bergantung pada bagaimana pendapat kita tentang karakter perubahan sosial. Bila masyarakat mengalami perubahan dan memasuki era baru, apakah perubahan karakternya sedemikian esensialnya sehingga tak lagi diatur oleh hukum yang sebelumnya telah mengaturnya. Misal, bila air, karena suhunya naik, berubah menjadi uap. Air ini diatur oleh hukum gas, bukan oleh hukum zat cair. Apakah kita percaya bahwa yang terjadi dengan perubahan dan perkembangan sosial tidaklah seperti ini, dan bahwa perubahan sosial hanyalah satu tahap dalam evolusi masyarakat dan tidak mempengaruhi hukum pokok atau evolusi, seperti yang kita lihat pada binatang. Binatang, karena mengalami perkembangan, berubah jalan hidupnya, namun hukum perkembangannya tidak berubah?

 

Dari sudut lain, pertanyaan apakah ideologi itu mudak atau tergantung ruang dan waktu, bergantung pada apakah ilmiah, filosofis atau religius konsepsinya tentang dunia. Konsepsi ilmiah tentang dunia yang fana ini, sebuah ideologi yang didasarkan pada konsepsi seperti itu, tidak mungkin abadi. Sebaliknya, konsepsi filosofis tentang dunia didasarkan pada kebenaran yang terang benderang, sedangkan konsepsi religius didasarkan pada wahyu Tuhan dan Kenabian. Karena ini bukan kesempatan yang tepat, maka kita tinggalkan pembahasan mengenai bagaimana sebenarnya fitrah manusia itu, yang merupakan salah satu topik sangat penting dalam ilmu Islam. Juga kita tinggalkan saja pembahasan mengenai perubahan masyarakat. Namun demikian, bagaimana kalau kita bahas masalah perubahan masyarakat dan hubungan perubahan tersebut dengan keadaan sejati fitrah manusia ketika kita membicarakan topik sejarah dan masyarakat nanti.

 

Kini pertanyaannya adalah apakah ideologi itu sendiri diatur oleh prinsip ketidakberubahan atau prinsip perubahan. Sebelum-nya telah kita bahas apakah ideologi manusia berbeda untuk periode dan tempat yang berbeda. Nah, persoalannya adalah persoalan penghapusan ideologi. Kini kita bahas persoalan yang berbeda, yaitu persoalan perkembangan ideologi. Terlepas dari fakta apakah ideologi itu mutlak atau relatif, dan berkenaan dengan isinya, apakah ideologi itu bersifat umum atau khusus, namun yang jelas ideologi merupakan fenomena. Karena setiap fenomena dapat berubah, berkembang dan mengalami evolusi, tentu saja timbul pertanyaan, apakah begitu pula dengan ideologi. Apakah realitas ideologi pada saat kelahirannya beda dengan realitas selama masa pertumbuhannya dan selama masa ke-matangannya?

 

Dengan kata lain, apakah ideologi harus selalu direvisi, diperbaiki dan dimodernisasikan oleh pemimpin dan ideolognya, seperti yang kita lihat dialami oleh ideologi-ideologi materialistis pada zaman kita? Jika ideologi modern tidak terus-menerus direvisi, maka ideologi tersebut segera kehilangan vitalitasnya dan jadi usang serta ketinggalan zaman. Namun demikian, pertanyaannya adalah apakah mungkin memiliki ideologi yang sungguh-sungguh selaras dengan perkembangan manusia dan masyarakat, sehingga tak perlu direvisi dan diperbaiki lagi. Untuk ideologi seperti itu, peran pemimpinnva dan ideolog hanyalah menafsirkan makna dan isinya, dan perkembangan ideologi terjadi dalam wilayah interpretasi, bukan dalam teks ideologi itu sendiri.

Menurut Al-Qur’an, perselisihan ini terjadi pada zaman Nabi Nuh. Istilah “orang kebanyakan atau orang biasa” sering disalah-pahami dan dianggap sinonim dengan “massa” atau “rakyat” yang beda dengan kelas yang lebih tinggi. Ketika berbicara dengan rakyat biasa, klaim Islam adalah bahwa Islam adalah agama massa atau rakyat. Sambil lalu, ini dianggap sebagai kekhasan Islam. Namun harus diingat bahwa Islam tidak menujukan pesannya kepada massa atau rakyat saja, dan ideologinya bukanlah ideologi kelas. Kekhasan sejati Islam terletak pada fakta bahwa Islam mendukung massa atau rakyat, bukan bahwa Islam untuk massa atau rakyat saja. Yang lebih khas adalah bahwa Islam membangun sentimen kelas mampu di kalangan kaum Muslim untuk kepentingan kelas kurang mampu.

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2008 in KONSEPSI MANUSIA: MM

 

Islam Sebuah Mazhab yang Lengkap

Islam Sebuah Mazhab yang Lengkap

 

Islam, yang didasarkan pada konsepsi yang sempurna tentang alam semesta, merupakan sebuah mazhab yang realitistis lagi lengkap. Dalam Islam, semua aspek kebutuhan manusia, baik kebutuhan jasmaniah maupun kebutuhan spiritual, intelektual maupun mental, kebutuhan individu-individu maupun masyarakat, ke­butuhan yang berkenaan dengan dunia fana ini maupun akhirat, mendapat perhatian.

 

Ajaran Islam Meliputi Tiga bagian

 

1. Ajaran doktrinal atau prinsip pokok. Dalam ajaran doktrinal atau prinsip pokok ini, semua orang diminta beriman. Tugas yang harus ditunaikan dalam hal ini adalah semacam kerja ilmiah dan penelitian.

2. Hukum moral atau kualitas yang harus ditanamkan seorang Muslim pada dirinya. Seorang Muslim juga harus menghindari kualitas yang bertentangan dengan hukum moral. Tugas yang harus dilakukan dalam hal ini adalah semacam pembangunan karakter.

3. Hukum atau garis kebijaksanaan berkenaan dengan aktivitas manusia, entah yang berkaitan dengan dunia fana ini atau yang berkaitan dengan akhirat, entah aktivitas orang seorang atau aktivitas bersama (sosial).

 

Menurut mazhab Syiah, ada lima ajaran doktrinal Islam: Tauhid, Keadilan, Kenabian, Imamah, dan Akhirat. Sejauh menyangkut ajaran doktrinal, Islam menganggap belum cukup dengan hanya menerima begitu saja ajaran doktrinal, atau menerimanya karena sudah menjadi tradisi keluarga. Setiap orang berkewajiban menerima ajaran doktrinal dengan sukarela dan independen setelah meyakini kebenaran ajaran tersebut. Dari sudut pandang Islam, ibadah tidak hanya ibadah fisis saja seperti salat dan puasa, atau tidak hanya ibadah finansial saja seperti membayar khumus dan zakat. Ada ibadah yang lain. Ibadah jenis ini berupa berpikir dan merenung. Karena ibadah mental ini membuat manusia sadar, maka ibadah ini jauh lebih baik dibandingkan bertahun-tahun melakukan ibadah fisis.

 

 

Penyebab Berpikir Keliru

 

Al-Qur’an mengajak manusia untuk berpikir dan menarik kesimpulan. Menurut Al-Qur’an, berpikir merupakan bagian dari ibadah. Al-Qur’an tidak mau kalau orang mempercayai ajaran doktrinal Al-Qur’an bukan dari hasil berpikir yang benar. Dalam hubungan ini, Islam memperhatikan satu hal pokok. Islam menunjukkan penyebab berpikir keliru, dan menjelaskan bagaimana cara menghindari kekeliruan dan penyimpangan.

 

Al-Qur’an menyebutkan sejumlah faktor penyebab kekeliruan. Kekeliruan tersebut adalah:

 

1.       Bersandar Pada Persangkaan, Bukan Pada Pengetahuan yang Pasti.

 

Al-Qur’an memfirmankan: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang, niscaya mereka akan menjauhkanmu dari jalan yang benar. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka. (QS. al-An’âm: 116)

Al-Qur’an melarang keras mengikuti persangkaan:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya”. (QS. al-Isrâ': 36)

Para filosof mengakui bahwa persangkaan merupakan penyebab utama kekeliruan. Berabad-abad setelah turunnya Al-Qur’an, Descartes menyebut ini sebagai prinsip pertama logikanya, katanya: “Aku baru menganggap sesuatu itu sebagai realitas, kalau sesuatu itu sudah jelas bagiku. Aku tak mau ketergesaan, menghubung-hubungkan gagasan dan kecenderungan. Aku hanya menerima apa yang sudah begitu jelas, sehingga tak ada lagi keraguan tentangnya.”

 

2.       Prasangka dan Hawa Nafsu

 

Jika manusia ingin memberikan penilaian yang benar, maka dia harus benar-benar bersikap adil. Dengan kata lain, dia harus mencari kebenaran saja, dan menerima tanpa segan-segan apa yang telah dibuktikan. Sikapnya harus seperti hakim pengadilan. Seraya menelaah kasus, hakim harus bersikap netral terhadap klaim dua belah pihak. Jika hakim berat sebelah kepada satu pihak, maka argumen yang menguntungkan pihak itu secara tidak sadar akan menarik perhatian hakim, dan argumen yang menyudutkan pihak itu secara otomatis akan diabaikan oleh hakim. Hal itulah yang menyesatkan hakim. Jika manusia bersikap tidak netral dan pikirannya berat sebelah, secara tidak disadari maka arah pemikirannya akan condong ke hawa nafsunya dan apa yang disukai hawa nafsunya. Itulah sebabnya Al-Qur’an memandang hawa nafsu dan juga bersandar pada persangkaan sebagai sumber kesalahan. Al-Qur’an memfirmankan: Mereka hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diingini hawa nafsu mereka. (QS. an-Najm: 23)

 

3.       Tergesa-gesa

 

Untuk mengemukakan pendapat mengenai suatu persoalan, kita harus memiliki bukti yang memadai. Kalau belum ada bukti yang cukup, boleh jadi pendapat yang dikemukakan akan salah. Berulang-ulang Al-Qur’an mengatakan bahwa pengetahuan manusia belum memadai untuk mengemukakan pendapat mengenai banyak masalah penting. Misalnya, Al-Qur’an memfirmankan: Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (QS. al-Isrâ': 85)

Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Dalam dua ayat Al-Qur’an itu, ada dua peringatan Allah untuk manusia. Allah berfirman agar manusia tidak mempercayai sesuatu kecuali tahu betul tentang sesuatu itu (peringatan agar jangan buru-buru percaya). Allah berfirman agar manusia tidak menolak sesuatu, kecuali tahu dengan pasti tentang sesuatu itu (peringatan agar jangan buru-buru menolak).

Dalam sebuah ayat, Allah SWT berfirman: Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan mengenai Allah kecuali yang benar? (QS. al-A’râf: 169)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman: Yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum ketahui dengan pasti. (QS. Yunus: 39)

 

4.       Berpikir Tradisional dan Melihat ke Masa Lalu

 

Kecenderungan alamiah manusia adalah cepat menerima gagasan atau kepercayaan yang sudah diterima oleh generasi sebelumnya, tanpa memikirkannya lebih jauh. Al-Qur’an Suci mengingatkan manusia agar berpikir independen, dan agar tidak menerima apa pun tanpa menilainya dengan seksama, dan semata-mata karena sudah diterima oleh generasi sebelum­nya. Al-Qur’an memfirmankan: Tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati pada nenek moyang kami. Walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk? (QS. al-Baqarah: 170)

 

5.       Memuja Tokoh

 

Yang juga menyebabkan terjadinya salah berpikir adalah memuja tokoh. Akibat sangat dihormati, tokoh sejarah dan tokoh kontemporer yang termasyhur mempengaruhi pemikiran dan kehendak orang. Sesungguhnya tokoh-tokoh terkenal mengendalikan pemikiran orang. Orang berpikir seperti pikiran tokoh, dan berpendapat seperti pendapat tokoh. Orang tidak berani beda dengan tokoh, dan karena itu orang kehilangan kemerdekaan berpikir dan berkehendak. Al-Qur’an menyeru kita agar berpikir independen, dan agar jangan membabi buta mengikuti orang-orang tua, karena dengan berbuat demikian ada kemungkinan kita akan mendapat nasib buruk. Al-Qur’an mengatakan bahwa pada Hari Pengadilan orang-orang yang sesat akan berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami darijalan yang benar. (QS. al-Ahzâb: 67)

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2008 in KONSEPSI MANUSIA: MM

 

Sumber-sumber Pemikiran Dalam Islam

Sumber-sumber Pemikiran Dalam Islam

 

 

Al-Qur’an mendorong manusia untuk berpikir. Al-Qur’an bukan saja menunjukkan penyebab kesalahan berpikir, namun juga memerinci hal-hal yang patut dipikirkan, dan yang dapat digunakan sebagai sumber pengetahuan dan informasi. Pada umumnya Islam menentang penggunaan energi untuk masalah yang tak dapat dikaji dengan saksama atau, kalau pun dapat, tidak bermanfaat bagi manusia. Nabi Muhammad saw menganggap sia-sia pengetahuan yang kalau didapat tak ada manfaatnya, dan kalau tak memilikinya tak ada mudaratnya. Di lain pihak, Islam mendorong manusia untuk mengetahui hal-hal yang bermanfaat dan dapat diteliti. Al-Qur’an menyebutkan tiga hal yang bermanfaat kalau dipikirkan: alam semesta, sejarah, dan hati nurani manusia.

 

a.       Alam Semesta

 

Dalam banyak ayat Al-Qur’an, benda-benda alam seperti bumi, langit, bintang, matahari, bulan, mendung, hujan, gerakan angin, bahtera yang berlayar di lautan, tumbuhan, binatang, dan segala yang ada di sekitar manusia yang dapat ditangkap manusia lewat indera, disebut sebagai hal-hal yang layak dipikirkan dalam-dalam dan disimpulkan. Sebagai contoh kami kutipkan sebuah ayat Al-Qur’an: Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Yunus: 101)

 

b.       Sejarah

 

Banyak ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia untuk mengkaji generasi dahulu, dan menggambarkan kajian seperti itu sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dari sudut pandang Al-Qur’an, segenap perkembangan sejarah manusia berlangsung mengikuti hukum dan norma yang sistematis. Segenap kejadian sejarah yang melibatkan kehormatan dan aib, kesuksesan dan kegagalan, nasib baik dan nasib buruk, memiliki aturannya yang pasti dan sempuma. Dengan mengetahui aturan dan hukum ini, sejarah masa kini dapat dikendalikan ke arah yang menguntungkan generasi sekarang. Misal, sebuah ayat Al-Qur’an memfirmankan: Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunah-sunah Allah. Karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan kebenaran wahyu. (QS. Âli ‘Imrân: 137)

 

c.       Hati Nurani

 

Al-Qur’an Suci menyebut hati nurani sebagai sumber khusus pengetahuan. Dari kacamata Al-Qur’an, segenap makhluk mengandung ayat-ayat Allah dan kunci untuk menemukan kebenaran. Al-Qur’an menggambarkan alam di luar diri manusia sebagai “cakrawala” dan alam di dalam diri manusia sebagai “diri”, dan dengan demikian Al-Qur’an menanamkan dalam diri manusia nilai penting khusus hati nurani. Itulah sebabnya kata “cakrawala” dan “diri” lazim termaktub dalam literatur Islam. Ada kalimat yang terkenal di dunia. Kalimat ini berasal dari Filosof Jerman bernama Kant, dan tertulis di batu nisannya:

“Ada dua hal yang sangat mengundang decak kagum manusia; langit berbintang di atas kepala kita, dan hati nurani di dalam diri kita.” Al-Qur’an Suci memfirmankan pula: Kami akan memperlihatkan kepada mereka, tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. (QS. Fushshilat: 53)

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2008 in KONSEPSI MANUSIA: MM

 

Konsepsi tentang Alam Semesta

Konsepsi tentang Alam Semesta

 

 

Setiap doktrin dan filsafat kehidupan tentu didasarkan pada kepercayaan, evaluasi tentang kehidupan, dan interpretasi serta analisis tentang alam semesta. Cara berpikir sebuah mazhab tentang kehidupan dan alam semesta dianggap sebagai dasar dari segenap pemikiran mazhab itu. Dasar ini disebut konsepsi mazhab itu tentang alam semesta.

 

Semua agama, sistem sosial, mazhab pemikiran, dan filsafat sosial didasarkan pada konsepsi tertentu tentang alam semesta. Semua sasaran yang dibeberkan sebuah mazhab, cara dan metode untuk mencapai sasaran itu, merupakan akibat wajar dari konsepsi mazhab tersebut tentang alam semesta. Menurut para filosof, ada dua macam kearifan: kearifan praktis dan kearifan teoretis. Yang dimaksud dengan kearifan teoretis adalah mengetahui apa yang ada seperti adanya. Sedangkan kearifan praktis adalah mengetahui bagaimana semestinya kita hidup. “Semestinya” ini merupakan hasil logis dari “bagaimana itu”, khususnya “bagaimana itu” yang menjadi pokok bahasan filsafat metafisis.

 

 

Konsepsi dan Persepsi tentang Alam Semesta

 

Jadi kita tidak boleh mengacaukan konsepsi tentang alam semesta dengan persepsi indera tentang alam semesta. Konsepsi tentang alam semesta mengandung arti kosmogoni dan ada kaitannya dengan masalah identifikasi. Tidak seperti persepsi indera, yang lazim dimiliki manusia dan makhluk hidup lainnya, identifikasi hanya dimiliki oleh manusia. Karena itu, konsepsi tentang alam semesta juga hanya dimiliki oleh manusia. Konsepsi ini bergantung pada pemikiran dan pemahamannya.

 

Dari sudut pandang persepsi indera tentang alam semesta, banyak binatang yang lebih maju ketimbang manusia, karena binatang memiliki indera-indera tertentu yang tidak dimiliki manusia—seperti misalnya burung memiliki indera radar—atau indera binatang, meskipun dimiliki oleh binatang dan juga manusia, lebih tajam daripada indera yang dimiliki manusia, seperti misalnya mata elang, indera penciuman anjing dan semut, dan indera pendengaran tikus. Manusia lebih unggul daripada binatang karena manusia memiliki konsepsi yang mendalam tentang alam semesta. Binatang hanya melihat alam, namun manusia dapat menafsirkannya juga.

 

Apa identifikasi itu? Bagaimana hubungan antara persepsi dan identifikasi? Unsur-unsur apa saja selain unsur-unsur persepsional yang menjadi bagian dan identifikasi? Bagaimana unsur-unsur ini masuk ke dalam identifikasi, dan dan mana? Bagaimana mekanisme identifikasi? Bagaimana standar untuk menetapkan mana identifikasi yang benar dan mana identifikasi yang salah? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang perlu dibahas sendiri dalam tulisan tersendiri. Sekarang kami tidak dapat membahasnya. Namun demikian, tentu saja mempersepsi sesuatu itu beda dengan mengidentifikasikannya. Banyak orang melihat pemandangan, namun sedikit saja yang dapat menafsirkannya, dan tafsiran mereka ini juga sering berbeda-beda.

 

 

Beragam Konsepsi tentang Alam Semesta

 

Pada umumnya ada tiga macam konsepsi tentang alam semesta atau identifikasi tentang alam semesta, atau dengan kata lain interpretasi manusia tentang alam semesta. Sumber interpretasi ini adalah tiga hal: ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama. Maka dapat dikatakan bahwa ada tiga macam konsepsi tentang alam semesta: konsepsi ilmiah, konsepsi filosofis, dan konsepsi religius.

 

 

Konsepsi Ilmiah tentang Alam Semesta

 

Sekarang rnari kita lihat bagaimana dan sejauh mana ilmu pengetahuan membantu kita membentuk pendapat. Ilmu pe­ngetahuan didasarkan pada dua hal: teori dan eksperimen. Untuk mengetahui dan menafsirkan fenomena, maka yang mula-mula terbesit di benak ilmuwan adalah teori. Kemudian, dengan berdasarkan teori, dia melakukan eksperimen di laboratorium. Jika teori itu dibenarkan oleh eksperimen, maka teori itu diterima sebagai prinsip ilmiah, dan akan terus absah sampai ada teori baru yang lebih baik dan lebih komprehensif yang dikuatkan oleh eksperimen. Bila teori baru yang lebih komprehensif muncul, maka teori lama jadi tidak absah.

 

Begitulah, ilmu pengetahuan menemukan sebab dan akibat melalui eksperimen. Kemudian ilmu pengetahuan mencoba lagi menemukan sebab dari sebab itu dan akibat dari akibat itu. Proses ini berlangsung sepanjang mungkin. Ada banyak keuntungan dan kerugian dari kerja ilmiah, karena ilmu pengetahuan didasarkan pada eksperimen praktis. Keuntungan terbesar dari temuan ilmu pengetahuan adalah temuan tersebut khusus sifatnya.

 

Ilmu pengetahuan dapat memberi manusia banyak informasi tentang sesuatu. Juga dapat memberikan pengetahuan tentang selembar daun. Kemudian, karena memperkenalkan manusia dengan hukum tertentu yang mengatur sesuatu, maka ilmu pengetahuan mampu membuat manusia dapat mengendalikan dan memanfaatkan sesuatu, dan dengan demikian ilmu pengetahuan memajukan industri dan teknologi.

 

Kendatipun ilmu pengetahuan dapat memberikan beribu-ribu hal tentang sesuatu, namun karena pengetahuan yang diberikan oleh ilmu pengetahuan sifatnya khusus, maka ruang lingkupnya pun terbatas. Eksperimen membatasinya. Ilmu pengetahuan dapat melangkah maju selama dimungkinkan membuat eksperimen. Jelaslah, ilmu pengetahuan tidak dapat melakukan eksperimen atas segenap alam semesta dan segenap aspeknya. Upaya ilmu pengetahuan untuk mengetahui sebab dan akibat hanyalah pada tingkat tertentu, dan selanjutnya sampailah ilmu pengetahuan pada tahap “tidak tabu.” Ilmu pengetahuan adalah laksana lampu sorot, yang hanya menerangi area yang terbatas. Di luar area itu, ilmu pengetahuan tak dapat meneranginya. Tak dapat dilakukan eksperimen untuk masalah-masalah seperti apakah alam ini ada awal dan akhirnya, apakah kedua sisi alam ini tidak ada batasnya? Kalau ilmuwan menghadapi masalah ini, sadar atau tidak sadar, agar dapat memberikan pendapat tentang masalah ini dia berpaling kepada filsafat. Menurut ilmu pengetahuan, alam ini merupakan sebuah buku purba, yang halaman pertama dan halaman terakhirnya sudah hilang. Awal dan akhirnya tidak diketahui. Alasannya adalah bahwa konsepsi ilmu pengetahuan tentang alam ini merupakan hasil dari pengetahuan tentang bagian, bukan tentang keseluruhan. Ilmu pengetahuan memberikan informasi tentang posisi beberapa bagian alam semesta, bukan tentang ciri dan sifat keseluruhan alam semesta. Konsepsi ilmu pengetahuan tentang alam semesta versi ilmuwan adalah seperti konsepsi tentang gajah dari orang-orang yang dalam gelap meraba-raba gajah. Orang yang memegang telinga gajah mengira bahwa gajah itu seperi kipas, orang yang memegang kaki gajah mengira bahwa gajah itu seperti pilar, dan orang yang memegang punggung gajah mengira bahwa gajah itu seperti panggung.

 

Kekurangan lain yang ada pada konsepsi ilmu pengetahuan tentang alam semesta adalah konsepsi tersebut tidak dapat menjadi dasar bagi ideologi, karena dari segi praktisnya, yaitu segi mem-perlihatkan realitas seperti adanya dan segi membuat orang mempercayai karakter realitas alam semesta, ilmu pengetahuan berubah. Menurut ilmu pengetahuan, ciri-ciri alam ini berubah-ubah dari hari ke hari, karena ilmu pengetahuan didasarkan pada perpaduan teori dan eksperimen, bukan didasarkan pada kebenaran rasional yang jelas. Teori dan eksperimen hanya memiliki nilai temporer. Karena itu, konsepsi ilmu pengetahuan tentang alam ini berubah-ubah, dan tidak layak untuk dijadikan dasar iman. Iman memerlukan dasar yang lebih konstan atau cukup permanen.

 

Konsepsi ilmu pengetahuan tentang alam semesta—mengingat keterbatasannya yang diakibatkan oleh alat-alat ilmu pengetahuan (teori dan eksperimen)—tak mampu menjawab sejumlah per-tanyaan, yang jawaban pastinya penting sekali bagi ideologi. Pertanyaannya adalah: Dari mana asal alam semesta ini? Ke mana tujuan alam semesta ini? Dari segi waktu, apakah alam ini ada awal dan akhirnya? Bagaimana posisinya dari segi tempat? Apakah eksistensinya, pada umumnya, baik dan bermakna? Apakah alam ini diatur oleh norma dan hukum yang tak berubah-ubah dan esensial, atau hal seperti itu tak ada? Apakah alam semesta pada umumnya merupakan unit yang hidup dan sadar, atau apakah manusia saja yang merupakan kekecualian yang kebetulan? Dapatkah sesuatu yang ada menjadi tidak ada, atau sesuatu yang tak ada menjadi ada? Mungkinkah atau mustahilkah mengembalikan sesuatu yang tidak ada? Mungkinkah penciptaan kembali alam semesta dan sejarah dalam segenap perinciannya, bahkan setelah bermiliar-miliar tahun? Yang lebih besar itu unitas atau multiplisitas? Apakah alam semesta terbagi menjadi alam material dan alam non-material, dan apakah alam material merupakan bagian kecil dan alam secara keseluruhan? Apakah alam ini mendapat panduan yang benar dan cerdas, atau apakah alam ini lemah dan buta? Apakah manusia dan alam ini keadaannya saling memberi dan menerima? Apakah alam semesta ini memperlihatkan reaksi terhadap perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia? Apakah ada kehidupan yang abadi setelah kehidupan fana ini? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan serupa.

 

Ilmu pengetahuan tidak memberikan jawaban untuk semua pertanyaan ini, karena ilmu pengetahuan tidak dapat melakukan eksperimen tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut. Yang dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang terbatas dan tertentu. Ilmu pengetahuan tak dapat mem­berikan gambaran umum tentang alam semesta.

Untuk lebih jelasnya, kami berikan contoh.

 

Seseorang boleh jadi memiliki pengetahuan tertentu tentang sebuah kota besar. Dia mungkin tahu secara terperinci satu bagian dan kota tersebut, dan mungkin dapat menggambarkan jalan-jalan besar dan kecil di kota tersebut, dan bahkan rumah-rumah di kota tersebut. Orang lain mungkin juga tahu secara terperinci bagian lain dan kota itu, dan orang ketiga, keempat dan kelima mungkin tahu bagian-bagian lain dari kota itu. Kalau dikumpulkan informasi dari mereka semua, mungkin diperoleh informasi yang memadai mengenai setiap bagian dari kota itu. Namun akankah informasi ini memadai untuk memiliki gambaran yang utuh mengenai kota itu? Misal, dapatkah diketahui bentuk kota itu: apakah bundar, persegi empat, atau bentuknya seperti daun? Jika menyerupai daun, lantas daun pohon apa? Bagaimana saling hubungan di antara berbagai area dari kota itu? Mobil jenis apa yang menghubungkannya? Apakah kota itu pada umumnya indah atau jelek? Jadi jelaslah, semua informasi ini tak dapat diperoleh.

 

Jika menginginkan informasi seperti itu, dan misalnya ingin tahu bentuk kota itu, atau ingin tahu apakah kota itu indah atau jelek, maka perlu naik pesawat udara untuk memperoleh pe-mandangan seutuhnya dari udara mengenai kota itu. Seperti telah disebutkan, ilmu pengetahuan tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang diperlukan untuk membentuk konsepsi mengenai alam semesta. Juga tak dapat memberikan gambaran yang utuh mengenai alam semesta.

 

Terlepas dari semua ini, nilai konsepsi ilmu pengetahuan mengenai alam semesta bersifat praktis dan teknis, bukan teoretis, sedangkan ideologi dapat didasarkan pada nilai teoretis saja. Kalau realitas alam seperti yang digambarkan oleh ilmu pengetahuan, itu tentu akan merupakan nilai teoretis ilmu pengetahuan. Nilai praktis dan teknis ilmu pengetahuan terletak pada fakta bahwa terlepas dari apakah ilmu pengetahuan menggambarkan atau tidak menggambarkan realitas, ilmu pengetahuan memberikan kemampuan kepada manusia untuk menunaikan tugas yang bermanfaat. Industri dan teknologi modern memperlihatkan nilai praktis ilmu pengetahuan. Sungguh menakjubkan, di dunia yang modern ini, sementara nilai teknis dan praktis ilmu pengetahuan meningkat, nilai teoretisnya justru merosot.

 

Mereka yang tidak mengetahui persis peran ilmu pengetahuan mungkin beranggapan bahwa selain kemajuan praktis ilmu pengetahuan tak dapat disangkal, ilmu pengetahuan juga telah mencerahkan hati nurani manusia dan telah meyakinkan manusia mengenai realitas seperti yang digambarkan oleh ilmu pengetahuan. Namun faktanya tidaklah demikian.

 

Dari pembahasan terdahulu jelaslah bahwa ideologi membutuhkan konsepsi tentang alam yang (1) dapat menjawab pertanyaan penting mengenai alam semesta sebagai keseluruhan, bukan hanya bagian dari alam semesta; (2) dapat menjadi konsepsi yang abadi dan andal, bukan konsepsi yang sifatnya untuk sementara waktu; dan (3) dapat memiliki nilai teoretis dan nilai realistis juga, bukan semata-mata nilai praktis dan nilai teknis saja. Jadi, juga jelas bahwa konsepsi ilmu pengetahuan tentang alam, sekalipun memiliki hal-hal lain yang dapat dipercaya, tidak memiliki ketiga syarat ini.

 

 

Konsepsi Filosofis Mengenai Alam Semesta

 

Meskipun konsepsi filosofis mengenai alam semesta tidak sesaksama dan sespesifik konsepsi ilmu pengetahuan, namun konsepsi filosofis didasarkan pada sejumlah prinsip yang jelas dan tak dapat disangkal lagi oleh akal. Prinsip-prinsip ini logis, sifatnya umum dan komprehensif. Karena kuat dan konstan, maka prinsip-prinsip ini memiliki keuntungan. Konsepsi filosofis mengenai alam semesta bebas dari ketidakkonstanan dan keterbatasan seperti itu, dua hal yang terdapat dalam konsepsi ilmu pengetahuan. Konsepsi filosofis mengenai alam semesta menjawab semua masalah yang menjadi sandaran ideologi. Prinsip ini mengidentifikasi bentuk dan ciri utuh dari alam semesta.

 

Baik konsepsi ilmu pengetahuan maupun konsepsi filosofis merupakan mukadimah untuk aksi, namun dengan dua cara yang berbeda. Konsepsi ilmu pengetahuan merupakan mukadimah untuk aksi karena konsepsi ini membuat manusia mampu mengendalikan alam dan membawa perubahan pada alam. Manusia, melalui sarana ilmu pengetahuan, dapat memanfaatkan alam untuk kepentingannya. Konsepsi filosofis merupakan mukadimah untuk aksi, artinya adalah bahwa konsepsi ini menentukan jalan hidup yang dipilih manusia. Prinsip ini mempengaruhi reaksi manusia terhadap pengalamannya berhubungan dengan alam. Prinsip ini menentukan sikapnya, dan memberinya pandangan tertentu mengenai alam semesta. Prinsip ini memberikan ideal kepada manusia, atau mencabut ideal dan manusia. Prinsip ini memberikan makna kepada kehidupannya, atau menariknya ke arah hal-hal yang sepele dan tak masuk akal. Itulah sebabnya kami katakan bahwa ilmu pengetahuan tak dapat memberikan konsepsi tentang alam yang dapat menjadi dasar bagi ideologi, sementara filsafat dapat.

 

 

Konsepsi Religius Mengenai Alam Semesta

 

Kalau setiap paparan pandangan total tentang alam semesta dianggap sebagai konsepsi filosofis, dengan tidak mempertimbangkan apakah sumber konsepsi ini perkiraan, pemikiran, atau wahyu dan alam gaib, maka konsepsi religius dan filosofis bidangnya sama. Namun jika sumbernya dipertimbangkan, maka konsepsi filosofis dan religius mengenai alam semesta tak syak lagi merupakan dua hal yang berbeda.

 

Dalam agama-agama tertentu seperti Islam, konsepsi religius tentang alam semesta mengambil warna filosofis atau argumentatif, dan merupakan bagian integral dari agama itu sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang diangkat oleh agama didasarkan pada pemikiran dan hujah. Dengan demikian, konsepsi Islam mengenai alam semesta bersifat rasional dan filosofis. Selain dua nilai konsepsi filosofis, yaitu abadi dan komprehensif, konsepsi religius tentang alam semesta, tak seperti konsepsi ilmiah dan filosofis murni, memiliki satu lagi nilai, yaitu menyucikan prinsip-prinsip konsepsi alam semesta.

 

Kalau diingat bahwa ideologi—selain membutuhkan keyakinan bahwa prinsip-prinsip yang dipandang suci oleh ideologi itu abadi dan tak dapat diganggu gugat—membutuhkan keyakinan dan ketaatan kepada mazhab pemikiran, maka jelaslah bahwa basisnya bisa cuma konsepsi alam semesta yang memiliki warna religius itu. Dari pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa konsepsi ten tang alam semesta dapat menjadi dasar dari ideologi kalau saja konsepsi itu memiliki keseimbangan, pemikiran luas yang filosofis dan kesucian prinsip-prinsip religius.

 

 

Bagaimana Menilai Ideologi?

 

Ideologi dapat dianggap sempurna kalau: (1) dapat dibuktikan dan diungkapkan secara logis, dengan kata lain dapat dipertahankan secara logika maupun intelektual; (2) memberikan makna kepada kehidupan dan menghapus gagasan yang tak ada artinya dari pikiran; (3) membangkitkan semangat; (4) mampu menyucikan tujuan manusia dan tujuan sosial; dan (5) membuat manusia bertanggung jawab.

 

Jika ideologi dapat dipertahankan secara logika, maka mulus jalannya ideologi itu untuk diterima secara intelektual. Dan karena tak ada kekacauan mengenainya, maka aksi yang disarankannya pun jadi mudah. Ideologi yang membangkitkan semangat membuat mazhabnya menarik dan memberikan kehangatan dan kekuatan kepada mazhabnya. Penyucian tujuan mazhab yang dilakukan oleh ideologi mazhab tersebut, memudahkan penganut mazhab ini untuk bekorban demi kepentingan prinsip atau tujuan mazhab tersebut. Kalau mazhab tidak menyebutkan bahwa tujuannya suci, maka mazhab tersebut tidak dapat mewujudkan rasa cinta kepada prinsipnya dan rasa bekorban untuk kepentingan prinsipnya, juga tak mungkin ada jaminan bahwa mazhab seperti itu akan sukses. Pertanggungjawaban manusia yang disebutkan oleh konsepsi alam semesta membuat orang memiliki dedikasi kepada had nuraninya dan membuat orang bertanggung jawab terhadap dirinya maupun masyarakat.

 

 

Konsepsi Tauhid tentang Alam Semesta

 

Semua karakteristik dan kualitas yang mutlak harus dimiliki oleh sebuah konsepsi yang baik tentang alam semesta, dimiliki oleh konsepsi tauhid. Konsepsi tauhid merupakan satu-satunya konsepsi yang memiliki semua karakteristik dan kualitas ini. Konsepsi tauhid merupakan kesadaran akan fakta bahwa alam semesta ada berkat suatu kehendak arif, dan bahwa sistem alam semesta ditegakkan di atas rahmat dan kemurahan had dan segala yang baik. Tujuannya adalah membawa segala yang ada menuju kesempurnaannya sendiri. Konsepsi tauhid artinya adalah bahwa alam semesta ini “sumbunya satu” dan “orbitnya satu”. Artinya adalah bahwa alam semesta ini “dari Allah” dan “akan kembali kepada Allah”.

 

Segala wujud di dunia ini harmonis, dan evolusinya menuju ke pusat yang sama. Segala yang diciptakan tidak ada yang sia-sia, dan bukan tanpa tujuan. Dunia ini dikelola dengan serangkaian sistem yang pasti yang dikenal sebagai “hukum (sunnah) Allah.” Di antara makhluk yang ada, manusia memiliki martabat yang khusus, tugas khusus, dan misi khusus. Manusia bertanggung jawab untuk memajukan dan menyempurnakan dirinya, dan juga bertanggung jawab untuk memperbarui masyarakatnya. Dunia ini adalah sekolah. Allah memberikan balasan kepada siapa pun berdasarkan niat dan upaya konkretnya.

 

Konsepsi tauhid tentang dunia ini mendapat dukungan dari logika, ilmu pengetahuan dan argumen yang kuat. Setiap partikel di alam semesta ini merupakan tanda yang menunjukkan eksistensi Allah Maha Arif lagi Maha Mengetahui, dan setiap lembar daun pohon merupakan kitab yang berisi pengetahuan spiritual.

 

Konsepsi tauhid mengenai alam semesta memberikan arti, semangat dan tujuan kepada kehidupan. Konsepsi ini menempatkan manusia di jalan menuju kesempurnaan yang selalu ditujunya tanpa pernah berhenti pada tahap apa pun. Konsepsi tauhid ini memiliki daya tarik khusus. Konsepsi ini memberikan vitalitas dan kekuatan kepada manusia, menawarkan tujuan yang suci lagi tinggi, dan melahirkan orang-orang yang peduli. Konsepsi ini merupakan satu-satunya konsepsi tentang alam semesta yang membuat tanggung jawab manusia terhadap sesamanya menjadi memiliki makna. Juga merupakan satu-satunya konsepsi yang menyelamatkan manusia dari terjungkal ke jurang kebodohan.

 

 

Konsepsi Islam tentang Alam Semesta

 

Konsepsi Islam tentang alam semesta merupakan konsepsi tauhid. Islam membawakan tauhid dalam bentuknya yang paling murni. Dari sudut pandang Islam, tidak ada yang seperti Allah, dan tidak ada yang menyamai-Nya: Tidak ada yang serupa dengan-Nya. (QS. asy-Syûrâ: 11)

 

Independensi Allah mutlak sifatnya. Segala sesuatu bergantung pada-Nya, namun Dia tak bergantung pada apa dan siapa pun: Kamulah yang membutuhkan Allah. Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Fâthir: 15)

 

Allah melihat dan mengetahui segala sesuatu. Dia mampu melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya: Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. asy-Syûrâ: 12) Dia mampu melakukan segala sesuatu. (QS. al-Hajj: 26)Allah ada di mana-mana.

 

Setiap tempat, entah di atas langit atau di kedalaman bumi, memiliki hubungan yang sama dengan-Nya. Ke arah mana pun kita menghadap, kita menghadap Allah: Ke mana pun kamu berpaling, di situlah wajah Allah. (QS. al-Baqarah: 115)

 

Allah mengetahui isi hati kita. Dia mengetahui segala niat dan tujuan kita: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan me­ngetahui apa yang dibisiKkan oleh hatinya. (QS. Qâf: 16)

 

Allah lebih dekat dengan manusia daripada urat lehernya: Kami lebih dekat dengannya daripada urat nadinya. (QS. Qâf: 16)

 

Allah memiliki segala sifat yang baik dan bebas dari segala kekurangan: Allah memiliki Nama-nama Teragung. (QS. al-A’râf: 180)

Allah bukanlah organisme material, dan tak dapat dilihat dengan mata: Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang penglihatan itu. (QS. al-An’âm: 103)

 

Dari sudut pandang tauhid dan konsepsi Islam tentang alam semesta, alam semesta merupakan ciptaan dan diurus oleh kehendak dan perhatian Allah. Jika Allah sekejap saja tidak memberikan perhatian, maka seluruh alam semesta pasti binasa seketika itu juga. Alam semesta ini diciptakan tidak sia-sia atau bukan untuk senda-gurau. Dalam penciptaan manusia dan dunia tersirat banyak keuntungan. Segala yang diciptakan tidak sia-sia. Sistem yang ada pada alam semesta adalah sistem yang paling baik dan paling sempurna. Sistem ini memanifestasikan keadilan dan kebenaran, dan didasarkan pada serangkaian sebab dan akibat. Setiap akibat merupakan konsekuensi logis dari sebab, dan setiap sebab melahirkan akibat yang khusus. Takdir Allah mewujudkan sesuatu melalui sebab khususnya saja, dan serangkaian sebablah yang merupakan takdir Allah untuk sesuatu.

 

Kehendak Allah selalu bekerja di alam semesta dengan bentuk hukum atau prinsip umum. Hukum Allah tidak berubah. Bila terjadi perubahan, maka selalu sesuai dengan hukum. Baik dan buruk di alam semesta ini berkaitan dengan perilaku manusia sendiri dan perbuatannya sendiri. Perbuatan baik dan buruk, selain mendapat balasan di akhirat, mendapat reaksi juga di alam semesta ini. Evolusi bertahap merupakan hukum Allah. Alam semesta ini merupakan tempat bagi perkembangan manusia.

 

Takdir Allah berlaku untuk alam semesta. Manusia ditakdirkan oleh takdir Allah untuk merdeka dan bertanggung jawab. Manusia adalah tuan bagi nasibnya sendiri. Manusia memiliki martabat khususnya. Manusia tepat untuk menjadi khalifah Allah. Dunia ini dan akhirat hanya merupakan dua tahap yang saling berkaitan seperti menanam benih dan panen, karena yang dipanen adalah yang ditanam. Dua tahap tersebut dapat pula disamakan dengan dua periode: periode anak-anak dan periode usia lanjut. Karena periode usia lanjut merupakan akibat dari periode anak-anak.

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2008 in KONSEPSI MANUSIA: MM

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.765 pengikut lainnya.