Maut yang tak terhindarkan telah tertanam sejak awal dalam struktur ontologis eksistensi. Setiap bayi lahir sudah berada di jalan kematian. Eksistensi manusia dapat didefinisikan sebagai Sein-zum-Tode, ada–menuju-kematian (Martin Heidegger, dalam Being and Time).
Setiap pulang dari kantor menuju kosan, di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, aku selalu melewati Mesjid Al-Mubarak. Seperti mesjid lainnya, selain kesejukan didalamnya, tak ada yang istimewa. Hanya ada satu hal yang selalu menarik perhatian, juga pikiranku. Yaitu Keranda Jenazah.
Keranda jenazah, selalu terlihat, karena berada di luar mesjid. Berwana hijau bertuliskan “Mesjid al-Mubarak“. Biasa juga, tak ada yang istemewa. Hanya, setiap kali aku melawati dan melihatnya, aku selalu tersadar akan kematian yang sedang menanti antrian. Entah berapa lagi manusia mengantri, hingga tiba giliranku untuk dijemput sang Izrail. Al-Qur’an surat Sajdah menyampaikan pesan:
“Dan mereka berkata, Apakah ketika kami telah lenyap (musnah) di dalam tanah, kami akan benar-benar menjadi ciptaan yang baru. Katakanlah: Malaikat maut ditugasi untuk menerimamu dan kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”
Setiap jiwa akan merasakan kematian (al-Quran Surat AliImran: 183)
Kematian, ungkap Syeikh Abbas al-Qummi, adalah ketika ruh meninggalkan badan, sebagaimana pelaut meninggalkan kapalnya yang karam. Atau, bagaikan secercah cahaya yang meninggalkan suatu tempat, dan membiarkannya menjadi padam atau gelap kembali, persis seperti saat ia belum masuk ke dalamnya.
Karena itu, setiap hari, aku sengaja melewati mesjid itu, walau ada jalan anternatif lain. Peringatan tak langsung dari keranda jenazah, terasa lebih menyengat dan sakti dibanding khutbah Jumat yang sering kali bikin ngantuk. Setiap melewatinya, aku selalu istighfar. Betapa banyak dosa yang sudah ditumpuk dan betapa kerdil amal baik yang baru dipupuk. Mungkin inilah yang dimaksud pemikir Rusia, Theodosius Dobzansky. Manusia mengetahui bahwa ia akan mati dan ia menghayati hidup seraya mengadapi maut.
Namun tentu, perasaan ini sangat dinamis. Seringkali kita, terutama aku, melupakan kematian jika terbuai dalam nikmatnya kehidupan. Kematian, dalam suasana ini, adalah hal yang mengerikan dan menakutkan. Sebab, sebagaimana kata J Paul Sartre, si filosof asal Perancis, garis hidup manusia tidak dapat dikatakan sebagai perjalanan menuju kematian, apalagi sebagai penantian (Erwaten) kematian. Paling-paling manusia hanya menunggu fakta bahwa ia harus mati, tetapi tidak pernah mengharapkan kematian. Setiap orang menemukan dirinya dalam kondisi yang sama, yaitu terkutuk untuk mati. Kata Sartre.
Memang, Al-Quran juga menyifati kematian sebagai musibah dan malapetaka sebagaimana tercermin dalam surat Al-Ma-idah ayat 106. Malapetaka ini ditujukan kepada manusia yang durhaka atau terhadap terhadap mereka yang ditinggal mati. Dalam arti bahwa kematian dapat merupakan musibah bagi orang-orang yang ditinggalkan sekaligus musibah bagi mereka yang mati tanpa membawa bekal yang cukup untuk hidup di negeri abadi.
“
Kalau sekuanya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar’ (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri)” (QS Al-Anfal: 50)
“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata, ‘Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini, kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar, dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya” (QS Al-An’am: 93).
Aku tak bisa berkata seperti Socrates yang dikutip oleh Asy-Syahrastani dalam bukunya Al-Milal wa An-Nihal (I:297).
“Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.”
Satu hal yang pasti: Keranda jenazah, dan juga kematian itu, membuat aku sadar bahwa apa yang kumiliki tak ada yang abadi. Aku akan ditinggal mati orang terkasih. Aku juga akan meninggalkan jiwa tercinta dan harta benda yang semula hendak digenggam. Ku teringat kata Roger Garaudy yang berkata: kematian mengajarkan bahwa hidup manusia tidak terletak dalam ”memiliki”, karena kematian menghapus segala kepemilikan personal dan segala milik pribadi. Al-Qur’an berpesan:
“Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, sedang akhirat lebih baik bagi orang-orang bertakwa, dan kamu sekalian (yang bertakwa dan yang tidak) tidak akan dianiaya sedikitpun (QS Al-Nisa’: 77)
Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu daripada dunia (QS Al-Dhuha: 4).
Ya Allah, masukkan aku ke dalam golongan yang merindukan kematian sebagai jalan berjumpa dengan-MU. Ya Allah, hindarkan aku dari kelompok yang menakuti kematian dan menghadap-Mu dengan penuh kehinaan.
“mati adalah kewajiban”
he he “hidup ini yang pasti cuma mati”
Oleh: nonreni on Oktober 11, 2009
at 1:18 am
Kalau kata Ust. Yunahar Ilyas, banyak orang boleh saja menafikan adanya Tuhan. Tapi, tak ada satu pun manusia yang menafikan kematian….
‘Nice post kang…. :)
Oleh: Zulfi on Oktober 14, 2009
at 5:48 am