Dari Buku Sampai Ke Buku:
Sambung Menyambung Jadi Nyanyian
Walau tak seperti dulu yang setiap hari membaca buku, alhamdulillah aku sudah menamatkan membaca beberapa buku dalam dua hari ini. Seperti biasa, kalau sudah membaca buku, aku selalu mengucapkan kata syukur pada-Nya. Tanpa hidayah dan anugerah-Nya berupa penglihatan, kehendak dan kesempatan yang bersifat jasadiyah dan ruhiyah, mungkin aku tak bisa membaca buku.
Dulu ketika dipesantren kelas 1 Aliyah, Kyai Pesantrenku al-ustadz KH. Shiddiq Amien, pernah bercerita—entah referensinya dari mana—bahwa ketika Bung karno selesei membaca buku Das Kapital milik Marx, beliau mengucapkan kata syukur, alhamdulillah . Tentu, dalam persepsiku, perspektif Kyai-ku itu dalam nada sinis pada Bung Karno. Namun, sejak saat itu, aku juga jadi belajar pada Bung Karno—yang kisahnya tanpa refrensi itu—bahwa setiap selesei membaca buku, selalu kuucapkan alhamdulillah . Hatta ketika aku juga menyeleseikan buku Das Kapital.
Beberapa buku yang kubaca dalam dua hari ini adalah serial buku karya Awalil Rizky dan Nasytih Majidi, Indonesia: Undercover Economy . Buku ini terdiri dari 3 jilid. Pertama, Bank Bersubsidi Yang Membebani . Kedua, Neoliberalisme Mencengkram Indonesia . Dan Ketiga, Utang Pemerintah Mencekik Rakyat . Serial buku ini, kudapatkan langsung dari penulisnya ketika acara bedah buku tersebut di Kuningan Jakarta Selatan.
Dalam serial buku itu digambarkan beragam kasus dibidang ekonomi yang hadir dengan sangat telanjang dihadapan kita. Kasus BLBI yang acak-acakan dan kebijakan ekonomi yang semerawut, hingga pemerintah menaikkan BBM. Semua kebijakan ekonomi itu terjebak dalam kerangka neoliberalisme yang menyeret bangsa ini sehingga sulit untuk bangkit. Memang bagi sebagian orang, kebijakan ekonomi neoliberal yang ditempuh sekarang akan mampu memperbaiki tingkat kesejahteraan bangsa ini. Walaupun pada kenyataannya, setelah puluhan tahun tunduk dengan cara berpikir liberalistik dan menjadi good boy para pemegang agenda liberal yang tergabung dalam bentuk negara adidaya dan Trans National Coorperation , ekonomi kita tidak bertambah baik.
Yang menarik dari serial buku ini, kedua penulis menggunakan data-data resmi yang juga dipakai oleh pemerintah, tapi dengan cara analisis yang berbeda. Sangat kayak data. Walaupun secara substansial, serial buku ini tentu berada dibawah bayang-bayang, Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia , Karya Pak Amien Rais. Namun ada selang penghubung, serial buku ini dan buku Pak Amien. Kedua-keduanya mengutuk kebijakan ekonomi yang liberalistik dan kedua-keduanya merindukan perubahan fundamental. Keduanya sepakat, untuk melakukan perubahan, dibutuhkan keberanian. Baik dalam School of Thought maupun cara bertindaknya
Karena ekstase dalam membaca bahan seputar ekonomi dan dan pembangunan ini, aku teringat lagi buku Bjon Hettne, tentang teori dependensia, yang aku baca 4 tahun lalu. Betapa proses kapitalisme mengalami beberapa perkembangan yang evolutif namun tetap menghisap darah segar negara-negara berkembang yang kaya raya. Tahap-tahapan itu berbentuk kolonialisme-imperialistik, kemudian menjadi developmentalistik dan sekarang berbentuk globalisasi dengan etika neoliberalistik.
Aku juga mereview kembali buku kumpulan tulisan, A Moral Critique of Development , karya Philip Quarles van Ufford dan Ananta Kumar Giri. Buku ini menegaskan bahwa pembangunan adalah suatu keterlibatan moral yang bersifat global. Maka buku ini hadir sebagai penjajakan kritik moral atas praktek-praktek pembangunan. Kumpulan tulisan ini mengajukan suatu pendekatan etika pembangunan yang berporos pada kontingensi, disjungsi dan ’keadaan darurat’. Penjabaran buku diawali dengan disjungsi dalam etika pembangunan sebagai hubungan tak tentu antara dua keterlibatan moral: disatu pihak keprihatinan etis ’peduli kepada yang lain’ dan dipihak lain secara estetis ’peduli kepada diri sendiri’.
Kalau sudah begitu kompleknya permasalahan ekonomi kita yang berada dalam cengkaraman asing, aku teringat sang pendiri republik. Tahun 1928, Bung Hatta dalam pledoinya ’Indonesia Vrij ’ di pengadilan Den Haag menegaskan: ”…lebih baik Indonesia tenggelam kedasar lautan daripada menjadi embel-embel bangsa lain… ”. Dua tahun kemudian, 1930, Bung karno berteriak lantang dalam pledoinya ”Indonesia Klaagt-aan ” di pengadilan Bandung: ”…imperialisme berbuahkan negeri-negeri mandat, ’daerah pengaruh’…yang didalam sifatnya ’menaklukan’ negeri orang lain, membuahkan negeri jajahan…” .
Akhirnya, ku ingat nyanyian kalau sedang demontrasi dulu di depan Istana Merdeka atau di Gedung DPR:
Indonesia negeri berdarah
Bermacam-macam peristiwa
Ambon, Aceh, dan juga semanggi
Dan Masih banyak yang lainnya
Apa perlu kita panggilan Bung Karno? Tidak perlu!
Apa perlu kita panggilkan Bung Hatta? Tidak perlu!
Atau kita lawan sendiri!!!!
Inget Banget nih lagu…Heroikme sepanjang masa, Heroikme sepanjang jalan. Tanpa Kultus dan hanya ada satu kalimat INDONESIA RAYA
Masih inget lagu yang ini juga kan ?
Disini Negeri Kami
Temapt Padi Terhampar Luas
Samudera nya Kaya Raya
Terima Kasih Tuhan
Di Negeri Permai Ini
Berjuta Rakyat Bersimbah luka
Anak Kurus Tak Sekolah
Pemuda Desa Tak Kerja
Mereka Dirampas Hak nya
Terkurung & Lapar
Bunda Relakan darah Juang Kami
Untuk Bebaskan Negeri
=================
Oleh: onlyptc on November 5, 2009
at 3:10 pm