Oleh: Kang Yayan | Juli 13, 2008

Perjalanan 3 Hari

Perjalanan Tiga Hari

 

 

Ingin sekali aku liburan.

 

Liburan!!! Ini yang terpikir ketika pikiran berada dalam kepenatan dan jiwa mengalami rasa jenuh. Liburan, adalah kata yang seolah wajib bagi orang “kota” dan kurang begitu akrab bagi pendeduduk desa. Apalagi bagi orang kota yang selalu dihantui oleh serangan Stress. Kenapa?.

 

Sebagaimana diungkap Yasrap A Piliang, ada beberapa ciri orang kota:

 

Pertama, Homo-economicus. Manusia kota adalah manusia ekonomi. Hubungan antar sesama manusia adalah fungsional dan profesional bukan sosial dan kekerabatan. Segala sesuatu didasarkan atas prinsip kalkulasi ekonomi. Keramahtamahan dan tolong menolong mengalami deviasi menjadi komersialisasi. Semua dilakukan demi uang.

 

Kedua, Homo-individualis. Inilah manusia yang mengutamakan ego daripada kolektivitas, yang mencintai diri sendiri daripada masyarakat.

 

Ketiga, homo-dromos. Manusia yang dihantui kecepatan. Inilah manusia yang kehilangan tempat dan ruang untuk refleksi, perenungan, meditasi dan spiritualitas. Segala sesuatu dikemas dengan begitu instan: Mie Instan, Makanan Instan, sampai belajar keagamaan secara instan dalam bentuk paketan.

 

Keempat, manusia kota melakukan pemampatan ruang dan waktu. Mereka memperpendek durasi kehidupan dan menggabungkan beberapa unsurnya menjadi satu. Mereka mengerjakan dua atau lebih hal sekaligus, dalam rangka mencapai target waktu : menyetir sambil menelpon, menonton sambil makan, membaca sambil sms-an, mengobrol sambil membaca koran, makan dan sms-an.

 

Kelima, homo digital. Relasi dan komunikasi manusia kota semakin dikuasi teknologi digital. Ruang yang dekat menjadi jauh secara sosial, sementara ruang yang jauh menjadi dekat secara social. Bagimana tidak, anak muda yang sibuk berada dalam dunia blog atau friendster begitu merasa dekat dengan orang nun jauh disana, tapi dia tak tahu apa yang terjadi dengan orang disebelahnya.

 

Keenam, homo-solitarius. Manusia penyendiri yang berada dalam kesepian. Manusia kota merasa sunyi dan terasing ditengah kesumpekkan kota. Seorang petani desa yang menyendiri ditengah sawah, ia tidak kesepian, sebab ia berdialog dengan alam. Sedang manusia kota, mengalami kesendirian ditengah keramaian, ia tidak pernah berdialog dan berbagai dengan manusia lain.

 

Ada 4 lagi ciri manusia kota. Tapi ku kira berkaitan dengan perjalananku ini, cukup dituliskan tujuh ciri saja. Intinya, bagimana orang orang kota merasa terasing dan rindu akan suasana desa yang sejuk dan damai. Berada dalam lingkungan yang nyaman dan bersentuhan dengan orang lain penuh keramahan yang didasari oleh rasa cinta dan ketulusan. Akhirnya, untuk menghampiri suasana itu, mereka butuh hiburan dan juga liburan.

 

Bahkan kusadari, ciri-ciri itu mulai hinggap dalam diriku. Tanpa tersadari, aku merasa tiba-tiba jadi individualistis, dramatis dan solitar. Pada titik ini, aku mulai merasa sepi dalam keramaian dan merindukan suasana desa yang hening namun penuh keriangan komunikasi.

 

Untuk melepaskan kepenatan, 3 Hari berturut-turut (4, 5, 6 Juli 2008) aku bersama teman-teman yang lain jalan-jalan ke Jawa Barat.

 

 

Jum’at (4 Juli 2008)

 

Setelah menenuaikan sholat jum’at di Mesjid PP Muhammadiyah, aku bersiap-siap berangkat menuju Bandung. Ketika matahari makin bergerak ke arah barat, aku mulai menggerakan diri untuk bergegas ke arah selatan.

 

Setelah melewati Tol Cipularang yang melintasi kota Karawang dan Purwakarta, akhirnya aku tiba di Kota Kembang. Sengaja aku tidak melewati jalur Puncak Bogor yang pasti dipadati oleh kendaaraan orang Jakarta. Tentu, mereka juga berlibur.

 

Sesampainya di Bandung, malam sudah hinggap. Aku mencari tempat penginapan untuk sedikit menyimpan rasa letih.  Aku menuju arah Tamansari, sekitar Universitas Islam Bandung (UNISBA). Aku masuk ke Wisma Sawung Guling. Sayang, kamar sudah penuh. Disertai, hembusan angin dingin yang mulai merasuk kedalam sumsum, aku bergegas mencari penginapan lain. Aku mendapatkan Hotel Nyland. Mungkin karena lagi musim liburan tadi, Hotel Nyland pun sudah sesak. Sementara malam makin mengelam,  aku menyusuri jala-jalan di Kota Kembang ini.  Kudapati hotel Nirmala. Lagi-lagi, penginapan sudah tak menyisakan ruang untuk aku beristirahat. Akhirnya, aku melewati jalan Cihampelas, di belakang Kebun Raya Bandung. Tepat dengan No. 274, Berdiri hotel Samudra. Alhamdulillah di hotel ini, masih ada kamar kosong. Setelah masuk, aku mendapat kamar 211.

 

Karena malam sudah menunjukan pekatnya, sementera badanku minta hak untuk beristirahat, akhirnya aku mengurung diri di kamar. Tapi tetap saja tak bisa tidur, aku nyalakan TV, dan aku langsung mencari chanel CNN. Tak ada berita baru, kecuali persaingan Calon Presiden Amerika Obama dan Mc. Cain. Dan tentu saja, yang paling sering muncul, adalah seorang politisi muda fenomenal, Barack Obama. Meski namanya baru dikenal publik Amerika Serikat (AS) sekitar 2 tahun lalu, namun kehadirannya sudah mampu menandingi Mc.Cain dalam kancah kandidat presiden AS. Barack Obama dikenal sebagai seorang sosok politisi yang senang berkomunikasi baik langsung maupun tidak dengan warga AS. Beliau seringkali menuangkan isi pikiran, pendapat serta ide-ide barunya yang dikemas dalam sebuah audiofile podcasting yang selalu bisa diakses oleh publik di seluruh dunia. Suaranya yang bersahaja dan ramah mengesankan seolah-olah beliau sedang berbicara langsung secara personal kepada para pendengarnya. Hal ini tentunya patut dijadikan sebuah keuntungan yang belum tentu dimiliki oleh setiap politisi dimanapun. Bagaimana dengan politisi Indonesia? Bagiku, hanya ada dua politisi yang aku kagumi yang lahir dari rahim pertiwi; Bung Karno dan Pak Natsir.

 

 

Setelah selesei melihat CNN itu, aku pindahkan Chanel ke Celestial Movies, saluran TV yang semuanya menanyangkan film-film Mandarin. Tak sengaja, aku melihat Blue Dragon Award 28, semacam SCTV Award, bagi film-film yang berasal dari Korea. Ketika pemilihan aktris terbaik, muncul nama Song Hye Kyo atau Song Hye Gyo, yang bergelar The Most Wanted Actress in Korea. Bintang ini, merupakan aktris favoritku, terutama dalam film Full House yang disutradarai Pyo Min-soo (komentarku tentang film ini ada di rubrik Film). Sayang dia berada dibawah bintang yang lain yang tak kukenal. Menurutku—bukan pembelaanku pada artis favorit korea ini—kekalahan dia karena nominasinya diambil dari film Hwang Jin Yi yang disutradai oleh Jang Yoon Hyeon bukan dari film Full House atau Endless Love . Memang dalam film ini, akting Hye-gyo kurang meyakinkan dan kalah cemerlang dibanding Ha Ji-won yang tampil di versi serialnya.

 

 

Sabtu (5 Juli 2008)

 

Setelah keluar dari hotel, sekitar jam 8 pagi, aku menuju ke Panti Asuhan Bayi Sehat Bandung. Setelah menengok bayi-bayi asuhan, aku keliling Bandung. Di mulai dari jalan Purnawarman, Tamansari, Cihampelas, Gedung Sate, Astana Anyar, Malabar dan Tegal Lega. Ketika lewat di jalan Malabar, ada pemandangan menarik. Disana berdiri bangunan rumah dengan bertuliskan di Papan Iklannya “Eiffel House”. Benar-benar pemandangan yang kusaksikan seperti di Fashion TV. Sebuah stasiun TV yang hanya bisa kusaksikan ketika menginap di Hotel.  Gadis-gadis Bandung berpakaian laksana Paris Hilton dan Kyoko Fukuda (Pemeran Tomoko dalam drama Friends) yang melangkah di atas catwalk dalam acara Peragaan Busana Paris Musim Semi dan Panas Tahun 2003 yang dilaksanakan di kota Paris.  Bandung nampaknya ingin bercermin pada Perancis. Sebutan Paris Van Java adalah kebanggaan dan juga beban yang mesti ditanggung dengan beragam konsekuensinya!!

 

Masyarakat Bandung, apalagi para gadis dan pemudanya—sebagimana juga kaum remaja pada umumnya di Indonesia—mengalami epigonisme yang ganas. Yaitu suatu keadaan dimana merek a mengambil segala hal yang berbau western. Sayang semua merek barat itu hanya di adopsi dalam bentuk permukaannya saja tanpa disertai nalar kritis rasional ala barat. Lihat saja dijalanan, gadis-gadis mewarvai rambutnya dengan ragam warna, tapi kulitnya tetap cokelat. Gaya bicara mereka laksana di Chicago dan Texas, tapi isinya hanya umpatan orang kampungan. Gaya berpakain mereka sudah seperti di Beverly Hills atau Las Vegas, namun pola pikir mereka tetap saja seperti orang desa. Makanan mereka adalah Mc. Donald, KFC, CFC dan tak lupa Coca Cola. Inilah cara termudah yang bisa dilakukan oleh mereka untuk dan merasa diri menjadi barat. Modern?!!!

 

Kembali pada perjalananku mengelilingi Bandung, yang terlintas dalam benakku, betapa hebatnya imajinasi dan fantasi orang Belanda. Fantasi dan imajinasi ini mereka manifestasikan dalam tata kelola kota Bandung sebagai tempat pertahanan sekaligus peristirahatan mereka. Siapa yang tak mengenal Bandung Lautan Api dan siapa yang tak tahu, bahwa diujung utara Bandung, adalah perekebunan teh yang indah dan asri.  Nampaknya, orang Eropa punya batok kepala dengan daya khayal yang penuh warna. Dan jika tata ruang kota adalah cerminan dari daya pikir dan khayal itu, betapa buruknya khayalan penduduk jamrud katulistiwa ini. Tanah jawa yang subur dan makmur dijadikan pijakan untuk pabrik-pabrik raksasa, sementara tanah yang gersang dijadikan tempat transmigrasi dan pertanian. Tak perlu kusebutkan, betapa penatnya Jakarta. Daerah Dago Bandung pun sekarang, menjadi sumpek dan padat penduduk. Betapa tidak jengah, hampir setiap hari ada perbaikan tata ruang dan jalan-jalan di negeri ini. Apa mereka tidak merencanakan sebelumnya. Oh Negeriku!!

 

Pikiranku melayang, terus menerawang hingga sampai pada zaman miotologi Sangkuriang. Cerita legenda ini menjadi mitos yang menyejarah. Sementara pikiranku yang lain, menembus batas pada sejarah yang menjadi mitos. Betapa makmurnya tanah Pasundan ketika dipimpin oleh Prabu Siliwangi. Zaman itu, orang sunda mempunyai etika dalam pembangunan. Diantaranya, menanam lima pohon sebelum menebang satu pohon,  jangan membangun rumah di muara dan hulu sungai, dan jangan menebang pohon didaerah perbukitan dan tepi sungai. Inilah local wisdom atau local genius orang sunda.   

 

Setelah sholat dzuhur dan ashar dijama’ aku menuju ke Tangkuban Perahu melalui jalan Lembang. Sekitar jam 15.30, aku sampai di lokasi. Sungguh pemandangan yang menyejukkan dan indah. Subhanallah! Matahari perlahan meninggalkan arena dan menyisakkan rona merah bercampur kuning yang   

 

Setelah mengamati sebentar, aku mulai mengitari alam sekitar. Di bibir kawah kucium bau belerang. Hampir setiap tempat wisata menggambarkan situasi yang sama: Penjaja makan dan barang oleh-oleh, keluarga yang memanjakkan anak-anaknya dan sepasang muda-mudi yang larut dalam kemesraan. Sengaja aku menghindari semua itu. Aku masuk kesemak dan aku merenungkan betapa Maha Kuasa-nya sang pencipta. Tiba-tiba aku merasakan satu detik saja, dimana spiritualitas itu memancar dalam jiwa. Inilah ekstase akan kerinduan pada yang Kuasa. Detik mencerahkan itu, biasanya kita mengingat orang-orang tercinta setelah mengingat-Nya.

 

Setelah malam kian pekat, aku melanjutkan perjalanan untuk menuju Ciater Subang. Sesampainya dsana, betapa luar biasa macetnya. Kendaraan lalu larang, hilir mudik, saling bersilangan. Rupanya semakin hari, kawasan wisata Ciater semakin menawan para pengunjung. Aku menginap disebuah wisma, pondok asri.

 

Besoknya, aku jalan-jalan keliling Ciater dan sempat berendam dan berenang dikolam renang air panas yang dihasilkan dari belerang dasar bumi.

 

Setelah sholat dzuhur dan ashar dijama’, aku meninggalkan Subang melalaui jalur Purwakarta dan kemudian masuk Cikampek dan kembali ke Jakarta

 

 

               


Tanggapan

  1. “dunia blog atau friendster begitu merasa dekat dengan orang nun jauh disana, tapi dia tak tahu apa yang terjadi dengan orang disebelahnya”.
    bener sakali mas, aku sendiri mengalaminya hehe…
    Aku jga suka serial full House, tpi ngefans ma Rain, tokoh co-nya, dan punya sound track nya
    Terbaik lainnya Jewel In The Palace, Lee Young-Ae aku suka ama dia, cantik bgt :)
    Kalo indo ingin seperti bule (barat) tpi sebenarnya para expatriate itu justru mendambakan kulit, rambut ala indo. Teman espat disini, merka justru berjemur buat dapetin kulit itam, rambut justru mereka suka yang item..
    jadi ketuker keinginan ma kita hehe…

  2. Yap akhi, salah satu menghilangkan kejenuhan adalah dengan refreshing..di tambah lagi kalau ada keluarga,sohib..menemani kita…duh senengnya yach….!!!satu lagi,, ada orang membuat kita tersenyum adalah obat mujarab buat kita loch,,percaya gak!!seolah hilang sementara penat dalam diri kita..bener ga akhi,,baik dari sosok figur film,or orang sekeliling yang dekat dengan kita..
    aku juga fans berat han zhi eun,,cantik,cute,gak bosenin,karakter filmnya juga bagus..apalagi vic zhou juga dalam film meteor garden,,yang cool banget dech..

    ==yang paling tepat untuk refreshing adalah dengan cara berdzikir. Kata al-Qurán, Äla Bi Dzikrillah tathmainnu al-Qulub” Berdzikirlah engkau pada Tuhan-Mu niscaya engkau akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman hati”. Salam, YSH==

  3. kalo saya gak ada budget buat liburan bisa diganti dengan silaturahmi ke rumah teman lama
    :)

    ==Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya maka perbanyaklah silaturrahiem (al-hadits). == Salam, YSH

  4. wah senangnya bisa jalan-jalan, saya ke bandung, eh pulangnya kebablasan hehehe…

    == terimakasih atas kunjungannya mas..jalan-jalan memang bisa menenangkan fikiran. Kalau berada dalam perjalanan dunia maya, insya Allah saya akan jalan-jalan ke tempat mas..
    Salam kenal dan persahabatan, YSH==


Beri tanggapan

Your response:

Kategori