Oleh: Kang Yayan | Mei 19, 2008

“Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia!”

“Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia!”

 

 

Indonesia tetap dan masih saja berada dalam cengkraman penjajah. Itulah yang aku tangkap dari bedah buku “Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia!” karya Pak Amien  Rais yang diselenggrakan di Aula Serba Guna Gelora Bung Karno. Memang hal ini bukan New Discourse, tapi sudah diwanti-wanti oleh Presiden pertama kita, Bung Karno. Jauh-jauh hari, Bung Karno Mengingatkan akan bahaya laten NEKOLIM; Neo- Kolonialisme dan Neo-Imperialisme. Bahaya NEKOLIM ini semakin lama semakin mengerayangi bangsa yang baru merdeka.

 

Yang lebih menyakitkan, agen-agen penjajah tetaplah kemasan lama dengan wajah baru. Mereka adalah anak kandung pertiwi sendiri. Kalau zaman kolonialisme awal datang ke negeri ini, mereka hadir dalam bentuk raja-raja yang berada dibawah kendali penjajah. Kemudian muncul demang-demang seperti nampak dalam film Si Pitung. Zaman Bung Karno mereka adalah agen-agen atau penyalur ide-ide Berkeley dan di era Soeharto, mereka penggagas dependensia dan pembangunanisme.  

 

Bung Karno berteriak: Kita Mudah Merdeka, karena yang kita hadapi orang luar, tapi kita susah berdaulat karena cukong-cukong NEKOLIM berada dan asli orang rumah sendiri. Kata Pak Amien, dalam bedah buku itu, “banyak agen-agen Imperialisme baru yang yang berkeliaran di senayan”. Siapa? Semua orang juga tahu, Kata Pak Amien. 

 

Aku merasakan, bahwa sepertinya, yang paling mencintai bangsa saat ini adalah Pak Amien. Beliau begitu konsen memikirkan republik ini. Beliau begitu geram dan marah ketika aset-aset bangsa semakin marak dikeruk dan diguras tanpa batas oleh para penjajah baru yang berbentuk TNCs dan MNCs. Betapa sakitnya kita, tonjolan gunung di Riau dan Papua berubah menjadi danau.  Dan bagi Pak Amien, ini bukan hal yang baru. Beliau sudah lama memperjuangkan hal ini, ketika rezim otoriter berkuasa dan tokoh yang lain berada dibawah ketiak sang penguasa.

 

Yang aku tangkap dari Pak Amien, dengan menggunakan tipologi Clifford Geerzt dalam The Religion of Java (dan sebenarnya aku menolak tesis-tesis Geerzt), bahwa sebenarnya Nasionalisme yang kokoh bukan hanya lahir dari kelompok Abangan dan Priyayi. Sejarah mencatat, justru nasionalisme kokoh di bawah panji-panji kelompok santri—tentu dengan terminologi santri yang longgar. Dulu, Pak Natsir yang Masyumi dan PERSIS adalah tokoh muslim nasionalis yang tak tergoyahkan. Dan siapa yang tak tahu, mosi integral Pak Natsir, yang manyatukan kembali NKRI, ketika Negara mulai tercabik-cabik. Siapa yang tak mengenal, Syafrudin Prawiranegara, yang dengan sigap membentuk PDRI, dan secara suka rela menyerahkan kembali kepada Bung Karno setelah Negara mulai stabil. Siapa yang tak tahu perjuangan Mr.Roem?. Bahkan, kalau entittas santri ini mengkristal dalam sebuah organisasi kolektif, maka Muhammadiyah dan NU adalah dua organisasai yang secara tegas memperjuangkan nasionalitas yang mulai goyah dan rapuh oleh hantaman, meminjam istilah Hasyim Muzadi, Gerakan dan ideologi Transnasional. Pak Amien, dalam mataku, adalah elite santri dengan nilai keindonesian, kebangsaan, dan nasionalisme yang sangat tinggi. Sayang, Pak Amien yang mengekspresikan rasa cinta nya kepada tanah air dengan lantang, dianggap sebagai provokatif oleh sebagian orang. Sementara yang menjual aset bangsa dianggap sebagai tokoh bangsa. Menyakitkan!!!

 

 

 13 April 2007

 

 


Tanggapan

  1. Saya setuju pak Yayan, bangsa ini sudah kronis sakitnya sehingga mendesak sekali untuk diselamatkan sebelum kolleps.
    Salam kenal

    Salam kenal juga dan salam hangat mas.
    Memang, problematika bangsa ini begitu menggurita. Saya kadang pesimis akan keberlangsungan republik ini, jika melihat sejarah kuasa di nusantara ini. Dalam artian, Kerajaan Mataram runtuh di usia 70 tahunan pada abad ke- 7 Masehi. Kerajaan Majapahit, hancur di dalam umur 70 tahuan pada abad ke-14 Masehi. Apakah republik ini, akan hancur juga di usia ke-70 dan di abad yang ke-21? ah, mudah-mudahan ini pikiran yang mengada-mengada. Tapi, jika melihat realitas saat ini, betapa mengerikan..
    (Yayan Sopyani al-Hadi)


Beri tanggapan

Your response:

Kategori