Usai dirawat di Rumah Sakit Bandung dan dioperasi pembuluh darah, KH Shiddiq Amien, dikabarkan sembuh. Ustadz, panggilan kami kepada KH Shiddiq Amien, akan langsung kembali ke pesantren. Tepatnya pesantren Persatuan Islam Nomor 67 Benda Tasikmalaya.
Sebagai santri Benda, aku dan beberapa santri lainnya menanti dengan sabar dan was-was. Kami berkerumun dan riuh rendah saling bicara. Tak jelas yang dibicarakan. Karena semua suara terdengar sayup dan samar. Satu hal yang jelas, kami tetap menanti kehadiran Ustdaz dengan setia.
Tak lama, tanpa waktu dan jam, Ustadz bersama keluarga datang. Menghampiri kami dengan senyuman yang mengembang. Senyum Ustadz, tak hanya melukiskan keramahan dan karisma. Senyum itu adalah cermin ketulusan dan kesucian jiwa. Wajah Ustadz begitu bersih dan cerah.
Kami, para santri yang menanti, segera masuk kelas. Berebut. Menanti nasihat Ustadz. Alhamdulillah, saya dapat bangku paling depan. Tak ada suara dari Ustadz. Yang terlihat cuma senyuman diwajahnya. Senyum ikhlas. Ustadz menyuruh salah seorang puterinya, Nunung Sri Wahyuni, untuk membaca dan mengajarkan kitab Hadits al-Bukhari. Wah, Ustadz tak mengajar. Beliau hanya memperhatikan kami dengan penuh simpati. Aku juga tak fokus. Kupandang selalu wajah Ustadz. Ada hasrat agar Ustadz bisa kembali mengajar. Lagi, Ustadz hanya tersenyum.
Tak terasa, wajah Ustadz yang cerah memancing aku untuk meneteskan air mata. Ah, kupandang semua santri. Entah berapa banyak dan entah siapa saja. Aku jadi tak begitu tahu satu persatu. Yang kutahu, semua santri juga menitikkan airmata. Semua terharu melihat sosok Ustadz. Aku menangis.
Ustadz tetap tersenyum. Tetap tulus. Tiba-tiba Ustadz mengampiriku. Beliau membawa berlembar-lembar surat kabar, bukan kitab. Lalu, Ustadz menunjukkan setiap lembaran padaku. Ah tak jelas, aku kan santri, tapi aku juga merasa sudah jadi redaktur sebuah media nasional. Pikiranku kalut. Tiba-tiba, Ustadz berpesan padaku.
“Yan, lihat berita ini. Banyak media berisi tentang kemusyrikan. Entah sampai kapan perilaku musyrik ini berhenti,” kata Ustazd singkat.
Aku kaget. Aku terhenyak. Aku terbangun. Ah sekedar mimpi. Hari ini (Rabu, 14/10/2009) memang aku tidur siang. Sebelum tidur, aku mendapat banyak sekali pesan singkat terkait Ustadz Shiddiq yang kini masih dirawat. Bahkan ada pesan singkat dari beberapa teman yang membuat aku melonjak, hingga aku harus konfirmasi pada salah seorang puteri beliau, Nunung Sri Wahyuni.
Aku tak tahu tafsir mimpi. Sebab semua mimpi aku abaikan. Aku, sebagaimana pengagum Ibnu Hazm lainnya mengabaikan metode mimpi dalam mencapai kebenaran. Kata Ibnu Hazm, tak ada metode yang bisa memverifikasi kebenaran mimpi. Maka kalau ada buku tentang mimpi atau tafsir mimpi—baik dari dukun maupun ulama—aku mengabaikannya.
Dengan tulisan ini, saya tak mau menafsirkan mimpiku. Saya hanya mau merekam saja melalui catatan. Sebab saya tahu diri, selalu mengabaikan mimpi dengan ingatan sangat terbatas. Saya hanya ingin mengabadikan mimpi saya dalam sebuah coretan. Mimpi ini terasa indah dan pesan Ustadz—melalui mimpi itu—akan mudah diingat atau ditengok jika lupa. Mimpi ini terasa lain dari mimpi biasanya. Sekali lagi, saya hanya mencoba menceritakan mimpi saya (ekleren-to eksplanation) bukan untuk memahami sebuah mimpi (verstehen-to interpretation).
Saya tahu, saya bukan santri istimewa dibandingkan yang lain. Banyak santri yang sudah menjadi istimewa sebagaimana diharapkan Ustadz. Sementara saya masih saja bandel dan belum bisa dibanggakan. Saya juga mengira, mungkin banyak santri atau jama’ah PERSIS lain yang memimpikan Ustadz dengan lebih indah, juga lebih mengesankan.
Pengalamaku dengan Ustadz juga tak ada yang istimewa. Saya yakin, banyak santri yang bisa bersentuhan bersama Ustadz dengan lebih dekat dan akrab. Saya hanya punya beberapa pengalaman dengan Ustadz. Yang bagi saya cukup terasa hingga kini. Membawa pesan abadi yang tak terlupakan.
Pertama, ketika saya mau masuk sekolah Diniyyah Ula. Saya memang tak masuk melalui jalur resmi. Saya datang dengan Ma Imi, Ibunda Ustadz Abun Bunyamin, menemui langsung Ustadz Shiddiq. Ustadz Shiddiq berpesan padaku, waktu itu, untuk belajar dengan rajin dan tekun. Setelah itu, saya tak pernah bicara lagi dengan Ustadz. Saya hanya memperhatikan perilaku Ustadz dari kejauhan. Penuh teladan.
Kedua, saya mulai diajar Hadist al-Bukhari oleh Ustadz. Dibanding yang lain, aku tak begitu menonjol. Tapi pasti, nilai Bukhari-ku selalu berkisar di angka delapan dan sembilan. Sampai tiba pada satu waktu ketika aku mulai membuka wawasan di luar pesantren. Apalagi pasca kerusuhan Tasikmalaya 1996, kajian ke-Islaman di Tasikmalaya begitu menggeliat. Akhirnya, aku larut dalam berbagai diskusi ke-Islaman. Aku juga terlibat dalam kajian kelompok radikal yang berniat mendirikan negara Islam di Indonesia. Saat itu, tekadku untuk mendirikan negara Islam begitu kuat. Aku benci dengan tentara juga bendera merah putih. Kajianku diketahui pihak pesantren. Tak kalah menarik, pesantren, melalui RG-UG , sempat mengadakan diskusi tentang NII. Entah apa kaitannya. Sejak itu, aku dijauhi sebagian santri juga dicibir sebagian ustadz. Aku dikatakan sebagai pengikut aliran sesat dan menyesatkan. dhal al-mudhil. Bagaimana dengan sikap Ustadz Shiddiq?. Pada hari kamis, sehabis upacara pesantren (bai’at), aku lupa tanggalnya, aku dipanggil Ustadz Shiddiq untuk menemuinya di kantor. Ustadz tak mencibir juga tak menyesatkan. Ustadz malah tersenyum dan mengajak dialog seputar kajian yang aku ikuti. Aku merasa nyaman berbagi ide dan pengalaman dengan Ustadz. Bagiku, Ustadz sangat bijaksana. Di akhir pembicaraan, Ustadz malah memberiku sebuah buku tentang makna jihad dan baiat yang sejati dalam Islam. Tanpa cibiran akhirnya saya kembali ke jalan yang benar. Dengan senyuman Ustadz, saya terhindar dari gerakan radikalisme.
Ketiga, kenanganku dengan Ustadz, adalah ketika perpisahan. Aku sudah lulus dan siap keluar dari pesantren. Ketika mau mengambil Ijazah, seluruh santri bersalaman dengan Ustadz. Tiba giliranku bersalaman dan berpelukan dengan Ustadz Shiddiq. Beliau memelukku dengan hangat. Pelukan yang masih terasa hingga kini. Ketika memelukku, beliau berpesan:
“Rabbi Laa Tadzarni Fardaa. Yan, jangan biarkan Ustdaz sendiri di jalan dakwah,”.
Itulah pesan Ustadz yang hingga kini masih dan terus terngiang di telinga. Pesan abadi yang selalu dikenang.
Saya tak tahu pasti, apakah Ustadz membisikkan hal yang sama pada yang lain atau tidak. Yang saya tahu pasti, hingga kini, Ustadz tetap saja jadi idola saya. Ustadz dimataku adalah sosok ulama-cendekiawan PERSIS. Bila banyak ulama PERSIS yang tak bisa mengakses peradaban Barat, Ustadz memahami peradaban dan tradisi keilmuan serta wacana Barat dengan sangat memadai dan mumpuni. Bila banyak cendekiawan muda PERSIS yang mulai terbaratkan, Ustadz adalah pengingat dan pembimbing agar para cendikiawan itu tetap mendalami dan berpegang pada literatur dan turats Islam yang otoritatif.
Ustadz, semoga lekas sembuh..
Jakarta, Rabu, 14/10/2005