Oleh: Kang Yayan | Oktober 14, 2009

Ustadz Shiddiq Amien, Mimpi, dan Pesan Abadi

Usai dirawat di Rumah Sakit Bandung dan dioperasi pembuluh darah, KH Shiddiq Amien, dikabarkan sembuh. Ustadz, panggilan kami kepada KH Shiddiq Amien, akan langsung kembali ke pesantren. Tepatnya pesantren Persatuan Islam Nomor 67 Benda Tasikmalaya.

Sebagai santri Benda, aku dan beberapa santri lainnya menanti dengan sabar dan was-was. Kami berkerumun dan riuh rendah saling bicara. Tak jelas yang dibicarakan. Karena semua suara terdengar sayup dan samar. Satu hal yang jelas, kami tetap menanti kehadiran Ustdaz dengan setia.

Tak lama, tanpa waktu dan jam, Ustadz bersama keluarga datang. Menghampiri kami dengan senyuman yang mengembang. Senyum Ustadz, tak hanya melukiskan keramahan dan karisma. Senyum itu adalah cermin ketulusan dan kesucian jiwa. Wajah Ustadz begitu bersih dan cerah.

Kami, para santri yang menanti, segera masuk kelas. Berebut. Menanti nasihat Ustadz. Alhamdulillah, saya dapat bangku paling depan. Tak ada suara dari Ustadz.  Yang terlihat cuma senyuman diwajahnya. Senyum ikhlas. Ustadz menyuruh salah seorang puterinya, Nunung Sri Wahyuni, untuk membaca dan mengajarkan kitab Hadits al-Bukhari. Wah, Ustadz tak mengajar. Beliau hanya memperhatikan kami dengan penuh simpati. Aku juga tak fokus. Kupandang selalu wajah Ustadz. Ada hasrat agar Ustadz bisa kembali mengajar. Lagi, Ustadz hanya tersenyum.

Tak terasa, wajah Ustadz yang cerah memancing aku untuk meneteskan air mata. Ah, kupandang semua santri. Entah berapa banyak dan entah siapa saja. Aku jadi tak begitu tahu satu persatu. Yang kutahu, semua santri juga menitikkan airmata. Semua terharu melihat sosok Ustadz. Aku menangis.

Ustadz tetap tersenyum. Tetap tulus. Tiba-tiba Ustadz mengampiriku. Beliau membawa berlembar-lembar surat kabar, bukan kitab. Lalu, Ustadz menunjukkan setiap lembaran padaku. Ah tak jelas, aku kan santri, tapi aku juga merasa sudah jadi redaktur sebuah media nasional. Pikiranku kalut. Tiba-tiba, Ustadz berpesan padaku.

“Yan, lihat berita ini. Banyak media berisi tentang kemusyrikan. Entah sampai kapan perilaku musyrik ini berhenti,” kata Ustazd singkat.

Aku kaget. Aku terhenyak. Aku terbangun. Ah sekedar mimpi. Hari ini (Rabu, 14/10/2009) memang aku tidur siang. Sebelum tidur, aku mendapat banyak sekali pesan singkat terkait Ustadz Shiddiq yang kini masih dirawat. Bahkan ada pesan singkat dari beberapa teman yang membuat aku melonjak, hingga aku harus konfirmasi pada salah seorang puteri beliau, Nunung Sri Wahyuni.

Aku tak tahu tafsir mimpi. Sebab semua mimpi aku abaikan. Aku, sebagaimana pengagum Ibnu Hazm lainnya mengabaikan metode mimpi dalam mencapai kebenaran. Kata Ibnu Hazm, tak ada metode yang bisa memverifikasi kebenaran mimpi. Maka kalau ada buku tentang mimpi atau tafsir mimpi—baik dari dukun maupun ulama—aku mengabaikannya.

Dengan tulisan ini, saya tak mau menafsirkan mimpiku. Saya hanya mau merekam saja melalui catatan. Sebab saya tahu diri, selalu mengabaikan mimpi dengan ingatan sangat terbatas. Saya hanya ingin mengabadikan mimpi saya dalam sebuah coretan. Mimpi ini terasa indah dan pesan Ustadz—melalui mimpi itu—akan mudah diingat atau ditengok jika lupa. Mimpi ini terasa lain dari mimpi biasanya. Sekali lagi, saya hanya mencoba menceritakan mimpi saya (ekleren-to eksplanation) bukan untuk memahami sebuah mimpi (verstehen-to interpretation).

Saya tahu, saya bukan santri istimewa dibandingkan yang lain. Banyak santri yang sudah menjadi istimewa sebagaimana diharapkan Ustadz. Sementara saya masih saja bandel dan belum bisa dibanggakan. Saya juga mengira, mungkin banyak santri atau jama’ah PERSIS lain yang memimpikan Ustadz dengan lebih indah, juga lebih mengesankan.

Pengalamaku dengan Ustadz juga tak ada yang istimewa. Saya yakin, banyak santri yang bisa bersentuhan bersama Ustadz dengan lebih dekat dan akrab. Saya hanya punya beberapa pengalaman dengan Ustadz. Yang bagi saya cukup terasa hingga kini. Membawa pesan abadi yang tak terlupakan.

Pertama, ketika saya mau masuk sekolah Diniyyah Ula. Saya memang tak masuk melalui jalur resmi. Saya datang dengan Ma Imi, Ibunda Ustadz Abun Bunyamin, menemui langsung Ustadz Shiddiq. Ustadz Shiddiq berpesan padaku, waktu itu, untuk belajar dengan rajin dan tekun. Setelah itu, saya tak pernah bicara lagi dengan Ustadz. Saya hanya memperhatikan perilaku Ustadz dari kejauhan. Penuh teladan.

Kedua, saya mulai diajar Hadist al-Bukhari oleh Ustadz. Dibanding yang lain, aku tak begitu menonjol. Tapi pasti, nilai Bukhari-ku selalu berkisar di angka delapan dan sembilan.  Sampai tiba pada satu waktu ketika aku mulai membuka wawasan di luar pesantren. Apalagi pasca kerusuhan Tasikmalaya 1996, kajian ke-Islaman di Tasikmalaya begitu menggeliat. Akhirnya, aku larut dalam berbagai diskusi ke-Islaman. Aku juga terlibat dalam kajian kelompok radikal yang berniat mendirikan negara Islam di Indonesia. Saat itu, tekadku untuk mendirikan negara Islam begitu kuat. Aku benci dengan tentara juga bendera merah putih. Kajianku diketahui pihak pesantren. Tak kalah menarik, pesantren, melalui RG-UG , sempat mengadakan diskusi tentang NII. Entah apa kaitannya. Sejak itu, aku dijauhi sebagian santri juga dicibir sebagian ustadz. Aku dikatakan sebagai pengikut aliran sesat dan menyesatkan. dhal al-mudhil. Bagaimana dengan sikap Ustadz Shiddiq?. Pada hari kamis, sehabis upacara pesantren (bai’at), aku lupa tanggalnya, aku dipanggil Ustadz Shiddiq untuk menemuinya di kantor. Ustadz tak mencibir juga tak menyesatkan. Ustadz malah tersenyum dan mengajak dialog seputar kajian yang aku ikuti.  Aku merasa nyaman berbagi ide dan pengalaman dengan Ustadz. Bagiku, Ustadz sangat bijaksana. Di akhir pembicaraan, Ustadz malah memberiku sebuah buku tentang makna jihad dan baiat yang sejati dalam Islam. Tanpa cibiran akhirnya saya kembali ke jalan yang benar. Dengan senyuman Ustadz, saya terhindar dari gerakan radikalisme.

Ketiga, kenanganku dengan Ustadz, adalah ketika perpisahan. Aku sudah lulus dan siap keluar dari pesantren. Ketika mau mengambil Ijazah, seluruh santri bersalaman dengan Ustadz. Tiba giliranku bersalaman dan berpelukan dengan Ustadz Shiddiq. Beliau memelukku dengan hangat. Pelukan yang masih terasa hingga kini. Ketika memelukku, beliau berpesan:

Rabbi Laa Tadzarni Fardaa. Yan, jangan biarkan Ustdaz sendiri di jalan dakwah,”.

Itulah pesan Ustadz yang hingga kini masih dan terus terngiang di telinga. Pesan abadi yang selalu dikenang.

Saya tak tahu pasti, apakah Ustadz membisikkan hal yang sama pada yang lain atau tidak. Yang saya tahu pasti, hingga kini, Ustadz tetap saja jadi idola saya. Ustadz dimataku adalah sosok ulama-cendekiawan PERSIS. Bila banyak ulama PERSIS yang tak bisa mengakses peradaban Barat, Ustadz memahami peradaban dan tradisi keilmuan serta wacana Barat dengan sangat memadai dan mumpuni. Bila banyak cendekiawan muda PERSIS yang mulai terbaratkan, Ustadz adalah pengingat dan pembimbing agar para cendikiawan itu tetap mendalami dan berpegang pada literatur dan turats Islam yang otoritatif.


Ustadz, semoga lekas sembuh..

Jakarta, Rabu, 14/10/2005

Oleh: Kang Yayan | Oktober 10, 2009

Keranda Jenazah

Maut yang tak terhindarkan telah tertanam sejak awal dalam struktur ontologis eksistensi. Setiap bayi lahir sudah berada di jalan kematian. Eksistensi manusia dapat didefinisikan sebagai Sein-zum-Tode, ada–menuju-kematian (Martin Heidegger, dalam Being and Time).

Setiap pulang dari kantor menuju kosan, di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, aku selalu melewati Mesjid Al-Mubarak. Seperti mesjid lainnya, selain kesejukan didalamnya, tak ada yang istimewa. Hanya ada satu hal yang selalu menarik perhatian, juga pikiranku. Yaitu Keranda Jenazah.

Keranda jenazah, selalu terlihat, karena berada di luar mesjid. Berwana hijau bertuliskan “Mesjid al-Mubarak“. Biasa juga, tak ada yang istemewa. Hanya, setiap kali aku melawati dan melihatnya, aku selalu tersadar akan kematian yang sedang menanti antrian. Entah berapa lagi manusia mengantri, hingga tiba giliranku untuk dijemput sang Izrail. Al-Qur’an surat Sajdah menyampaikan pesan:

“Dan mereka berkata, Apakah ketika kami telah lenyap (musnah) di dalam tanah, kami akan benar-benar menjadi ciptaan yang baru. Katakanlah: Malaikat maut ditugasi untuk menerimamu dan kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”

Setiap jiwa akan merasakan kematian (al-Quran Surat AliImran: 183)

Kematian, ungkap Syeikh Abbas al-Qummi, adalah ketika ruh meninggalkan badan, sebagaimana pelaut meninggalkan kapalnya yang karam. Atau, bagaikan secercah cahaya yang meninggalkan suatu tempat, dan membiarkannya menjadi padam atau gelap kembali, persis seperti saat ia belum masuk ke dalamnya.

Karena itu, setiap hari, aku sengaja melewati mesjid itu, walau ada jalan anternatif lain. Peringatan tak langsung dari keranda jenazah, terasa lebih menyengat dan sakti dibanding khutbah Jumat yang sering kali bikin ngantuk. Setiap melewatinya, aku selalu istighfar. Betapa banyak dosa yang sudah ditumpuk dan betapa kerdil amal baik yang baru dipupuk. Mungkin inilah yang dimaksud pemikir Rusia, Theodosius Dobzansky. Manusia mengetahui bahwa ia akan mati dan ia menghayati hidup seraya mengadapi maut.

Namun tentu, perasaan ini sangat dinamis. Seringkali kita, terutama aku, melupakan kematian jika terbuai dalam nikmatnya kehidupan. Kematian, dalam suasana ini, adalah hal yang mengerikan dan menakutkan. Sebab, sebagaimana kata J Paul Sartre, si filosof asal Perancis, garis hidup manusia tidak dapat dikatakan sebagai perjalanan menuju kematian, apalagi sebagai penantian (Erwaten) kematian. Paling-paling manusia hanya menunggu fakta bahwa ia harus mati, tetapi tidak pernah mengharapkan kematian. Setiap orang menemukan dirinya dalam kondisi yang sama, yaitu terkutuk untuk mati. Kata Sartre.

Memang, Al-Quran juga menyifati kematian sebagai musibah dan malapetaka sebagaimana tercermin dalam surat Al-Ma-idah ayat 106. Malapetaka ini ditujukan kepada manusia yang durhaka atau terhadap terhadap mereka yang ditinggal mati. Dalam arti bahwa kematian dapat merupakan musibah bagi orang-orang yang ditinggalkan sekaligus musibah bagi mereka yang mati tanpa membawa bekal yang cukup untuk hidup di negeri abadi.

Kalau sekuanya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar’ (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri)” (QS Al-Anfal: 50)

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata, ‘Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini, kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar, dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya” (QS Al-An’am: 93).

Aku tak bisa berkata seperti Socrates yang dikutip oleh Asy-Syahrastani dalam bukunya Al-Milal wa An-Nihal (I:297).

“Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.”

Satu hal yang pasti: Keranda jenazah, dan juga kematian itu, membuat aku sadar bahwa apa yang kumiliki tak ada yang abadi. Aku akan ditinggal mati orang terkasih. Aku juga akan meninggalkan jiwa tercinta dan harta benda yang semula hendak digenggam. Ku teringat kata Roger Garaudy yang berkata: kematian mengajarkan bahwa hidup manusia tidak terletak dalam ”memiliki”, karena kematian menghapus segala kepemilikan personal dan segala milik pribadi. Al-Qur’an berpesan:

“Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, sedang akhirat lebih baik bagi orang-orang bertakwa, dan kamu sekalian (yang bertakwa dan yang tidak) tidak akan dianiaya sedikitpun (QS Al-Nisa’: 77)

Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu daripada dunia (QS Al-Dhuha: 4).

Ya Allah, masukkan aku ke dalam golongan yang merindukan kematian sebagai jalan berjumpa dengan-MU. Ya Allah, hindarkan aku dari kelompok yang menakuti kematian dan menghadap-Mu dengan penuh kehinaan.

Oleh: Kang Yayan | Agustus 16, 2009

Harpan dari Bantar Gebang Bekasi

Harpan dari Bantar Gebang Bekasi


Harpan. Tentu bagi pembaca novel dan atau yang menyaksikan film Laskar Pelangi merasa kenal dengan nama itu. Sederhana tapi tangguh. Dalam segala keterbatasan, dia tegar memperjuangkan nilai pendidikan. Sabar namun penuh tanggungjawab pada lingkungannya. Harpan, tentu saja bukan hanya ada di Belitong tahun 1970-an. Diseluruh pelosok Nusantara yang dipenuhi kaum papa, ada ratusan Harpan. Mungkin juga, ribuan atau jutaan. Mereka mengabdi dan memberi dalam keterbatasan .

Sepeti Harpan di Beliotong, ada nama Rohendi di Bantargebang, Bekasi. Tiap hari, Roehendi berada di antara teriakan anak-anak yang berusia empat hinga sepuluh tahun. Anak-anak itu lahir dan berada di lingkungan para pemulung, Ciketing Udik.

Sore hari, di tengah anak-anak yang papa itu, Rohendi berdiri mengacungkan tangan. Nampak, dia sedang menawarkan sesuatu dengan telunjuknya. Bukan barang tapi ajakan. Anak-anak itu berebut mengajukan diri. Satu persatu anak-anak itu pun bergilir menghapal surat-surat dalam al-Qur’an. Rohendi, sedang mengajarkan mereka mengaji. Seperti gubuk sekolah Pak Harpan dari Belitong, Begitu juga Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) Al-Muhajirin yang diasuh Rohendi.

Sebelumnya, ketika matahari masih berada di puncak bumi, Rohendi berkumpul membahas persiapan wisuda murid-murid Taman Kanak-Kanak (TK). Wajahnya datar namun begitu ramah. Ruang reyot berbentuk persegi tempat “rapat” itu, menjadi saksi perjuangan Rohendi. Nampak Rohendi kelelahan, tapi wajahnya tetap dipenuhi senyuman. Udara panas yang menyengat, membuat Rohendi sering menelan ludah. Sesekali ia menikmati kacang kulit yang disajikan sang isteri, Ummi Kultsum.

Terasa gerah, Rohendi mengambil kertas. Dilipatnya ketas itu, lalu dikibaskan pada wajahnya yang penuh peluh. Peserta rapat lain yang menjadi penggerak Mushola Al-Muhajirin, Totok dan Alif, duduk di sudut ruang. Mereka membisu, menunggu Rohendi angkat bicara.

“Kita sudah tidak mempunyai donatur lagi,” kata Rohendi dengan berat.


“Guru-guru TPQ bisa-bisa ngga dapat uang bulanan lagi,” lanjut Rohendi dengan pancaran muka yang berubah: senyum pilu dan tatapan kosong.

*****

Di perkampungan pemulung Bantar Gebang, Bekasi, hanya Mushola yang dikelola Rohendi yang menggratiskan anak didiknya. Mushola itu berada 300 meter dari lautan sampah. Selain berada dalam gundukan sampah, Mushola ini juga dijadikan tempat lalat berkerumum. Bahkan, Mushola ini, sekarang terancam akan digusur.

Pikir Rohendi sederhana, jika Mushola ini musnah, maka lenyaplah “surga” buat belajar anak-anak dan juga ruang untuk mereka bermain. Selain itu, Mushola ini sering dijadikan tempat untuk Shalat Jumat bagi pemulung. Mushola ini juga menjadi penyokong pendidikan formal TK yang berada beberapa langkah dari Mushola. Hanya terhalang tiga rumah ke arah selatan.

Dengan Mushola itu juga, Rohendi menebar amal dan anak-anak dhuafa mengais ilmu. Banyak anak-anak kekurangan harta itu, sangup mengahapal surat-surat dalam al-Qur’an.

“Kak Hendi yang ngajarin,” kata Endeh, siswa kelas enam Sekolah Dasar (SD) yang pernah jadi juara lomba Tahfidz Qur’an mewakili TPQ Al-Muhajirin saat festival Ramadhan 1429, di Bantrgebang, Bekasi.


Bagi Rohendi, hidup di tempat busuk dan berada ditengah gundukan sampah bukanlah satu masalah. Yang terpenting baginya. Adalah keberdaan Mushola dan keberlangsungan pendidikan untuk anak-anak.

“Sudah biasa, sepuluh tahun tidur dalam gubuk bersama sampah,” kata Rohendi dengan balutan senyum lepas.

“Pendidikan itu harus diutamakan, lalu kesehatan, saya ingin mereka mendapatkan itu semua,” sambungnya dengan ramah.

*******

Sehari-hari, Rohendi memulai aktifitas sejak jam empat pagi hari. Setiap hari, Rohendi mengantarkan ibu-ibu belanja ke pasar. Ia bonceng di atas motornya. Rupiah kecil pun diterimanya. Pagi menjelang matahari meninggi, ia merapihkan sampah. Ia pilih dan pisahkan untuk ditimbang dan di jual. Nafkah buat istri harus tetap jalan dengan cara halal. Menjelang sore, Rohendi menuju TPQ binaannya. 70 anak sudah menanti untuk menimba ilmu darinya.

Bila di Belitong nama Harpan menjadi terkenal di pelosok nusantara berkat karya sang murid, Andrea Hirata. Di Bantargebang, nama Rohendi hanya dikenal sebatas lingkungannya. Namanya tak ada yang menyentuh. Nyaris terabaikan dan terbuang.

Kini, kita sudah tahu akan nama juga gambaran hidup dan perjuangannya. Apakah kita menjadi bagian orang yang bisu dan pura-pura tidak tahu? Atau terlibat dalam perjuangannya? Rohendi sudah membuktikan pengorbanan dalam segala keterbatasan. Kita, tingal memilih: membantu perjuangannya dengan segala kemampuan atau mengabikannya tapi termasuk golongan yang mendustakan agama seperti tergambar dalam surat al-Maun.

Yayan sopyani al-Hadi,
Untuk Majalah Matahati LAZIS PP Muhammadiyah.

Laporan: Wenny.

Oleh: Kang Yayan | Maret 4, 2009

Mari Belajar Dari Iran

Mari Belajar dari Iran

Dalam dua hari ini saya mendapatkan dua kabar yang sungguh merasuk dalam jiwa. Kabar pertama sangat memilukan hati, dan kabar kedua sangat membanggakan hati. Kabar pertama, adalah wafatnya ustdaz tercinta, KH. Entang Mukhtar di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Sungguh ini “al-naba al-Adhiem” bagi seluruh warga Persatuan Islam. Entah berapa lama lagi ada kader PERSIS yang mewariskan tradisi keilmuan dan keluasan wawasan Ustdaz Entang. Sungguh aku, ingin mencurahkan dan menumpahkan airmata dukacita atas wafatnya ulama ini, namun—sebagaimana kata Ustdaz Jalal dalam pengantar bukunya KH.A Lathief Mukhtar—aku berada ditengah-tengah orang yang mencela dan melarang untuk meratapi jenazah.

Kedua, berita yang membanggakan hati, adalah berita yang pertamakali aku dengar dari siaran berita BBC London yang dibawakan reporter Imogen Foulks. Berita sang Ahmadinejad.

Senin, 20/04/09—sebagaimana untuk yang kesekiankalinya—Ahmadinejad, Presiden Iran, kembali mengemukakan pendapatnya tentang Yahudi dalam Review Conference di Jenewa Swiss. Dalam konferensi Anti Rasisme PBB itu, Ahamadinejad mengatakan bahwa Yahudi adalah rezim rasis yang paling kejam. Pidato yang sejak awal memang ditolak Amerika, Belanda, Australia, Selandia Baru, Italia, Jerman dan Polandia ini, dikemudian ditinggalkan sekitar 30 Negara yang walkout. Namun, Sang Daud abad 21 itu, tetap menebarkan senyum khasnya pada khalayak sidang dan para Jalut yang geram. Presiden Iran itu menegaskan, Zionis Israel menggunakan peristiwa Holocaust sebagai dalih untuk mencuri tanah Palestina. Ahmadinejad menyebut Zionisme sebagai bentuk rasisme. “Menyusul Perang Dunia II, mereka memilih melakukan agresi militer untuk membuat seluruh bangsa kehilangan rumah mereka. Ini merupakan alasan palsu agar Yahudi dikasihani. Kemudian mereka mengirim warganya ke Eropa, AS, dan bagian lain di dunia ini untuk mengeksiskan pemerintahan rasis di wilayah jajahan Palestina, “ Sambung Ahmadinejad.

Walaupun ada sekitar 30 utusan negara yang walkout, lebih dari 4.500 wakil organisasi nonpemerintah (NGO) dan aktivis hak asasi manusia (HAM) meminta Presiden Iran untuk melanjutkan pidatonya. Para peserta terus memberikan tepuk tangan berulang kali hingga pidato Ahmadinejad selesei.
Esoknya (Selasa, 05/04/09), Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki moon menyayangkan pidato itu yang membuat delegasi beberapa negara beranjak dari kursi mereka. “Ini merupakan pengalaman yang kacau selama saya menjadi Sekjen. Ini benar-benar situasi yang tidak dapat diterima,” ungkap Ban dalam konferensi persnya.

Perwakilan Prancis mengatakan pidato Ahmadinejad adalah sebuah “pidato kebencian”. Sedangkan, delegasi Amerika mengatakan pidato itu sangat “keji”. Duta besar Inggris, Peter Gooderham yang juga salah satu yang meninggalkan ruang sidang, mengatakan sebuah retorika seperti ini tak memiliki tempat di manapun dalam sebuah konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa . Sementara di Jerusalem, Presiden Israel Shimon Peres menggambarkan pernyataan Ahmadinejad digambarkan sebagai sebuah “aib absolut”.

Ideologi Sang Singa dari Persia

Banyak orang yang kagum dan bangga pada Ahmadinejad. Sejak terpilih sebagai Presiden Iran, banyak kalangan mengelu-elukan beliau sebagai manusia besar nan gagah yang siap melawan para tiran yang bertengger dinegara adikuasa. Dan kesan itu tidak salah. Ahmadinejad membuktikan pada semua, dan khususnya pada dunia Islam, bahwa yang patut ditakuti hanyalah Allah SWT.

Sejak awal, sebagaimana banyak orang yang melihat Ahmadinejad, aku juga termasuk orang yang kagum. Namun kekagumanku tidak berhenti pada sosok sang Presiden. Kalau semua orang meyakini bahwa keyakinan sebagai pilar sikap dan perilaku seseorang, maka aku meyakini, bahwa ada keyakinan yang tangguh dibalik keberanian Ahmadinejad. Bangsa Iran, yang Cuma berpenduduk 70 juta jiwa begitu berani, pasti ada ideologi besar dibaliknya.
Negara Iran pasca Revolusi Islam 1979 memang lain. Revolousi Islam, yang menurut Ahmad Suhelmi, tidak hanya mengubah wajah bangsa iran, tetapi juga mengubah wajah dunia. Bahkan peneliti yang antipatipun, akan mengatakan dengan jujur bahwa Revolusi 1979 adalah bara api kebangkitan Islam. Terjadinya revolusi Islam Iran, seperti diakui Kang Fred Halliday dan Pak Amien Rais, bahkan mampu mengguncangkan teoro-teori ilmu pengetahuan modern. Pacsa revolusi, ilmu pengetahuan berkembang pesat di Iran. Iran berada diurutan teratas di Timur tengah, dan urutan ketujuh di Dunia, untuk tujuh bidang ilmu pengetahuan besar dunia, diantaranya fisika, kimia, biologi, matematika, . Pengembangan dan pembangunan infrastruktur terjadi disetiap sektor. Dalam kebudayaan, produksi film terus menggeliat; dengan ciri khasnya edukatif dan humanis. Sekarang kemajuan Iran bukan hanya pada nuklir namun sudah berhasil mengusasai apa yang disebut dengan teknologi air berat (Heavy Water). Sungguh menggoncangkan dunia barat.

Keberanian Iran melawan kaum dzhalim dan tiranik, bukan hanya dalam kata, tapi juga sudah menjadi laku. Setiap jum’at terakhir bulan Ramadhan, adalah media orang Iran untuk “menghajar Yahudi” dalam beragam aspek.
Dibalik keberanian dan kesuksesan Iran, mengapa kita tidak belajar pada Iran; Pada ideologi dan basis-basis keimanan- keislaman mereka.

Kalau Max Weber—dalam The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalisme—meyakini ada etika protestanisme dalam kemajuan kapitalisme Barat. Jika Robert N Bellah—penulis Beyond Belief—meyakini ada nilai-nilai ajaran Shinto dalam kemajuan Jepang . Aku meyakini keberanian Ahmadinejad dan Bangsa Iran karena dilandasi Basis Tauhid yang bermuara pada Rasulullah melalui sumber mataair pintu Ilmu Rasul dan siyasah ahlul baitnya. Aku juga yakin, bahwa kemajuan ilmu dan kesuksesan Bangsa Iran juga bermuara pada basis keilmuan Hikmah al-Muta’aliyyah yang sudah lepas dari dikotomi nalar bayan, burhan dan irfan.

Walau kita tidak setuju dengan cara “Islam” mereka, bukankah tidak ada keharaman untuk belajar menjadi “Islam” seperti mereka?

Salam Aliaka Ya Rasulullah SAWW

Oleh: Kang Yayan | Februari 16, 2009

Manifesto Kaum Kapitalis dan Hidangan Para Ekonom Liberal

Manifesto Kaum Kapitalis dan Hidangan Para Ekonom Liberal

Terhenyak! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kesadaran pikirku ketika membaca buku In Defence of Global Capitalism karya Johan Norberg. Buku ini merupakan terjemahan inggris dari edisi aslinya berbahasa Swedia Till Varldskapitalismens forsvar yang kemudian dialihbahasakan juga kedalam bahasa Jerman menjadi Das Kapitalische Manifest.

Buku ini terasa hot dilidah pikiran terutama bagi kita yang akrab dengan bukunya Das Caspital dan The Communist Manifesto-nya Karl Marx. Buku ini semakin nikmat dan lezat kalau dimulai dengan mencicipi rasanya The Inquiry into The Nature and Causes of The Wealth of Nations racikan Adam Smith dan On Principle of Political Economy and Taxation masakan David Ricardo. Untuk menetralisir rasa Norberg ini, agar tidak terlalu asin (bagi yang kurang selera), silahkan sertakan ramuan Joseph Stiglitz dan Paul Krugman, dua orang pemenang Nobel Ekonomi. Sesekali cicipi juga A Global Ethic for Global Politics ang Global Economic-nya Hans Kung. Jangan lupa ambil juga hidangan Pak Amien Rais, Agenda Mendesak Bangsa! Selamatkan Indonesia! Tentu, bagi yang sudah menikmati renyahnya The End Of Ideologi-nya Fukuyama, karya Norberg menambah gurih rasa liberalistik.

Selain nikmat (setuju atau tidak akan isinya), ditengah krisis global, buku ini merupakan pembelaan terhadap kapitalisme. Bagi anda para pembela ekonomi pasar, buku ini merupakan referensi yang sangat berharga, Bagi anda yang anti kapitalis dan menolak ekonomi liberal, sebagaimana aku, buku ini mejadi kawan berdebat yang sangat hangat dan juga nikmat. Disini aku tidak mengkritisinya, aku hanya menyajikan hidangan buat anda. Anda berselera atau tidak, itu hak anda.

Inilah beberapa resep dan sajian Norberg (tidak semua tulisannya disimpulkan disini, karena aku yakin, yang membaca blog, pasti ingin singkat-singkat)

Menurut Norberg, seringkali kritik terhadap globalisasai bukan berdasarkan argument yang kuat, melainkan pernyataan factual yang datar. Seringkali, kata Norberg, pernyataan bahwa 51 perekonomian terbesar di dunia berbentuk korporasi; atau bahwa setiap hari ada dana besar sekitar $1,5 Triliun yang berputar dipasar uang; seolah ukuran itu sendiri secara intrinsik sesuatu yang menakutkan dan berbahaya. Padahal, semua itu hanya aritmatika dan bukan argumen.

Kata Norberg, memang Globalisasai tidak akan menjadikan semua orang menjadi jetset global. Sebab kita tidak perlu menjadi jetset untuk menjadi bagian dari proses globalisasi. Menurut Norberg, dalam globalisasi, orang-orang miskin yang tidak memiliki kekuasaan, khususnya, akan menikmati peningkatan kesejahteraan yang pesat ketika barang-barang murah tidak lagi dirintangi bea masuk dan jika investasi asing dizinkan menciptakan lapangan kerja dan merampingkan proses produksi.

Mungkin, anda yang anti ekonomi pasar, akan mengajukan gugatan; bukankah dengan sistem ekonomi pasar terjadi kesenjangan yang menganga dan ketidaksetaraan yang meruncing? Bukankah ada fakta, bahwa 40 tahun lalu PDB perkapita gabungan 20 negara terkaya mencapai ukuran 15 kali dari PDB gabungan 20 negara miskin, dan sekarang meningkat sekitar 30 kali. Norberg menjawab, bahwa yang mempermasalahkan itu adalah mereka yang memandang kekayaan sebagai suatu persoalan yang lebih besar daripada kemiskinan. Kalaupun fakta itu benar, hal itu tidak banyak berpengaruh. Jika keadaan semua orang menjadi lebih baik, apa masalahnya kalau ada orang yang dapat meraihnya dengan cepat? Kedua, kata Norberg, sungguh salah bila kesenjangan meningkat. Angka-angka itu bermasalah sebab tidak dikoreksi sesuai daya beli. Angka-angka tersebut hanya menunjukkan nilai kurs resmi mata uang sebuah negara dan nilainya dipasar internasional, dan ini adalah alat yang buruk untuk mengukur kemiskinan.

Mungkin anda aktivis lingkungan hidup yang keberatan dengan kapitalisme dengan perusahaan multinasional dan perdagangan bebasnya yang merusak lingkungan hidup. Norberg justru membela, kita tidak bisa mengharapkan orang-orang miskin, untuk menempatkan kualitas lingkungan hidup sebagai prioritas mereka.

Dalam pandangan Norberg, kapitalisme berarti tidak ada seorangpun menjadi korban dari koersi orang lain. Termasuk pemerintah! Sebab jika harga dikendalikan pemerintah, maka akan terjadi kelangkaan. Dan, peringatan Norberg, mengapa penerintah dianggap lebih tahu daripada kita sendiri tentang apa yang kita mau dan apa yang kita anggap penting dalam hidup. Padahal satu-satunya cara menjadi kaya dipasar bebas adalah dengan memberi orang lain sesuatu yang dihasratinya, sesuatu yang untuk itu orang tersebut bersedia membayar secara sukarela. Kapitalisme juga mengharuskan agar orang diperbolehkan menyimpan sumberdaya yang ia peroleh dan ciptakan.

Dalam masyarakat yang kaliptalistik, semua orang yang memiliki gagasan dan keinginan kuat, dapat bebas mempertaruhkan peruntungannya, sekalipun mereka bukan favorit penguasa lokal. Kapitalisme menggoyang relasi kekuasaan dan mengemansipasi masyarakat dari cengkraman penguasa.

Mungkin, kata orang kiri dan juga yang anti kapitalisme, bukankah liberalisme ekonomi adalah ideologi orang kaya untuk mengukuhkan hak kepemilikannya? Norberg menjawab, secara empirik bukanlah orang kaya yang terutama memperoleh keuntungan dari perlindungan hak milik. Sebaliknya, dalam masyarakat tanpa hak kepemilikan yang stabil, yang paling dirugikan adalah warga negara yang paling rawan, sebab orang-orang yang berkuasa dan mempunyai koneksi yang mampu mengendalikan sumber-sumber daya.

Norberg mengingatkan bahwa kapitalisme yang dia maksud bukalah sistem ekonomi yang secara khusus mengatur kepemilikkan modal dan peluang investasi, karena hal tersebut juga bisa dijumpai dalam sistem ekonomi marxis. Yang dimaksud dia dengan kapitalis adalah ekonomi pasar liberal, dengan persaingan bebas berdasarkan hak, dimana orang dapat menggunakan hak milik dan memiliki kebebasan untuk bernegoisasi, membuat perjanjian dan memulai aktivitas bisnis.

Norberg mengingatkan, para kapitalis menjadi berbahaya ketika, alih-alih mencari keuntungan melalui kompetisi, mereka berkongsi dengan pemerintah. Kapitalis sejati, tidak mencari keuntungan dan hak istimewa melalui koridor-koridor kekuatan politis. Masalahnya, pengusaha seringkali ingin bermain politik, sementara politisi ingin bermain sebagai pebisnis. Padahal itu bukan ekonomi pasar tapi ekonomi campuran dimana pengusaha dan politisi saling mengacaukan peran masing-masing. Kapitalisme bebas, ingatnya, adalah ketika politisi menekuni politik liberal dan pegusaha menjalankan usaha.

Pemikir asal Swedia ini memberi catatan, bahwa kapitalisme yang sedang dia rayakan merupakan sistem yang mungkin akan terwujud ketimbang sistem ekonomi yang telah ada sekarang. Dan pada intinya, keyakinan terhadap kapitalisme adalah keyakinan terhadap kemanusiaan. Katanya.

Dan wasiat Norberg, para pengkritik globalisasi selalu piawai dalam hal menunjukan bahaya kapitalisme bagi individu seperti, penutupan pabrik, pemotongan gaji dan sebagaiya. Hal-hal seperti itu memang benar terjadi; namun dengan berpatokan pada contoh kasus semata, kita dapat kehilangan realitas yang lebih luas tentang cara kerja sistem politik atau ekonomi dan tentang nilai fantastis yang ditawarkan sistem tersebut bagi mayoritas masyarakat jika dibandingkan dengan alternatif-alternatif lain.

Persoalan selalu ditemui dalam setiap sistem politik dan ekonomi, tapi menolak semua sistem bukalah sebuah pilihan. Berburu contoh-contoh negatif yang dapat terjadi di ekonomi pasar cukup mudah dilakukan. Dengan cara ini air atau api dapat dibuktikan sebagai benda yang buruk dan jahat, karena orang dapat tenggelam atau terbakar, tetapi itu bukanlah gambaran seluruhnya.

 

 

 

 

Tulisan Sebelumnya »

Kategori