Oleh: Kang Yayan | Maret 4, 2009

Mari Belajar Dari Iran

Mari Belajar dari Iran

Dalam dua hari ini saya mendapatkan dua kabar yang sungguh merasuk dalam jiwa. Kabar pertama sangat memilukan hati, dan kabar kedua sangat membanggakan hati. Kabar pertama, adalah wafatnya ustdaz tercinta, KH. Entang Mukhtar di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Sungguh ini “al-naba al-Adhiem” bagi seluruh warga Persatuan Islam. Entah berapa lama lagi ada kader PERSIS yang mewariskan tradisi keilmuan dan keluasan wawasan Ustdaz Entang. Sungguh aku, ingin mencurahkan dan menumpahkan airmata dukacita atas wafatnya ulama ini, namun—sebagaimana kata Ustdaz Jalal dalam pengantar bukunya KH.A Lathief Mukhtar—aku berada ditengah-tengah orang yang mencela dan melarang untuk meratapi jenazah.

Kedua, berita yang membanggakan hati, adalah berita yang pertamakali aku dengar dari siaran berita BBC London yang dibawakan reporter Imogen Foulks. Berita sang Ahmadinejad.

Senin, 20/04/09—sebagaimana untuk yang kesekiankalinya—Ahmadinejad, Presiden Iran, kembali mengemukakan pendapatnya tentang Yahudi dalam Review Conference di Jenewa Swiss. Dalam konferensi Anti Rasisme PBB itu, Ahamadinejad mengatakan bahwa Yahudi adalah rezim rasis yang paling kejam. Pidato yang sejak awal memang ditolak Amerika, Belanda, Australia, Selandia Baru, Italia, Jerman dan Polandia ini, dikemudian ditinggalkan sekitar 30 Negara yang walkout. Namun, Sang Daud abad 21 itu, tetap menebarkan senyum khasnya pada khalayak sidang dan para Jalut yang geram. Presiden Iran itu menegaskan, Zionis Israel menggunakan peristiwa Holocaust sebagai dalih untuk mencuri tanah Palestina. Ahmadinejad menyebut Zionisme sebagai bentuk rasisme. “Menyusul Perang Dunia II, mereka memilih melakukan agresi militer untuk membuat seluruh bangsa kehilangan rumah mereka. Ini merupakan alasan palsu agar Yahudi dikasihani. Kemudian mereka mengirim warganya ke Eropa, AS, dan bagian lain di dunia ini untuk mengeksiskan pemerintahan rasis di wilayah jajahan Palestina, “ Sambung Ahmadinejad.

Walaupun ada sekitar 30 utusan negara yang walkout, lebih dari 4.500 wakil organisasi nonpemerintah (NGO) dan aktivis hak asasi manusia (HAM) meminta Presiden Iran untuk melanjutkan pidatonya. Para peserta terus memberikan tepuk tangan berulang kali hingga pidato Ahmadinejad selesei.
Esoknya (Selasa, 05/04/09), Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki moon menyayangkan pidato itu yang membuat delegasi beberapa negara beranjak dari kursi mereka. “Ini merupakan pengalaman yang kacau selama saya menjadi Sekjen. Ini benar-benar situasi yang tidak dapat diterima,” ungkap Ban dalam konferensi persnya.

Perwakilan Prancis mengatakan pidato Ahmadinejad adalah sebuah “pidato kebencian”. Sedangkan, delegasi Amerika mengatakan pidato itu sangat “keji”. Duta besar Inggris, Peter Gooderham yang juga salah satu yang meninggalkan ruang sidang, mengatakan sebuah retorika seperti ini tak memiliki tempat di manapun dalam sebuah konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa . Sementara di Jerusalem, Presiden Israel Shimon Peres menggambarkan pernyataan Ahmadinejad digambarkan sebagai sebuah “aib absolut”.

Ideologi Sang Singa dari Persia

Banyak orang yang kagum dan bangga pada Ahmadinejad. Sejak terpilih sebagai Presiden Iran, banyak kalangan mengelu-elukan beliau sebagai manusia besar nan gagah yang siap melawan para tiran yang bertengger dinegara adikuasa. Dan kesan itu tidak salah. Ahmadinejad membuktikan pada semua, dan khususnya pada dunia Islam, bahwa yang patut ditakuti hanyalah Allah SWT.

Sejak awal, sebagaimana banyak orang yang melihat Ahmadinejad, aku juga termasuk orang yang kagum. Namun kekagumanku tidak berhenti pada sosok sang Presiden. Kalau semua orang meyakini bahwa keyakinan sebagai pilar sikap dan perilaku seseorang, maka aku meyakini, bahwa ada keyakinan yang tangguh dibalik keberanian Ahmadinejad. Bangsa Iran, yang Cuma berpenduduk 70 juta jiwa begitu berani, pasti ada ideologi besar dibaliknya.
Negara Iran pasca Revolusi Islam 1979 memang lain. Revolousi Islam, yang menurut Ahmad Suhelmi, tidak hanya mengubah wajah bangsa iran, tetapi juga mengubah wajah dunia. Bahkan peneliti yang antipatipun, akan mengatakan dengan jujur bahwa Revolusi 1979 adalah bara api kebangkitan Islam. Terjadinya revolusi Islam Iran, seperti diakui Kang Fred Halliday dan Pak Amien Rais, bahkan mampu mengguncangkan teoro-teori ilmu pengetahuan modern. Pacsa revolusi, ilmu pengetahuan berkembang pesat di Iran. Iran berada diurutan teratas di Timur tengah, dan urutan ketujuh di Dunia, untuk tujuh bidang ilmu pengetahuan besar dunia, diantaranya fisika, kimia, biologi, matematika, . Pengembangan dan pembangunan infrastruktur terjadi disetiap sektor. Dalam kebudayaan, produksi film terus menggeliat; dengan ciri khasnya edukatif dan humanis. Sekarang kemajuan Iran bukan hanya pada nuklir namun sudah berhasil mengusasai apa yang disebut dengan teknologi air berat (Heavy Water). Sungguh menggoncangkan dunia barat.

Keberanian Iran melawan kaum dzhalim dan tiranik, bukan hanya dalam kata, tapi juga sudah menjadi laku. Setiap jum’at terakhir bulan Ramadhan, adalah media orang Iran untuk “menghajar Yahudi” dalam beragam aspek.
Dibalik keberanian dan kesuksesan Iran, mengapa kita tidak belajar pada Iran; Pada ideologi dan basis-basis keimanan- keislaman mereka.

Kalau Max Weber—dalam The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalisme—meyakini ada etika protestanisme dalam kemajuan kapitalisme Barat. Jika Robert N Bellah—penulis Beyond Belief—meyakini ada nilai-nilai ajaran Shinto dalam kemajuan Jepang . Aku meyakini keberanian Ahmadinejad dan Bangsa Iran karena dilandasi Basis Tauhid yang bermuara pada Rasulullah melalui sumber mataair pintu Ilmu Rasul dan siyasah ahlul baitnya. Aku juga yakin, bahwa kemajuan ilmu dan kesuksesan Bangsa Iran juga bermuara pada basis keilmuan Hikmah al-Muta’aliyyah yang sudah lepas dari dikotomi nalar bayan, burhan dan irfan.

Walau kita tidak setuju dengan cara “Islam” mereka, bukankah tidak ada keharaman untuk belajar menjadi “Islam” seperti mereka?

Salam Aliaka Ya Rasulullah SAWW

Oleh: Kang Yayan | Februari 16, 2009

Manifesto Kaum Kapitalis dan Hidangan Para Ekonom Liberal

Manifesto Kaum Kapitalis dan Hidangan Para Ekonom Liberal

Terhenyak! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kesadaran pikirku ketika membaca buku In Defence of Global Capitalism karya Johan Norberg. Buku ini merupakan terjemahan inggris dari edisi aslinya berbahasa Swedia Till Varldskapitalismens forsvar yang kemudian dialihbahasakan juga kedalam bahasa Jerman menjadi Das Kapitalische Manifest.

Buku ini terasa hot dilidah pikiran terutama bagi kita yang akrab dengan bukunya Das Caspital dan The Communist Manifesto-nya Karl Marx. Buku ini semakin nikmat dan lezat kalau dimulai dengan mencicipi rasanya The Inquiry into The Nature and Causes of The Wealth of Nations racikan Adam Smith dan On Principle of Political Economy and Taxation masakan David Ricardo. Untuk menetralisir rasa Norberg ini, agar tidak terlalu asin (bagi yang kurang selera), silahkan sertakan ramuan Joseph Stiglitz dan Paul Krugman, dua orang pemenang Nobel Ekonomi. Sesekali cicipi juga A Global Ethic for Global Politics ang Global Economic-nya Hans Kung. Jangan lupa ambil juga hidangan Pak Amien Rais, Agenda Mendesak Bangsa! Selamatkan Indonesia! Tentu, bagi yang sudah menikmati renyahnya The End Of Ideologi-nya Fukuyama, karya Norberg menambah gurih rasa liberalistik.

Selain nikmat (setuju atau tidak akan isinya), ditengah krisis global, buku ini merupakan pembelaan terhadap kapitalisme. Bagi anda para pembela ekonomi pasar, buku ini merupakan referensi yang sangat berharga, Bagi anda yang anti kapitalis dan menolak ekonomi liberal, sebagaimana aku, buku ini mejadi kawan berdebat yang sangat hangat dan juga nikmat. Disini aku tidak mengkritisinya, aku hanya menyajikan hidangan buat anda. Anda berselera atau tidak, itu hak anda.

Inilah beberapa resep dan sajian Norberg (tidak semua tulisannya disimpulkan disini, karena aku yakin, yang membaca blog, pasti ingin singkat-singkat)

Menurut Norberg, seringkali kritik terhadap globalisasai bukan berdasarkan argument yang kuat, melainkan pernyataan factual yang datar. Seringkali, kata Norberg, pernyataan bahwa 51 perekonomian terbesar di dunia berbentuk korporasi; atau bahwa setiap hari ada dana besar sekitar $1,5 Triliun yang berputar dipasar uang; seolah ukuran itu sendiri secara intrinsik sesuatu yang menakutkan dan berbahaya. Padahal, semua itu hanya aritmatika dan bukan argumen.

Kata Norberg, memang Globalisasai tidak akan menjadikan semua orang menjadi jetset global. Sebab kita tidak perlu menjadi jetset untuk menjadi bagian dari proses globalisasi. Menurut Norberg, dalam globalisasi, orang-orang miskin yang tidak memiliki kekuasaan, khususnya, akan menikmati peningkatan kesejahteraan yang pesat ketika barang-barang murah tidak lagi dirintangi bea masuk dan jika investasi asing dizinkan menciptakan lapangan kerja dan merampingkan proses produksi.

Mungkin, anda yang anti ekonomi pasar, akan mengajukan gugatan; bukankah dengan sistem ekonomi pasar terjadi kesenjangan yang menganga dan ketidaksetaraan yang meruncing? Bukankah ada fakta, bahwa 40 tahun lalu PDB perkapita gabungan 20 negara terkaya mencapai ukuran 15 kali dari PDB gabungan 20 negara miskin, dan sekarang meningkat sekitar 30 kali. Norberg menjawab, bahwa yang mempermasalahkan itu adalah mereka yang memandang kekayaan sebagai suatu persoalan yang lebih besar daripada kemiskinan. Kalaupun fakta itu benar, hal itu tidak banyak berpengaruh. Jika keadaan semua orang menjadi lebih baik, apa masalahnya kalau ada orang yang dapat meraihnya dengan cepat? Kedua, kata Norberg, sungguh salah bila kesenjangan meningkat. Angka-angka itu bermasalah sebab tidak dikoreksi sesuai daya beli. Angka-angka tersebut hanya menunjukkan nilai kurs resmi mata uang sebuah negara dan nilainya dipasar internasional, dan ini adalah alat yang buruk untuk mengukur kemiskinan.

Mungkin anda aktivis lingkungan hidup yang keberatan dengan kapitalisme dengan perusahaan multinasional dan perdagangan bebasnya yang merusak lingkungan hidup. Norberg justru membela, kita tidak bisa mengharapkan orang-orang miskin, untuk menempatkan kualitas lingkungan hidup sebagai prioritas mereka.

Dalam pandangan Norberg, kapitalisme berarti tidak ada seorangpun menjadi korban dari koersi orang lain. Termasuk pemerintah! Sebab jika harga dikendalikan pemerintah, maka akan terjadi kelangkaan. Dan, peringatan Norberg, mengapa penerintah dianggap lebih tahu daripada kita sendiri tentang apa yang kita mau dan apa yang kita anggap penting dalam hidup. Padahal satu-satunya cara menjadi kaya dipasar bebas adalah dengan memberi orang lain sesuatu yang dihasratinya, sesuatu yang untuk itu orang tersebut bersedia membayar secara sukarela. Kapitalisme juga mengharuskan agar orang diperbolehkan menyimpan sumberdaya yang ia peroleh dan ciptakan.

Dalam masyarakat yang kaliptalistik, semua orang yang memiliki gagasan dan keinginan kuat, dapat bebas mempertaruhkan peruntungannya, sekalipun mereka bukan favorit penguasa lokal. Kapitalisme menggoyang relasi kekuasaan dan mengemansipasi masyarakat dari cengkraman penguasa.

Mungkin, kata orang kiri dan juga yang anti kapitalisme, bukankah liberalisme ekonomi adalah ideologi orang kaya untuk mengukuhkan hak kepemilikannya? Norberg menjawab, secara empirik bukanlah orang kaya yang terutama memperoleh keuntungan dari perlindungan hak milik. Sebaliknya, dalam masyarakat tanpa hak kepemilikan yang stabil, yang paling dirugikan adalah warga negara yang paling rawan, sebab orang-orang yang berkuasa dan mempunyai koneksi yang mampu mengendalikan sumber-sumber daya.

Norberg mengingatkan bahwa kapitalisme yang dia maksud bukalah sistem ekonomi yang secara khusus mengatur kepemilikkan modal dan peluang investasi, karena hal tersebut juga bisa dijumpai dalam sistem ekonomi marxis. Yang dimaksud dia dengan kapitalis adalah ekonomi pasar liberal, dengan persaingan bebas berdasarkan hak, dimana orang dapat menggunakan hak milik dan memiliki kebebasan untuk bernegoisasi, membuat perjanjian dan memulai aktivitas bisnis.

Norberg mengingatkan, para kapitalis menjadi berbahaya ketika, alih-alih mencari keuntungan melalui kompetisi, mereka berkongsi dengan pemerintah. Kapitalis sejati, tidak mencari keuntungan dan hak istimewa melalui koridor-koridor kekuatan politis. Masalahnya, pengusaha seringkali ingin bermain politik, sementara politisi ingin bermain sebagai pebisnis. Padahal itu bukan ekonomi pasar tapi ekonomi campuran dimana pengusaha dan politisi saling mengacaukan peran masing-masing. Kapitalisme bebas, ingatnya, adalah ketika politisi menekuni politik liberal dan pegusaha menjalankan usaha.

Pemikir asal Swedia ini memberi catatan, bahwa kapitalisme yang sedang dia rayakan merupakan sistem yang mungkin akan terwujud ketimbang sistem ekonomi yang telah ada sekarang. Dan pada intinya, keyakinan terhadap kapitalisme adalah keyakinan terhadap kemanusiaan. Katanya.

Dan wasiat Norberg, para pengkritik globalisasi selalu piawai dalam hal menunjukan bahaya kapitalisme bagi individu seperti, penutupan pabrik, pemotongan gaji dan sebagaiya. Hal-hal seperti itu memang benar terjadi; namun dengan berpatokan pada contoh kasus semata, kita dapat kehilangan realitas yang lebih luas tentang cara kerja sistem politik atau ekonomi dan tentang nilai fantastis yang ditawarkan sistem tersebut bagi mayoritas masyarakat jika dibandingkan dengan alternatif-alternatif lain.

Persoalan selalu ditemui dalam setiap sistem politik dan ekonomi, tapi menolak semua sistem bukalah sebuah pilihan. Berburu contoh-contoh negatif yang dapat terjadi di ekonomi pasar cukup mudah dilakukan. Dengan cara ini air atau api dapat dibuktikan sebagai benda yang buruk dan jahat, karena orang dapat tenggelam atau terbakar, tetapi itu bukanlah gambaran seluruhnya.

 

 

 

 

Oleh: Kang Yayan | Februari 10, 2009

Dialog Bersama Bill Rammell

Dialog Bersama Bill Rammell

10 Februari 2009

 

Hari ini aku menghadiri sebuah dialog yang sangat menarik perhatian sekaligus menyesakkan dada. Dialog ini diadakan di CDCC (Centre for Dialogue and Cooperation amongst Civilizations), yang diketuai oleh Prof. Dr. Dien Syamsudien, MA. Tak tanggung, yang hadir Bill Rammell, Menteri Negara Inggris di Kantor Kementrian Luar Negeri dan Persemakmuran.

 

Bill Rammell memang sedang berkunjung ke Indonesia selama dua hari (9-10 Februari 2009) untuk melanjutkan hubungan persahabatan antara pemerintah Inggris dan Indonesia. Di Indonesia, beliau bertemu dengan Hassan Wirajuda.

 

Dalam dialog di CDCC yang bertemakan Kebijakan Luar Negeri Inggris di Timur Tengah itu ada beberapa hal yang disampaikan Rammell namun hanya tiga point yang menjadi perhatianku.

 

Pertama, Rammell mengakui bahwa Jakarta-London adalah sama-sama kota kosmopolitan dengan sejarah yang sangat panjang dan Inggris-Indonesia memiliki kesamaan sebagai dua negara demokratis yang dinamis. Rammell juga mengagumi semboyan Bhineka Tunggal Ika sebagai simbol masyarakat yang multi-budaya dan multi-agama. Bahkan Rammell mengatakan: “Kami, di Inggris tidak memiliki semboyan nasional—namun seandainya kami memilikinya, saya tidak bisa memikirkan semboyan yang lebih baik bagi kami. Bhineka tunggal Ika merupakan gagasan yang layak mendapatkan tempat yang lebih besar. Suatu gagasan yang bisa ditularkan oleh bangsa Indonesia keberbagai belahan dunia lainnya”

 

Kedua, berkaitan dengan perang Gaza. Menurut Rammel, Negara Inggris telah berperan aktif dari sejak awal dalam menyerukan genjatan senjata. Rammell mengatakan: ”Kami mengutuk semua serangan HAMAS terhadap penduduk sipil Israel—namun pandangan kami, respon militer Israel tidak proporsional”

 

Ketiga, dalam hal terorisme. Rammell berkomitmen untuk bekerjasama dengan Indonesia dalam mencegah terorisme dan mencegah orang menjadi teroris. Bagi Rammell, memperkuat suara kaum moderat merupakan solusi untuk mengurangi ektrimisme yang menjurus kepada prilaku treror.

 

Dari ketiga point yang menjadi perhatianku, point pertama, betapa aku bangganya pada Bung Karno dan pendiri republik ini. Pada point kedua, mendadak dadaku menjadi sesak dan aku menjadi sangat kesal dengan sang Menteri ini sebab dia berpendapat bahwa konflik di Gaza adalah kesalahan HAMAS. Dan point ketiga, adalah bagian dari pemikiranku yang belum usai…

 

Mungkin, saudaraku, punya penilaian yang berbeda….

 

 

 

Oleh: Kang Yayan | Februari 10, 2009

Uji Publik Visi Masa Depan CALEG Aktivis dan Kaum Muda

Uji Publik Visi Masa Depan CALEG Aktivis dan Kaum Muda

1 Februari 2009

Setelah mendapat undangan dari Bang Budiman Sudjatmiko melalui pesan singkat, hari minggu tanggal 1 februari 2009 aku meluncur menuju restoran Koetardaja daerah Senen. Di Tempat itu akan digelar acara Uji Publik Visi Masa Depan Caleg Aktis dan Kaum Muda yang diselenggrakan oleh CIRUS dan LIMA Nas. Nampak sudah hadir didepan sebagai pihak yang ’diuji’, Budiman Sudjatmiko sendiri (PDIP), Asep Supriyatna (PAN), Nova Riyanti Yusup (PD), Ahmad Wakil Kamal (PPP), Iwan Dwi Laksono (PKB), dan Rama Pratama (PKS). Sementara dari pihak panelis, ada Chalid Muhammad dan Andrinof Chaniago, boss-nya CIRUS. Acara semakin hangat dengan dimoderatori oleh Ridaya Laodengkowe.

Sesi pertama, pemaparan visi misi sang caleg dengan bentuk yang elaboratif. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab sesama caleg dengan bentuk menyerang lawan, dan sesi defensif dari masing-masing terhadap serangan yang diajukan. Terakhir, sesi tanya jawab dengan audiens.

Melihat kesiapan setiap caleg, memang nampak bahwa mereka sudah siap, walau masih nampak beberapa kekurangan. Aku tidak perlu lagi mengemukakan tentang isi dan materi yang didiskuskusikan, sebab hampir sama saja. Yang jelas, dalam sisi idealitas, mereka sudah sangat memadai. Tentu, aku sangat berharap bahwa apa yang mereka kemukakan adalah apa mereka niatkan dan tekadkan. Yang disesalkan, hampir semua dari mereka tidak punya uang untuk kampanye.

Setelah acara usai, aku sedikit berbincang dengan Bang Budiman sambil makan siang. Sebelum berpisah, aku diberi dua buku oleh beliau.


Oleh: Kang Yayan | Februari 9, 2009

Tiga Jam Bersama Rizal Ramli

Tiga Jam Bersama Rizal Ramli

14 Januari 2009

Walau hujan terasa mengguyur kota Jakarta, kami tetap berjalan. Karena hari ini, kami akan bertemu dengan Sang Lokomotif Perubahan, Mantan Kabulog, Mantan Menteri Perekonomian di Era Presidan Abdurrahman Wahid dan Mantan Dirut Semen Gresik. Dialah Rizal Ramli.

Sesampai di rumahnya yang asri dijalan Bangka sekitaran Kemang, kami berbincang hangat. Bukan hanya dijamu dengan teh hangat, tapi juga arah pembicaraan dan gaya bicara Pak Rizal Ramli yang sangat menggairahkan.

Pertama beliau mengemukakan tentang Muhammadiyah dan NU menurut pandangannya dan pandangan Gus Dur . Dilanjut, beliau bercerita tentang pengalamannya waktu menjabat di pemerintahan sampai cerita lucu waktu jadi pembantu sang Presiden Gus Dur. Beliau juga memaparkan tentang sistem perekonomian yang menjadi kiblat presiden SBY. Apa yang beliau ’ceramahkan’ tak perlu lagi di urai disini, karena dengan cukup membaca bukunya, insyaAllah terpuaskan. Sesekali beliau ’curhat’ tentang masalah kasus demo yang akhirnya menyeret beliau ke pengadilan. Terakhir beliau berbicara tentang perspektif masa depan pemimpin Indonesia di PEMILU 2009.

Tak terasa, waktu berbincang sudah tiga jam. Perbincangan yang menarik, mengguncang kesadaran, mengelorakan jiwa aktifis, dan menggairahkan nalar. Sebelum berpisah, beliau memberikan bukunya. Selain membubuhkan tandatangganya, beliau menulis: Yayan, Salam Perjuangan..

Salam Perjuangan Pak Rizal…..

Tulisan Sebelumnya »

Kategori